Terpukul Dampak Pandemi, Sektor Pariwisata Diprediksi Baru Pulih 2024

Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dinilai masih sulit bangkit karena terganjal sejumlah pembatasan selama pandemi, salah satunya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 1-4.
Image title
30 Agustus 2021, 18:15
Pandemi, dampak Covid-19, pariwisata
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Sejumlah pengunjung menikmati eksotisme pemandangan Labuan Bajo menggunakan Kapal cep salah satu alternatif lain untuk menyebrang selain kapal pinisi yang menjadi salah satu pilihan terbaik untuk mengunjungi destinasi favorit di Labuan Bajo, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Pandemi COVID-19 yang menghantam sektor pariwisata, membuat pemerintah terus melakukan penataan di kawasan Labuan Bajo dengan harapan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan pariwisata yang menurun saat ini. Selain itu, pemerintah ju

Pariwisata menjadi salah satu sektor yang terkena dampak langsung pandemi Covid-19. Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman, mengatakan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) baru akan pulih sepenuhnya pada 2024 mendatang.

Dicky menjelaskan, tahun ini parekraf masih berada di fase bertahan atau survival dari pandemi. Sektor parekraf dinilai masih sulit bangkit karena terganjal sejumlah pembatasan selama pandemi, salah satunya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 1-4.

Selanjutnya, tahun depan sektor parekraf diprediksi akan memasuki fase kelola pemulihan. Di mana, pembukaan destinasi wisata difokuskan kepada wisatawan domestik sekitar 80% dan mancanegara 20%.

Lalu pada 2023, kunjungan wisatawan ke tempat pariwisata dapat ditingkatkan menjadi 100% untuk wisatawan domestik dan 50% untuk wisatawan mancanegara. Kemudian pada 2024, sektor pariwisata diproyeksikan pulih sepenuhnya dari dampak pandemi Covid-19, baik wisatwan domestik maupun wisatawan mancanegara dapat mengunjungi tempat-tempat wisata dengan kapasitas 100%.

“Proyeksi ini tidak terlalu optimis, tidak terlalu pesimis, tapi realistis yang banyak dianut negara-negara maju,” kata Dicky dalam konferensi pers virtual, Senin (30/8).

Dalam langkah pemulihan sektor parekraf, baik pemerintah maupun pelaku parekraf harus dapat mengadopsi standar global kesehatan, harmonisasi dan digitalisasi. Upaya tersebut untuk mengurangi risiko penyebaran Covid-19 di destinasi wisata, diantaranya dengan menerapkan test positivity rate kurang dari 5%, tidak mengharuskan wisatawan melakukan karantina jika sudah melakukan test PCR dan rapid test antigen dengan hasil negatif, serta sudah divaksinasi dosis lengkap.

“Kalau bicara potensi paparan, itu ada di test positivity rate, bukan hanya sekedar semua orang sudah divaksin. ketika test positivity rate mendekati level yang dikatakan terkendali, disitulah kita bisa sangat confident (membuka pariwisata),” kata dia.

Dicky menambahkan, berbagai upaya tersebut sangat penting dilakukan untuk memastikan indikator epidemiologi masuk dalam indikator pemulihan sektor pariwisata, namun harus dipastikan indikatornya sudah tepat.

“Karena pada indikator yang disampaikan bisa saja terlihat tren penurunan, tapi kalau tidak tepat itu tidak merepresentasikan kejadian sesungguhnya di masyarakat,” ujar dia.

Menurutnya, indikator epidemiologi yang harus dipenuhi antara lain, test positivity rate di sekitar destinasi wisata di bawah 5%, kasus harian terus mengalami penurunan dalam sepanjang 7 hari, turunnya jumlah hunian pasien Covid-19 di ICU, angka kematian, dan cakupan vaksinasi lengkap.

Adapun, untuk proses pemulihan sektor pariwisata harus memerhatikan beberapa aspek di antaranya, aspek wisatawan, aspek destinasi, aspek transportasi, dan aspek promosi.

Ia menjelaskan, pengunjung yang datang harus dipastikan memiliki risiko kecil terpapar atau memaparkan virus, jumlah test positivity rate di suatu destinasi wisata juga harus rendah. Selain itu, transportasi yang digunakan perlu memiliki risiko paparan paling rendah, serta adanya jaminan kesehatan yang jelas, seperti disediakannya sentra vaksinasi di destinasi wisata atau adanya fasilitas layanan kesehatan yang memadai.

“Jangan terlalu dipermasalahkan sampai kapannya pandemi ini akan berakhir, yang jelas ini akan selesai. Tapi bukan berarti dalam status pandemi kita tidak bisa apa-apa, banyak negara yang bisa melakukan aktivitas pendidikan, pariwisata, dan sebagainya,” ujarnya.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait