Apa yang Terjadi Jika Rupiah Terus Melemah? Ini Dampaknya Bagi Masyarakat
Nilai tukar rupiah turun menjadi Rp 17.630 per dolar AS pada Senin pagi (18/5). Rupiah melemah 33 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.
Nilai ini adalah level terlemah rupiah sepanjang sejarah. Saat terjadi krisis finansial Asia pada Juni 1998, rupiah anjlok hingga menyentuh angka Rp16.800 per dolar AS.
Angka tersebut menjadi patokan nilai tukar rupiah terendah dalam sejarah. Namun memasuki tahun 2026, rupiah justru mencatatkan sejarah baru dengan nilai tukar melampaui Rp17.000 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi dinamika global. Konflik Iran dengan AS dan Israel yang memicu lonjakan harga minyak dunia, serta kenaikan suku bunga AS menjadi penyebab rupiah dan mata uang berkembang lainnya melemah.
Lantas, apa yang terjadi jika rupiah terus melemah? Berikut ulasannya:
Apa yang Terjadi Jika Rupiah Terus Melemah?
Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS bisa merambat ke berbagai sektor. Pelemahan rupiah juga membawa dampak berantai yang dirasakan langsung oleh masyarakat dan para pemilik usaha.
Lalu, apa saja yang sebenarnya terjadi jika rupiah terus tergerus? Berikut dampak jika rupiah terus melemah:
1. Kenaikan Harga Barang
Pelemahan rupiah akan membuat biaya impor menjadi lebih mahal karena transaksi perdagangan internasional umumnya menggunakan dolar AS. Dampaknya, pelaku usaha harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendatangkan bahan baku maupun barang jadi dari luar negeri.
Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga di dalam negeri atau inflasi. Produk dengan kandungan impor tinggi seperti bahan bakar minyak (BBM), elektronik, obat-obatan, hingga pangan seperti gandum dan kedelai menjadi yang paling terdampak.
Pada akhirnya, daya beli masyarakat bisa tergerus karena harga kebutuhan meningkat, sementara pendapatan belum tentu ikut naik.
2. Beban Pemerintah Meningkat
Ketika rupiah melemah, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ikut meningkat. Salah satu penyebabnya adalah membengkaknya biaya subsidi energi, terutama BBM dan LPG, yang harganya mengacu pada pasar global dalam dolar AS.
Selain itu, pembayaran utang luar negeri pemerintah juga menjadi lebih mahal dalam nilai rupiah. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa membuat anggaran pemerintah jadi lebih sempit.
Akibatnya, dana untuk pembangunan, infrastruktur, hingga bantuan sosial bisa berkurang atau bahkan ditunda.
3. Nilai Saham dan Investasi Tertekan
Pelemahan rupiah kerap diikuti oleh keluarnya modal asing (capital outflow). Investor global biasanya cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS atau obligasi negara maju.
Dampaknya, pasar saham dan obligasi domestik bisa mengalami tekanan. Indeks harga saham berpotensi turun, dan biaya pendanaan bagi perusahaan meningkat.
Jika kondisi ini berlangsung lama, kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia bisa melemah. Hal ini berdampak pada melambatnya arus investasi dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
4. Ancaman PHK dan Perlambatan Usaha
Pelemahan rupiah turut meningkatkan biaya operasional perusahaan, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya ini dapat menekan margin keuntungan, sehingga perusahaan harus melakukan berbagai penyesuaian.
Dalam kondisi tertentu, pelaku usaha bisa menaikkan harga jual, menekan biaya produksi, hingga melakukan efisiensi tenaga kerja. Jika tekanan berlangsung berkepanjangan, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) pun meningkat.
Hal ini tentu berdampak pada tingkat pengangguran dan stabilitas ekonomi rumah tangga.
Itulah sejumlah dampak yang dapat terjadi jika rupiah terus melemah dalam jangka waktu panjang. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi stabilitas ekonomi makro, tetapi juga berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat, kinerja dunia usaha, hingga ketahanan fiskal negara.

