Rupiah Melemah Rp 14.368/US$ di Tengah Kenaikan Harga Minyak Dunia

Rupiah diperkirakan kembali tertekan di kisaran Rp 14.380, dengan potensi penguatan di Rp 14.330 per dolar AS. Pemicunya, karena kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi global.
Image title
24 Maret 2022, 09:52
Rupiah
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/hp.
Karyawan menghitung uang pecahan 100 Dollar AS di salah satu gerai penukaran uang asing, di Jakarta, Selasa (29/9/2020).

Nilai tukar rupiah dibuka melemah 18 poin ke level Rp 14.365 per dolar AS di pasar spot pada Kamis (24/3) pagi ini. Pelemahan rupiah dipengaruhi tren kenaikan harga minyak dunia sehingga meningkatkan ekspektasi terhadap inflasi.

Mengutip Bloomberg, rupiah melanjutkan pelemahan ke Rp 14.368 pada pukul 09.15 WIB. Ini semakin jauh dari posisi penutupan kemarin di Rp 14.347 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia lainnya juga melemah. Dolar Singapura melemah 0,07% bersama Yen Jepang dan yuan Cina kompak melemah 0,06% , dolar Taiwan 0,15%, won Korea Selatan 0,55%, peso Filipian 0,05%, rupee India 0,16%, ringgit Malaysia 0,21% dan bath Thailand 0,22%. Sebaliknya, dolar Hong Kong melemah tipis 0,01%.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan kembali tertekan di kisaran Rp 14.380, dengan potensi penguatan di Rp 14.330 per dolar AS. Rupiah akan tertekan karena kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi global.

Advertisement

"Kekhawatiran tersebut dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah karena kerusakan jalur pipa distribusi minyak mentah dari Kazakhstan di laut hitam Rusia akibat Badai," kata Ariston, Kamis (24/3).

Perbaikan bisa memakan waktu hingga dua bulan. Kerusakan ini menurutnya akan menurunkan suplai minyak mentah dunia. Jalur pipa ini mengalirkan minyak sebanyak 1,2 juta barel per hari. 

Harga minyak mentah WTI kontrak Mei naik 0,78% pagi ini menjadi US$ 115,7 per barel. Kenaikan lebih tinggi pada minyak Brent kontrak Mei menjadi US$ 122,7 per barel.

Risiko kenaikan harga minyak juga masih dipengaruhi perang Rusia dan Ukraina. Amerika tampaknya juga sedang melobi Uni Eropa untuk ikut melarang impor minyak mentah dari Rusia dan memperbesar sanksi terhadap Rusia.

Meningkatnya risiko kenaikan inflasi ini memperburuk kondisi perang yang tampaknya belum berakhir. Negosiasi juga masih belum menghasilkan kesepakatan damai.

"Sehingga gangguan suplai komoditi masih terjadi dan pertumbuhan ekonomi global bisa terganggu karena kenaikan inflasi," ujarnya.

Di sisi lain, optimisme pemulihan ekonomi dalam negeri bisa menahan pelemahan nilai tukar rupiah. Pemerintah juga telah melonggarkan sejumlah kebijakan pandemi seperti penghapusan karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).

Senada dengan Ariston, analis pasar uang Bank Mandiri Rully A Wisnubroto juga menyebut sentimen hari ini cenderung negatif ke rupiah, terutama dari eksterna. Secara teknikal, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp 14.323 hingga Rp 14.375 per dolar AS.

"Pergerakan hari ini masih cenderung dipengaruhi oleh sentimen global, terutama berlanjutnya kenaikan imbal hasil UST, yang kemarin sempat diperdagangkan mencapai level tertinggi sejak Mei 2019," kata Rully kepada Katadata.co.id 

Sementara dari dalam negeri kondisinya masih cukup baik, tetapi memang perlu diwaspadai kemungkinan inflasi domestik yang naik signifikan.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait