Menakar Nasib IPO Unicorn dari Turbulensi Harga Saham Bukalapak

Analis menilai perhitungan perusahaan teknologi seperti Bukalapak tidak bisa hanya mengandalkan laporan keuangan di atas kertas saja, tetapi juga potensi valuasi di masa mendatang.
Image title
13 Agustus 2021, 20:10
Bukalapak, Saham Bukalapak, IPO Bukalapak
Bukalapak
Bukalapak

Penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) unicorn digadang-gadang menjadi oasis di tengah pandemi Covid-19 yang melanda pasar modal Tanah Air. Meski begitu kinerja saham unicorn pertama yang melantai, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), mengalami turbulensi sejak IPO.

Bukalapak melepas 25,76 miliar saham baru atau sekitar 25%, dengan harga penawaran Rp 850 pada 6 Agustus 2021. Optimisme investor terlihat pada hari pertama melantai di bursa pada Jumat (6/8), ketika harga sahamnya langsung menguat 24,71% menjadi Rp 1.060. Namun, pada hari perdananya, asing menjual dengan nilai bersih Rp 279,8 miliar.

Pada perdagangan hari kedua, Senin (9/8), harga saham Bukalapak ditutup menguat 4,72% menjadi Rp 1.110. Namun, penguatan itu terbatas dibandingkan awal perdagangan yang sempat naik 25% menjadi Rp 1.325. Investor asing lagi-lagi menjual dengan nilai bersih Rp 685,02 miliar.

Tampaknya, penguatan yang mulai terbatas tersebut menjadi sinyal penurunan harga saham Bukalapak pada hari-hari berikutnya. Pada Selasa (10/8), harga saham Bukalapak langsung anjlok dan ditutup turun 6,76% menjadi Rp 1.035. Kala itu, investor asing menjual saham perusahaan e-commerce ini dengan nilai bersih mencapai Rp 166,8 miliar.

Setelah perdagangan libur pada Rabu, 12 Agustus 2021, saham Bukalapak mengalami penurunan signifikan lagi sebesar 6,76% menjadi Rp 965 pada hari berikutnya. Kali ini, investor asing melakukan penjualan dengan nilai bersih bahkan mencapai Rp 880,67 miliar.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Agustus 2021, harga saham Bukalapak kembali ditutup turun. Kali ini terjadi penurunan sebesar 1,04% menjadi Rp 955 per saham. Hari ini, terlihat investor asing mulai kembali masuk ke saham ini dengan nilai beli bersih Rp 310 miliar di seluruh pasar.

Sepekan di bursa, saham Bukalapak secara total mampu naik 12,35% menjadi Rp 955. Meski begitu, investor asing tercatat berbondong-bondong menjual saham Bukalapak. Tercatat sejak IPO di pasar modal, investor asing telah menjual saham anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) ini dengan nilai bersih Rp 1,71 triliun di seluruh pasar.

Meski harga fluktuatif, saham Bukalapak nyatanya diminati oleh banyak investor. Hal itu terlihat dari volume, nilai, dan frekuensi transaksi pada saham Bukalapak yang mampu menempati puncak dibanding emiten-emiten lainnya.

Berdasarkan data RTI Infokom, total volume saham Bukalapak yang diperdagangan selama sepekan ini mencapai 11,1 miliar unit saham. Jauh di atas peringkat kedua yaitu PT BPD Banten Tbk (BEKS) yang totalnya hanya 7,5 miliar unit saham.

Nilai transaksi Bukalapak selama sepekan juga menjadi yang paling banyak yaitu mencapai Rp 11,9 triliun. Nilainya juga berbeda signifikan dibandingkan peringkat di bawahnya yaitu PT Bank Neo Commerce tbk (BBYB) yang nilai transaksinya Rp 3,5 triliun.

Sementara itu, frekuensi perdagangan pada saham Bukalapak juga menjadi yang terbanyak sepekan yaitu 518 ribu kali. Saham Bank Neo Commerce menduduki peringkat berikutnya, dimana saham ini ditransaksikan hanya sebanyak 349 ribu kali.

Tinggi aktivitas perdagangan Bukalapak ini memang tercatat berasal dari investor domestik. Namun, respons investor ritel domestik pada saham Bukalapak yang dalam beberapa hari terakhir ini turun, ditumpahkan melalui berbagai media.

Seperti kekecewaan yang dilampiaskan melalui kolom ulasan aplikasi Bukalapak di Play Store. Akun bernama weed33 yang melampiaskan kekecewaannya dengan memberikan satu bintang dan menilai Bukalapak mau mengambil uang investor lokal ritel karena investor asing melakukan penjualan.

"Tidak berguna punya penjamin emisi efek berjibun (banyak) kalau tidak bisa menjaga kepercayaan investor," kata akun tersebut yang diunggah pada Kamis (12/8) kemarin.

Kekecewaan juga dilampiaskan melalui kolom komentar akun Instagram @bukalapak. Pada unggahan Bukalapak pada Selasa (10/8), pemilik akun @yudikita merasa gagal mendapatkan keuntungan hingga 55% dari saham Bukalapak.

"Gagal dapat profit (untung) 55%, tapi cuma dapat 21% karena jual di harga auto rejection bawah (ARB) kemarin. Tidak apa-apa lah," tulis akun tersebut.

Harga saham Bukalapak sepekan di bursa memang bertolak belakang dengan euforia investor saat Bukalapak tengah dalam proses melantai di Bursa. Saat proses penawaran awal (bookbuilding), tercatat jumlah pemesanan melalui metode penjualan terpusat (pooling allotment) mencapai sekitar Rp 4,8 triliun.

Berkat antusiasme investor umum sangat besar tersebut, Bukalapak menambah porsi pooling allotment bagi investor retail, dari semula 2,5% menjadi 5% dari total pemesanan yang tersedia. Oleh karena itu, nilai dari saham yang dialokasikan untuk porsi itu bagi retail naik menjadi Rp 1,1 triliun dari yang sebelumnya Rp 547,5 miliar.

"Kalau cerita khusus di IPO, kami lihat subscription cukup banyak, hampir 100 ribu investor yang masuk. Tentunya mayoritas investor domestik," kata Direktur Utama Bukalapak Rachmat Kaimuddin dalam konferensi pers terkait dengan IPO, Jumat (6/8).

Kedatangan Bukalapak di lantai bursa nasional juga seperti mendapat sambutan karpet merah dari sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara. Terbukti, Bukalapak menayangkan video sambutan 10 menteri dalam konferensi pers pada hari IPO.

Video sambutan dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Video dilanjutkan dengan ucapan selamat dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyusul memberikan sambutan dan apresiasi.

Tak mau kalah, jajaran menteri lainnya juga meramaikan IPO Bukalapak. Seperti Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait