Apa itu No Kings? Aksi Protes di Amerika Serikat yang Tranding di Media Sosial
Apa itu No Kings? Aksi bertajuk “No Kings” ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap apa yang dinilai penyelenggara sebagai upaya Trump merayakan dirinya sendiri dalam momentum ulang tahunnya yang ke-79. Demonstrasi ini berlangsung setelah beberapa hari aksi nasional yang memprotes razia imigrasi federal, termasuk di Los Angeles, di mana pengerahan Garda Nasional oleh Trump semakin memicu kemarahan para pengkritiknya.
Berdasarkan laporan Al Jazeera (29/3), aksi ini merupakan demonstrasi “No Kings” pertama sejak konflik gabungan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai sekitar satu bulan sebelumnya. Aksi tersebut, menjadi gelombang ketiga protes nasional sejak Trump kembali menjabat untuk periode kedua.
Mengutip Theguardian.com, lebih dari 3.100 aksi protes anti-otoritarian dijadwalkan berlangsung di seluruh Amerika Serikat serta sedikitnya 15 negara lain pada hari Sabtu, semuanya berada di bawah satu tema besar: “No Kings”.
Gerakan ini resmi diluncurkan pada Juni sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintahan Donald Trump dan berkembang dengan sangat cepat. Aksi besar kedua yang digelar pada Oktober bahkan berhasil menarik sekitar 7 juta peserta. Penyelenggara pun memperkirakan aksi terbaru ini berpotensi menjadi salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah Amerika.
Apa itu No Kings?
Apa itu No Kings? Gelombang demonstrasi bertajuk “No Kings” kembali meluas di berbagai wilayah Amerika Serikat pada Sabtu, dengan Minnesota menjadi pusat utama aksi di tengah meningkatnya ketegangan politik, serta kebijakan imigrasi pemerintahan Donald Trump.
Lebih dari 3.300 aksi direncanakan berlangsung di seluruh 50 negara bagian, menjadikannya salah satu mobilisasi massa terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Kota-kota besar seperti New York City, Los Angeles, dan Washington, D.C. diperkirakan menjadi pusat keramaian, sementara aksi serupa juga digelar di kota-kota dunia seperti Roma, Paris, dan Berlin.
Berbeda dari sebelumnya, penyelenggara kini berfokus memperluas mobilisasi ke luar wilayah metropolitan, termasuk daerah yang cenderung konservatif. Sekitar dua pertiga peserta diperkirakan mengikuti aksi di luar kota besar, memperluas jangkauan gerakan “No Kings” secara nasional.
Salah satu pendiri organisasi progresif Indivisible, Leah Greenberg, menekankan bahwa kekuatan aksi kali ini terletak pada persebarannya, bukan sekadar jumlah peserta. Fokus utama aksi berada di kawasan Minneapolis–St Paul (Twin Cities) di Minnesota, yang sebelumnya menjadi sorotan akibat kebijakan pengetatan imigrasi melalui Operasi Metro Surge pada Desember. Operasi tersebut melibatkan lebih dari 3.000 agen imigrasi federal.
Di Washington, D.C., demonstran berkumpul sejak pagi di sekitar landmark seperti Lincoln Memorial dan Washington Monument, membawa poster serta simbol kritik terhadap pemerintahan Trump.
Dua aksi “No Kings” sebelumnya digelar pada Juni dan Oktober berhasil menarik jutaan peserta. Trump merespons aksi Oktober dengan mengunggah video berbasis AI yang menuai kontroversi karena menggambarkan dirinya menyerang demonstran.
Gerakan ini tidak memiliki pemimpin tunggal, membawa tujuan yang luas, dan belum merumuskan tuntutan kebijakan yang spesifik. Sejumlah pakar gerakan sosial mengakui besarnya momentum “No Kings”, namun mempertanyakan apakah gerakan ini memerlukan arah yang lebih jelas.
Hahrie Han, ilmuwan politik dari Universitas Johns Hopkins, menjelaskan bahwa gerakan sosial perlu membuka banyak pintu agar dapat menjangkau berbagai kalangan. Namun, tantangan utamanya adalah bagaimana mempertahankan partisipasi tersebut dan mengarahkannya menjadi aksi kolektif yang berkelanjutan.
Di sisi lain, para penyelenggara menyatakan bahwa pendekatan tersebut memang disengaja. Hunter Dunn dari gerakan 50501 movement menegaskan bahwa nama “No Kings” sendiri sudah merupakan tuntutan, sebuah penolakan langsung terhadap apa yang mereka anggap sebagai tindakan tidak konstitusional, serta pernyataan tekad untuk mengembalikan kekuasaan kepada rakyat.
Mengapa Disebut No Kings?
Melansir Pbs.org, Tema No Kings digagas oleh Gerakan 50501gap sebagai tindakan otoriter dari pemerintahan Donald Trump. Nama 50501 sendiri melambangkan 50 negara bagian, 50 aksi protes, dan satu gerakan.
Aksi protes awal tahun ini menyoroti Trump dan penasihatnya, Elon Musk, yang sebelumnya memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah, sebuah badan yang dirancang untuk memangkas pengeluaran federal. Para pengunjuk rasa menyerukan agar Trump “dilangsirkan” karena mereka menilai tindakannya lebih menyerupai seorang raja daripada presiden yang dipilih secara demokratis.
“Pemerintahan mereka telah menentang pengadilan, mendeportasi warga, menghilangkan orang dari jalanan, menyerang hak-hak sipil, dan memangkas layanan publik,” tulis kelompok tersebut di situs resmi mereka, menyoroti kebijakan Trump yang mereka anggap melayani dan memperkaya sekutu miliarder secara bersamaan.
Latar Belakang Munculnya Gerakan No Kings
Gerakan “No Kings” muncul sebagai bentuk penolakan terhadap gaya kepemimpinan Donald Trump yang oleh banyak pihak dinilai cenderung otoriter. Para demonstran menilai sejumlah kebijakan pemerintah, khususnya di bidang imigrasi dan keamanan, telah melampaui prinsip-prinsip demokrasi.
Selain itu, aksi ini juga dipicu oleh meningkatnya ketegangan global yang melibatkan Amerika Serikat, termasuk konflik dengan Iran. Banyak peserta aksi secara terbuka menyerukan penghentian perang sebagai bagian dari tuntutan utama mereka. Sejumlah isu utama yang melatarbelakangi aksi ini antara lain:
• Kebijakan imigrasi yang dianggap terlalu keras
• Dugaan pelanggaran hak sipil
• Kenaikan harga kebutuhan pokok seperti pangan dan bahan bakar
• Kekhawatiran terhadap arah demokrasi di Amerika Serikat
• Penolakan terhadap konflik dengan Iran serta tuntutan perdamaian global
Dukungan Tokoh Publik dan Internasional
Aksi “No Kings” tidak hanya melibatkan masyarakat umum, tetapi juga mendapat dukungan luas dari berbagai tokoh publik. Sejumlah figur politik, aktivis, hingga selebritas turut hadir maupun menyuarakan dukungan terhadap gerakan ini. Selain mengkritik kebijakan dalam negeri, banyak dari mereka juga menekankan pentingnya menghentikan konflik bersenjata, termasuk ketegangan dengan Iran, yang dianggap memperburuk kondisi global.
Menariknya, gelombang protes ini turut meluas hingga ke luar Amerika Serikat. Aksi serupa digelar di berbagai kota di Eropa sebagai bentuk solidaritas internasional terhadap isu demokrasi dan perdamaian dunia.
Gerakan Berulang dengan Skala Semakin Besar
Aksi “No Kings” bukanlah yang pertama kali terjadi. Dalam kurun satu tahun terakhir, gerakan ini telah beberapa kali digelar dan menunjukkan tren peningkatan jumlah peserta dari waktu ke waktu. Beberapa poin penting terkait perkembangan gerakan ini antara lain:
• Aksi perdana berlangsung pada pertengahan 2025
• Gelombang kedua berhasil menarik jutaan peserta
• Aksi terbaru disebut sebagai salah satu yang terbesar
• Partisipasi meluas hingga ke berbagai negara, tidak hanya di Amerika Serikat
• Isu penolakan konflik dengan Iran semakin menjadi fokus utama dalam aksi terbaru
Mengapa No Kings Tidak Memiliki Platform Kebijakan
Para pengkritik menilai ketiadaan platform kebijakan yang jelas dalam gerakan “No Kings” sebagai kelemahan, karena dianggap menunjukkan bahwa gerakan ini belum memiliki tuntutan konkret.
Namun, Marcus Board Jr dari Universitas Howard berpendapat bahwa cara lama dalam menilai keberhasilan Gerakan, seperti apakah mampu menghasilkan undang-undang atau perubahan kebijakan federal, sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, pendekatan tersebut berasal dari model perubahan politik yang usang. Ia menegaskan bahwa perubahan tidak cukup hanya melalui jalur legislatif, karena transformasi sejati juga harus terjadi pada masyarakat itu sendiri.
Sementara itu, Leah Greenberg menilai keberhasilan “No Kings” justru dapat diukur dari dampak jangka panjang setelah aksi berlangsung. Indikator utamanya adalah seberapa banyak peserta baru yang terus terlibat dalam pertemuan lanjutan, pelatihan, serta kegiatan pengorganisasian berikutnya.
Menurutnya, esensi gerakan ini bukan hanya terletak pada besarnya aksi di hari pelaksanaan, tetapi juga pada kemampuan untuk menarik lebih banyak orang terlibat, mengembangkan strategi baru, serta memperluas partisipasi publik dalam perjuangan kolektif melawan ketidakadilan.
Apa itu No Kings? No Kings adalah gerakan protes yang muncul sebagai respons terhadap kebijakan dan kepemimpinan Donald Trump, yang oleh para demonstran dinilai berpotensi mengarah pada praktik otoritarian. Gerakan ini menekankan pentingnya demokrasi, partisipasi publik, serta penolakan terhadap konsentrasi kekuasaan pada satu figur atau elit tertentu.

