Dikecam, Teror terhadap Jurnalis dan Media yang Beritakan TWK KPK

Ancaman terjadi tak berselang lama setelah sejumlah media berkolaborasi untuk menerbitkan liputan investigasi terkait Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara serentak pada awal pekan ini.
Image title
Oleh Lavinda
9 Juni 2021, 13:48
Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) mengecam aksi teror, ancaman kekerasan, dan peretasan yang dialami jurnalis dan media yang tergabung dalam IndonesiaLeaks (IL).
Katadata/123rf
Ilustrasi Investigasi

Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) mengecam aksi teror, ancaman kekerasan, dan peretasan yang dialami jurnalis dan media yang tergabung dalam IndonesiaLeaks (IL).  

Ancaman terjadi tak berselang lama setelah sejumlah media berkolaborasi untuk menerbitkan liputan investigasi terkait Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara serentak pada awal pekan ini. Liputan investigasi membahas dugaan bahwa KPK telah lama membuat daftar nama 75 pegawai KPK untuk disingkirkan melalui Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

 "Komite mengecam segala bentuk teror terhadap jurnalis dan media yang menjalankan kerja-kerja jurnalistiknya," ujar Wakil Ketua Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Ridwan Lapasere dalam keterangan tertulisnya, Rabu (9/6).

KKJ menilai rangkaian teror terhadap jurnalis dan media itu merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap jurnalis yang dilindungi Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Menurut Komite, segala bentuk protes dan keberatan terhadap berita harus ditempuh melalui mekanisme yang telah diatur UU, yakni melalui hak jawab, hak koreksi atau mengadukan ke Dewan Pers.

Advertisement

Berdasarkan kronologi yang disampaikan AJI, sebanyak empat orang mengikuti narasumber dan jurnalis IndonesiaLeaks saat berada di kantor Tempo, Jakarta, pada Jumat (28/5). Belakangan mereka mengaku dari Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Selatan. Selain itu, ada beberapa orang tak dikenal memfoto jurnalis Indonesia Leaks saat mewawancarai narasumber di Café Malik And Co, Sabang, Jakarta Pusat, Senin (31/5).

Menurut Ridwan, ada upaya peretasan para situs Indonesia Leaks, Jumat (28/5), ada tindakan penghapusan thread yang dibuat di akun Twitter Indonesia Leaks, Minggu (6/6), serta upaya mengambil alih akun Instagram Tempo.co, Senin (7/6).

Tak hanya itu, beberapa koordinator tim liputan investigasi juga mendapat pesan mencurigakan dari nomor tidak dikenal melalui aplikasi WhatsApp. Pesan dikirim sebelum naskah IndonesiaLeaks terbit, pukul 03.44 Wib, Minggu (6/6).

Teror belum selesai, selanjutnya akun Instagram rumah produksi film WatchDoc Documentary juga diretas pada Minggu (6/6). Akun Instagram WatchDoc berubah menjadi watchwatchwatchhehe, dan tak ada unggahan sama sekali dari akun tersebut. Padahal sebelumnya, Watchdoc aktif mengunggah produk dan kegiatannya di sana.

Peretasan ini seiring dengan rilis film dokumenter terbarunya yang berjudul KPK End Game. Film menampilkan keterangan para pegawai KPK yang dinyatakan tak lolos TWK.

Pada Senin (7/6), sejumlah media menerbitkan laporan investigasi terkait dugaan bahwa KPK sengaja merancang TWK sejak awal untuk membuang pegawai yang berseberangan dengan pimpinan KPK.

Pasalnya, proses penyusunan peraturan tentang tes tersebut juga janggal, dengan metode dan parameter kelulusan TWK yang tidak jelas. Daftar nama 75 pegawai disebut-sebut sudah ada jauh sebelum ide TWK muncul belakangan, saat pembahasan akhir peraturan komisi (Perkom) ihwal alih status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Peran ketua KPK, Firli Bahuri disebutkan cukup kuat untuk memaksa ketentuan soal tes wawasan kebangsaan dalam aturan tersebut. Kemudian, draft aturan dibawa ke Kementerian Hukum dan HAM untuk diundangkan.

 

Sebagai informasi, KKJ terbentuk pada April 2019 dengan beranggotakan 10 organisasi pers dan organisasi masyarakat sipil. Organisasi tersebut antara lain, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers, SAFEnet, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI).

Selain itu, Federasi Serikat Pekerja Media Independen (FSPMI), Amnesty International Indonesia, Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI), dan  Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait