Pasang Target 60 Ha di 2021, Marketing Sales SSIA per Mei Baru 12,5%

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) catatkan pra penjualan lahan seluas 7,5 ha ke perusahaan teknologi regional dengan harga rata-rata US$ 123 per meter persegi (psm) atau sekitar Rp 129,2 miliar.
Image title
23 Juni 2021, 15:44
Pekerja menyelesaikan pembangunan gedung rektorat di Universitas Islam Internasional Indonesia, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Senin (25/1/2021). Pemerintah menargetkan konstruksi utama kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) rampung pada J
ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/aww.
Pekerja menyelesaikan pembangunan gedung rektorat di Universitas Islam Internasional Indonesia, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Senin (25/1/2021). Pemerintah menargetkan konstruksi utama kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) rampung pada Juni atau Agustus 2021 dan kemudian siap menerima mahasiswa juga pada tahun ini.

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) catatkan pra penjualan lahan seluas 7,5 hektare (ha) ke perusahaan teknologi regional dengan rata-rata harga penjualan US$ 123 per meter persegi (psm) atau senilai Rp 129,2 miliar. Tahun ini SSIA memasang total target marketing sales  sebanyak 60 ha.

Rencananya, sebanyak 20 ha marketing sales akan diperoleh dari Suryacipta City of Industry Karawang. Sedangkan untuk 40 ha penjualan lahan diperoleh dari pengembangan baru, Subang Smartpolitan di 2021. Dengan begitu, harapannya prospek pendapatan sepanjang 2021 bisa tumbuh 15%.

“Target tersebut dapat terkena dampak, jika Covid-19 bertambah buruk atau diperpanjang hingga 2021,” kata VP Head of Investor Relations Erlin Budiman dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (23/6).

Sayangnya, kinerja emiten di kuartal pertama tahun ini cenderung lesu. Sepanjang Januari-Maret 2021, SSIA membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 447,1 miliar. Capaian tersebut turun 49,3% dari Rp 882,0 miliar dari periode yang sama tahun lalu.

Advertisement

“Penurunan terutama karena pendapatan konstruksi dan perhotelan yang masing-masing turun sebesar 47,7% dan 78,5%,” ujarnya.

Sementara itu, pendapatan segmen bisnis properti SSIA meningkat sekitar 12,2%. Adapun untuk laba kotor SSIA di kuartal pertama turun 58,9% yoy menjadi Rp 73,9 miliar karena penurunan laba kotor perhotelan sebesar 94,6%.

Sementara itu, EBITDA Januari-Maret 2021 turun 105,8% yoy menjadi Rp -3,7 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni Rp 64,1 miliar. Penurunan tersebut karena turunnya EBITDA perhotelan sebesar 413,2%. Alhasil, rugi bersih konsolidasi SSIA meningkat 348,2% menjadi Rp 78 miliar di kuartal pertama 2021.

“Tekanan laba bersih disebabkan penurunan laba operasional sekitar 141,0% dan peningkatan beban bunga sekitar 6,3% menjadi Rp 50 miliar,” ujarnya.

Adapun posisi kas perseroan untuk kuartal pertama 2021 mencapai Rp 799,5 miliar, turun 6% dari posisi kas sepanjang 2020 yang berkisar Rp 850 miliar. Sedangkan utang kena bunga mencapai Rp 2,01 triliun dan menciptakan rasio utang/ekuitas (gearing ratio) 48,1%.

Melansir RTI, jelang penutupan perdagangan hari ini, saham SSIA cenderung menguat 0,44% di level Rp 460 per saham dari harga penutupan kemarin yakni Rp 458 per saham.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait