Hari Ini Bukalapak Masuk Bursa, IPO Terbesar di RI Rp 21,9 T

IPO Bukalapak dipastikan akan menambah kapitalisasi pasar modal maksimal sebesar Rp 87,6 triliun.
Image title
Oleh Lavinda
6 Agustus 2021, 08:30
PT Bukalapak.com akan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (6/8) hari ini,
Katadata/Desy Setyowati
Founder dan CEO Bukalapak Achmad Zaky dalam konferensi pers ulang tahun ke-9 Bukalapak di Jakarta, Kamis (10/1).

PT Bukalapak.com akan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (6/8) hari ini, melalui skema penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Nilai penawarannya mencapai Rp 21,9 triliun, terbesar sepanjang sejarah.

Nilai IPO Bukalapak berasal dari penawaran seabanyak 25,76 miliar unit saham biasa yang mewakili 25% dari seluruh modal setelah IPO. Harga saham yang baru yang ditawarkan kepada masyarakat tersebut senilai Rp 850 per saham.

IPO ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. Berdasarkan data yang dimiliki Katadata.co.id, sebelum ada Bukalapak, nilai fund raising terbesar dari IPO dipegang oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Listing pada Juli 2008, perusahaan milik pebisnis Garibaldi Thohir ini mampu meraup Rp 12,25 triliun, dengan kapitalisasi pasar Rp 35,18 triliun.

Di urutan berikutnya, ada PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang IPO pada Oktober 2010 dan berhasil meraup Rp 6,29 triliun. Entitas Grup Salim ini memiliki kapitalisasi pasar Rp 31,45 triliun. Perusahaan berikutnya, ada PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang IPO pada Agustus 2008 dan berhasil meraup dana dari IPO senilai Rp 5,55 triliun dengan kapitalisasi pasar perusahaan Rp 19,33 triliun.

PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN) milik pengusaha Samin Tan memperoleh dana Rp 5,17 triliun saat pencatatan pada November 2010. Perusahaan yang kini tak lagi diperdagangkan (delisting) di pasar modal itu sempat memiliki kapitalisasi pasar Rp 20,70 triliun.

PT Waskita Precast Tbk (WSBP) yang listing pada September 2016 berhasil meraih dana Rp 5,16 triliun, dengan kapitalisasi pasar Rp 12,91 triliun. Selanjutnya, perusahaan pengelola rumah sakit, PT Mitra Keluarga Tbk (MIKA) memperoleh dana sebesar Rp 4,45 triliun pada Maret 2015, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 24,73 triliun.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang melantai di bursa saham pada November 2003 mencetak nilai penawaran fantastis saat itu, sebesar Rp 4,17 triliun dan kapitalisasi pasar Rp 11,35 triliun. Perusahaan pelat merah lain, PT Telkom Indonesia (Persero) tbk juga memiliki nilai penawaran fantastis saat IPO November 1995, yakni sebesar Rp 3,83 triliun dan kapitalisasi pasar Rp 19,56 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna menyampaikan Bukalapak dipastikan akan menambah kapitalisasi pasar modal maksimal sebesar Rp 87,6 triliun. Saat ini, total nilai kapitalisasi pasar modal Tanah Air tercatat mencapai Rp 7.279 triliun. 

"Kapitalisasi pasar akan bertambah Rp 77,3 triliun sampai Rp 87,6 triliun saat Bukalapak listing. Tergantung penawaran harganya Rp 750 - Rp 850 per saham," ujar Nyoman, Rabu (28/7).

Menurut dia, unicorn berpotensi menghimpun dana hasil penawaran saham dalam jumlah besar karena jangkauan investor unicorn cukup luas. Ke depan, hal ini akan meningkatkan partisipasi investor lokal dan asing, baik retail maupun institusi.

"Hal terpenting juga, IPO unicorn dapat menciptakan SID baru. Kami berharap jumlah investor terus bertambah," katanya.

Sebelumnya, BEI menyampaikan nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia bisa bertambah hingga Rp 553,9 triliun jika enam unicorn yang ada di Indonesia mencatatkan sahamnya di bursa nasional. 

Aditya Nugraha, Kepala Unit Pengembangan Startup dan SME BEI menyampaikan nilai itu tercatat 7,69% dari total kapitalisasi pasar yang ada saat ini sebesar Rp 7.279 triliun. Asumsi nilai kapitalisasi itu berdasarkan perkiraan nilai valuasi terkini dan data kapitalisasi pasar per 16 Juli 2021.

Sejumlah perusahaan unicorn yang ada di Indonesia antara lain, Bukalapak, Traveloka, J&T Express, JD.id, dan OVO. Sementara itu, perusahaan gabungan antara Gojek Indonesia dan Tokopedia, GoTo, kini masuk ke dalam jajaran decacorn. 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait