Transaksi UMKM dan Mitra GoTo Tembus Rp 420 Triliun

Ada sekitar 6 juta UMKM yang bergabung ke Grup GoTo dalam dua tahun terakhir, baik dalam bentuk lapak di Tokopedia maupun pelaku UMKM makanan.
Image title
16 November 2021, 18:13
GoTo
Tokopedia
Ikon aplikasi GoTo

GoTo, entitas gabungan Gojek dan Tokopedia, mencatatkan total transaksi mencapai Rp 420 triliun sepanjang tahun berjalan 2021. Nilai tersebut berasal dari mitra yang memanfaatkan 'jembatan' digital Gojek maupun Tokopedia.

"Tahun ini di GoTo, kami sudah proses Rp 420 triliun untuk transaksi," kata CEO GoTo Andre Soelistyo dalam forum webinar CEO Networking, Selasa (16/11).

Andre mengibaratkan bisnis Gojek dan Tokopedia seperti membangun jembatan digital. Jembatan yang dimaksud untuk menyambungkan pengusaha mikro, kecil, dan menengah atau mitra pengemudi dengan konsumen dalam bentuk pelayanan.

Artinya, dari total nilai transaksi jumbo tersebut, tidak satupun barang yang berasal dari GoTo. Total transaksi berasal dari UMKM dan mitra yang menggunakan jembatan digital GoTo untuk melakukan kegiatan transaksi.

"Apakah itu dalam bentuk e-commerce jadi para penjual barang-barang yang ingin bertemu konsumen. Begitu juga penjualan makanan. Maupun, pemberi layanan seperti logistik dan mitra pengemudi," kata Andre.

Andre mengatakan, kontribusi GoTo dalam memfasilitasi UMKM dan mitra pengemudi ini juga mendorong transisi dari transaksi offline menjadi online melalui platform digital. Di tengah pandemi Covid-19, Andre mengklaim penjualan UMKM masih meningkat karena bantuan transaksi online.

Selain itu, dalam dua tahun terakhir, ada sekitar 6 juta UMKM yang bergabung ke Grup GoTo, baik dalam bentuk lapak di Tokopedia maupun pelaku UMKM makanan. Pelaku usaha tersebut, mayoritas merupakan pengusaha yang baru pertama kali terjun ke dunia bisnis.

"Sebelumnya mungkin mereka pekerja industri tapi karena Covid-19, mereka diberhentikan dari pekerjaan tersebut. Lalu, mereka berkreasi, apakah membuat makanan atau barang," kata Andre.

Andre menilai, akselerasi digital yang terjadi dalam dua tahun terakhir karena pandemi Covid-19 harus tetap dijaga meski kasus pandemi menurun yang menyebabkan kegiatan offline kembali berlangsung. Untuk menjaga akselerasi digital, pemerintah dan regulator dinilai perlu turun tangan.

Andre mengatakan, sejumlah pelaku UMKM kerap menyampaikan sejumlah hambatan untuk mendapatkan kemudahan dalam berdagang secara digital. Sejumlah hambatan yang dihadapi seperti lisensi, registrasi, dan sulitnya memiliki akses untuk mengenali pelanggan Anda (KYC).

"Hal-hal seperti lisensi, registrasi, dan kemudahan untuk KYC segala macam, kadang-kadang menjadi hambatan untuk mereka benar-benar bisa mendapatkan seamless acces (akses lancar) untuk menjadi penjual online,": ujar Andre.

Andre berharap, pemerintah dan regulator bisa memberikan peraturan dan rambu-rambu yang memudahkan pelaku usaha untuk terus berinovasi. Sehingga, akses digitalisasi terus berkesinambungan ke depan meski kegiatan offline kembali dibuka.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait