Saham 13 Emiten Sudah Digembok 2 Tahun, Mengapa Belum Dihapus BEI?

Saham yang sudah disuspensi oleh BEI selama 24 bulan salah satunya adalah PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).
Image title
24 Agustus 2021, 12:17
BEI, Bursa, Emiten, Delisting
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Karyawan memotret layar Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (5/8).

Sebanyak 13 perusahaan mengalami penghentikan perdagangan saham sementara (suspensi) selama 24 bulan, tapi tak kunjung dihentikan (delisting). Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan akan terus memantau kondisi dan perkembangan terkini dari emiten yang berpotensi didepak dari jajaran perusahaan tercatat. 

"Bursa meminta kepada para pemangku kepentingan untuk memperhatikan dan mencermati segala bentuk keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Bursa dan perusahaan tercatat," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Gede Nyoman Yetna kepada awak media, Senin (23/8).

Berdasarkan Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa, bursa dapat melakukan delisting saham salah satunya bila saham perusahaan tercatat dilakukan suspensi di pasar reguler dan pasar tunai atau hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

Ada beberapa alasan bursa melakukan suspensi pada saham perusahaan, seperti harga saham yang secara kumulatif naik atau turun signifikan dalam beberapa waktu tertentu, keraguan kelangsungan usaha, belum dipenuhinya beberapa kewajiban sesuai ketentuan, mendapat opini disclaimer sebanyak 2 kali berturut, dan masih ada beberapa alasan lainya.

Advertisement

Selain itu, berdasarkan POJK No. 3/POJK.04/2021 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal, Bursa dapat melakukan delisting perusahaan tercatat bila terdapat permasalahan kelangsungan usaha.

Nyoman mengatakan, berbagai aturan tersebut merupakan bentuk perlindungan investor di pasar modal. Perusahaan tercatat yang di-delisting wajib mengubah statusnya menjadi perusahaan tertutup, dengan melakukan pembelian kembali atas seluruh saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik (buyback).

Saham yang sudah disuspensi oleh Bursa selama 24 bulan seperti PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Saham ini disuspensi sejak 27 Mei 2019. Saat itu Bursa melakukan suspensi terhadap saham ini karena perusahaan memperoleh opini tidak memberikan pendapat (disclaimer)( selama 2 tahun berturut-turut yaitu 2018 dan 2017.

Meski begitu, hingga saat ini saham Grup Bakrie ini masih belum didepak karena Bakrie Telecom telah menyampaikan keterbukaan informasi terkait rencana untuk perbaikan kondisi keuangan perusahaan ke depan. Sehingga, saat ini Bursa sedang melakukan koordinasi dengan perusahaan untuk mendapatkan informasi terkait proses hukum yang sedang berlangsung, rencana bisnis, serta keberlangsungan usaha.

"Bursa akan terus memantau kondisi dan perkembangan terkini dari Bakrie Telecom. Bursa meminta kepada para pemangku kepentingan untuk memperhatikan dan mencermati segala bentuk keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Bakrie Telecom," kata Nyoman.

Selain itu, ada saham lain seperti PT Polaris Investama Tbk (PLAS) yang sudah disuspensi selama 24 bulan pada 28 Desember 2020 lalu. Kala itu, Bursa melakukan suspensi terhadap saham ini karena adanya keraguan atas going concern perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan tidak membukukan pendapatan sepanjang April-September 2018.

Begitu juga dengan saham PT Golden Plantation Tbk (GOLL) yang masuk masa suspensi 24 bulan pada 30 Januari 2021 dan PT Sugih Energy Tbk (SUGI) pada 1 Juli 2021. Kedua emiten disuspensi BEI karena belum menyampaikan laporan keuangan auditan 2018 dan belum membayar denda keterlambatannya.

Saham lainnya adalah PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO) yang telah disuspensi 24 bulan pada 17 Juli 2021. Penghentian perdagangan saham Trikomsel dilakukan Bursa karena peningkatan harga kumulatif yang signifikan. Saham ini pada 3 Juli 2019 berada di harga Rp 50 per saham. Tapi, naik 752% menjadi Rp 426 per saham pada 16 Juli 2019.

Saham PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) juga sudah disuspensi Bursa selama 24 bulan pada 5 Agustus 2021 lalu. Penghentian perdagangan saham AirAsia ini dilakukan sehubungan dengan pemenuhan ketentuan Bursa terhadap jumlah pemegang saham publik.

Penghentian sementara saham AirAsia terkait dengan pelanggaran ketentuan jumlah saham pemegang saham bukan pengendali dan bukan pemegang saham utama atau saham publik paling sedikit 50 juta saham atau 7,5% dari jumlah saham dalam modal disetor.

Saat ini AirAsia Investment Ltd merupakan pemegang saham mayoritas perusahaan yang bergerak di jasa transportasi ini yakni sebanyak 5,26 miliar saham atau setara dengan 49,25%. Berikutnya, PT Fersindo Nusaperkasa memegang 5,25 miliar saham atau setara 49,16%. Sementara, masyarakat memegang 169,94 juta saham atau hanya setara 1,59%.

Nyoman mengatakan, selama tidak ada perbaikan kondisi atas penyebab terjadinya suspensi, maka perusahaan tercatat tersebut masih dalam proses delisting. "Bursa akan mempertimbangkan upaya perbaikan kinerja yang dilakukan sebelum perusahaan tercatat tersebut ditetapkan delisting oleh Bursa," katanya.

Saham Berpotensi Delisting Karena Suspensi 24 Bulan
       
No Perusahaan Kode Suspensi 24 Bulan
1 PT Polaris Investama Tbk PLAS 28-Dec-20
2 PT Golden Plantation Tbk GOLL 30-Jan-21
3 PT Mitra Investindo Tbk MITI 12-Mar-21
4 PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk KBRI 23-Apr-21
5 PT Triwira Insanlestari Tbk TRIL 02-May-21
6 PT Eureka Prima Jakarta Tbk LCGP 02-May-21
7 PT Jakarta Kyoei Steel Works Tbk JKSW 02-May-21
8 PT Bakrie Telecom Tbk BTEL 27-May-21
9 PT Panasia Indo Resources Tbk HDTX 29-May-21
10 PT Nipress Tbk NIPS 01-Jul-21
11 PT Sugih Energy Tbk SUGI 01-Jul-21
12 PT Trikomsel Oke Tbk TRIO  17-Jul-21
13 PT AirAsia Indonesia Tbk CMPP 05-Aug-21
14 PT Armidian Karyatama Tbk ARMY 02-Dec-21
15 PT Magna Investama Mandiri Tbk MGNA 08-Jan-22
16 PT Hanson International Tbk MYRX 16-Jan-22
17 PT Trada Alam Minera Tbk TRAM 23-Jan-22
18 PT SMR Utama Tbk SMRU 23-Jan-22
19 PT Inti Agri Resources Tbk IIKP 23-Jan-22
20 PT Hotel Mandarine Regency Tbk HOME 03-Feb-22
21 PT Rimo International Lestari Tbk RIMO 12-Feb-22
22 PT Marga Abhinaya Abadi Tbk MABA 17-Feb-22
23 PT Siwani Makmur Tbk SIMA 17-Feb-22
24 PT Northcliff Citranusa Indonesia Tbk SKYB 17-Feb-22
25 PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk TELE 10-Jun-22
26 PT Pool Advista Indonesia Tbk POOL 10-Jun-22
27 PT Leyand International Tbk LAPD 02-Jul-22
28 PT Cowell Development Tbk COWL 13-Jul-22
29 PT Garda Tujuh Buana Tbk GTBO 14-Jul-22
30 PT Andalan Perkasa Abadi Tbk NASA 04-Aug-22
31 PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk CNKO 31-Aug-22
32 PT Sinergi Megah Internusa Tbk NUSA 31-Aug-22
33 PT Grand Kartech Tbk KRAH 31-Aug-22
34 PT Eterindo Wahanatama Tbk ETWA 31-Aug-22
35 PT Onix Capital Tbk OCAP 01-Sep-22
36 PT Modernland Realty Tbk MDLN 30-Sep-22
37 PT Bliss Properti Indonesia Tbk POSA 24-Nov-22
38 PT Envy Technologies Indonesia Tbk ENVY 01-Dec-22
39 PT Plaza Indonesia Realty Tbk PLIN 12-Jan-23
40 PT Fajar Surya Wisesa Tbk FASW 01-Feb-23
       
Sumber: Keterbukaan informasi yang diolah oleh Katadata.co.id

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait