Saham Emiten Properti Tumbuh Subur meski Dibayangi Pandemi Covid-19

Sejumlah perusahaan properti mampu mengantongi nilai prapenjualan yang memuaskan.
Image title
21 Oktober 2021, 11:40
Properti, Saham, Covid-19
ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/wsj.
Suasana sebuah komplek perumahan di Kelurahan Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Sabtu (16/5/2020).

Harga saham sejumlah perusahaan sektor properti kompak menguat sejak Juli 2021, meski masih di tengah situasi pandemi Covid-19. Para analis menyatakan terdapat sejumlah sentimen positif pada saham-saham properti.

Sejak masuk Juli 2021, harga saham PT Pollux Properti Indonesia Tbk (POLL) naik signifikan 101,96% menyentuh Rp 3.090 pada 19 Oktober 2021. Saham lainnya, PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) naik 100% menjadi Rp 100. Saham PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) menguat 25,79% menjadi Rp 200.

Berikutnya, ada saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang pada periode sejak Juli 2021 naik 23,03% menjadi Rp 1.095 pada 19 Oktober 2021. Saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) tercatat naik 20% menjadi Rp 1.140. Begitu pula saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) yang naik 16,98% menjadi Rp 930.

Pergerakan saham PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) sejak Juli naik 15,03% menjadi Rp 222 pada 19 Oktober 2021. Saham PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) juga meningkat 9,56% menjadi Rp 149. Lalu, saham PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) naik 1,97% menjadi Rp 1.035 dan saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) naik 1,26% menjadi Rp 161.

Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan penguatan harga emiten properti sejak awal Juli karena faktor teknikal. Menurut dia, harga saham properti sebelumnya menurun cukup tajam, sehingga menjadikan harganya lebih murah.

Sementara dari sisi fundamental, sentimen kebijakan pemerintah yang memperpanjang insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sampai Desember 2021, mampu mendongkrak harga saham emiten properti.

Sentimen lain terkait kredit properti dan permintaan. Pertama, indeks permintaan properti komersial pada kuartal kedua 2021 tercatat naik 0,06%, sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal pertama 2021 yang stagnan 0,00%.

"Kedua, kredit properti pada bulan Agustus 2021 naik 7,8% secara year on year (yoy), lebih tinggi dibanding bulan Juli 2021 yang naik 7,4% yoy," kata Sukarno kepada Katadata.co.id, Kamis (21/10).

Prapenjualan Emiten Properti Moncer

Sejumlah perusahaan properti mampu mengantongi prapenjualan yang memuaskan. Bahkan, emiten properti juga meningkatkan target prapenjualan hingga 2021 karena pencapaian prapenjualan sudah mendekati target lama tahun ini.

Bumi Serpong Damai mengamankan 87% target prapenjualan pada sembilan bulan pertama 2021. Anak usaha Grup Sinar Mas tersebut berhasil membukukan prapenjualan senilai Rp 6,1 triliun atau tumbuh 29% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 4,7 triliun.

Direktur BSD Hermawan Wijaya mengatakan, besarnya minat dan permintaan konsumen menjadi katalis pertumbuhan penjualan. "Kami juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang telah memberikan beragam stimulus di sektor properti, sehingga sektor properti kembali pulih,” katanya.

Segmen residensial menjadi kontributor terbesar untuk prapenjualan BSD. Segmen ini berkontribusi sebesar 69% atau Rp 4,2 triliun dari total prapenjualan. Adapun segmen komersial termasuk kavling komersial, strata-title (apartemen) dan ruko mencapai Rp1,5 triliun, mewakili kontribusi 25% dari total prapenjualan.

Puradelta Lestari mengantongi prapenjualan senilai Rp 1,25 triliun hingga akhir September 2021 atau setara 72,4% dari total prapenjualan yang ditargetkan Rp 2 triliun pada 2021. Sebagian besar penjualan didominasi oleh lahan industri sebanyak 55,3 hektare.

Direktur sekaligus Sekretaris Puradelta Lestari Tondy Suwanto mengatakan, pencapaian prapenjualan bisa dipenuhi karena sentimen positif dari peningkatan tren pusat data. "Meningkatnya permintaan dari pemain data center sejak awal tahun, juga menjadi penggerak capaian penjualan perseroan di tahun 2021," katanya.

Pada periode triwulan III-2021 saja, dua pemain pusat data baru telah bergabung di kawasan industri milik Puradelta. Perusahaan pusat data itu akan beroperasi di kawasan industri GIIC Kota Deltamas.

Lippo Karawaci mencatat prapenjualan Rp 3,1 triliun hingga Agustus 2021 yang ditopang peluncuran produk rumah tapak di Lippo Village. Selain itu, Lippo Karawaci juga menaikkan target prapenjualan 2021 menjadi Rp 4,2 triliun dari sebelumnya Rp 3,5 triliun.

"Jika target berhasil dicapai, prapenjualan 2021 akan naik 7% secara tahunan dibandingkan dengan prapenjualan tahun 2020 sebesar Rp 2,67 triliun,” kata CEO Lippo Karawaci John Riady.

Ciputra Development juga berhasil mencatatkan prapenjualan Rp 5 triliun hingga triwulan III-2021 atau mengalami kenaikan peningkatan 33% dibandingkan periode sama tahun lalu. Prapenjualan tersebut sudah memenuhi 86% dari target tahun ini Rp 5,9 triliun.

Kontribusi prapenjualan terbesar berasal dari produk residensial yang mencapai 81%. Ke depannya, Ciputra berencana meluncurkan lima produk baru dalam tiga bulan terakhir di 2021. Unit di kluster-kluster tersebut ditawarkan dengan harga di bawah Rp 2 miliar, sehingga konsumen dapat memanfaatkan insentif PPN DTP hingga akhir tahun ini.

Kompak Terjun ke Bisnis Pusat Data

Sejumlah emiten properti dan pengembang mulai melirik bisnis pusat data (data center), baik sebagai investor maupun sebagai penyedia lahan. Emiten-emiten ini tergiur menjajaki bisnis baru ini di tengah pandemi Covid-19 yang memaksa masyarakat melakukan transformasi digital.

Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai, strategi masuknya emiten properti ke bisnis pusat data bisa berpotensi meningkatkan kinerjanya ke depannya. "Karena akan menjadi sumber pendapatan tambahan dan bisa berkelanjutan," kata Sukarno.

Ciputra Development berencana untuk membangun pusat data di kawasan Jabodetabek, lalu secara bertahap mengembangkan sayapnya ke kota-kota besar lainnya. Saat ini, Ciputra sedang melakukan pembicaraan dengan sejumlah investor untuk membangun pusat data.

Direktur Utama Ciputra Development Candra Ciputra mengatakan, rencana terjun ke bisnis pusat data sudah ada sejak sebelum Covid-19 menjadi pandemi. Perkembangan bisnis pusat data lari kencang setelah adanya pandemi Covid-19.

"Sebenarnya tren pembangunan data center sudah berlangsung sebelum terjadinya pandemi. Tapi dengan adanya pandemi, jelas mempercepat," kata Candra.

Bumi Serpong Damai juga melirik bisnis pusat data. Saat ini, perusahaan properti milik Grup Sinarmas tersebut tengah melakukan pembicaraan dengan sejumlah investor strategis untuk berinvestasi dan membangun data center di lahan milik BSD.

"Sejauh ini kami memang sudah ada pembicaraan-pembicaraan dengan beberapa partner strategis untuk bersama-sama berinvestasi dalam data center," kata Direktur Utama BSD FX Ridwan Darmali.

Pada kesempatan yang sama Sekretaris Perusahaan sekaligus Kepala Hubungan Investor Christy Grassela mengatakan bisnis pusat data memang sedang menjadi tren saat ini. Sebagai pengembang, BSD masuk ke bisnis tersebut sebagai penyedia lahan karena butuh lahan yang mumpuni.

Untuk urusan lahan, BSD saat ini memiliki bank tanah (land bank) mencapai 4.300 hektare, di mana sekitar 2.300 hektare terletak di BSD City. "Untuk tanah, lahan, sudah kami siapkan area-area landbank BSDE, sudah lebih dari cukup," kata Christy.

Repower Asia Indonesia menyambut era booming bisnis digital dengan masuk ke bisnis pusat data juga. Presiden Direktur Repower Asia Aulia Firdaus mengatakan, perusahaan mengkonversi aset gedung perkantoran yang dimilikinya di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Aulia mengatakan, saat ini Repower Asia sedang melakukan pembicaraan dengan beberapa mitra strategis untuk pengembangan di Cikarang dan Tangerang terkait dengan bisnis data center ini. “Kami tengah melakukan pembicaraan serius dan melakukan feasibility study terkait bisnis data center ini,” ujar Aulia.

Alam Sutera Realty juga membuka kesempatan untuk terjun berinvestasi ke bisnis pusat data. Direktur Alam Sutera Lilia Setiprawarti Sukotjo mengatakan Alam Sutera memang tidak terlibat langsung pada bisnis pusat data, melainkan mencari investor strategis untuk berinvestasi pusat data di tanahnya.

Meski begitu, Lilia tidak menjelaskan lebih jauh sudah ada beberapa investor yang sedang menjajaki pembangunan pusat data di tanah Alam Sutera.

"Kami tidak akan terjun untuk ke data center. Kami sebagai sebuah perusahaan properti, memiliki properti dan tanah yang dapat bila ada investor yang ingin membuat data center, kami bisa menyediakan tanah tersebut untuk dikembangkan," kata Lilia.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait