7 Puisi WS Rendra tentang Kehidupan yang Penuh Makna
Dunia sastra Indonesia mencatatkan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra atau WS Rendra sebagai salah satu tokoh penyair terkemuka yang melegenda. Penyair yang dijuluki ‘Si Burung Merak’ ini dikenal sangat produktif menghadirkan karya-karya bersastra tinggi dengan citraan serta dramatik yang kuat.
Lewat kepiawaiannya mengolah kata, sajak-sajaknya tidak hanya berbicara mengenai nilai estetika, tetapi juga merekam perenungan mendalam tentang eksistensi, takdir, hingga dinamika kehidupan manusia.
Kumpulan Puisi WS Rendra Tentang Kehidupan
Karya sang maestro kerap memotret realitas sosial dan pergolakan batin yang sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari. Membaca karya sastra karangannya mampu membawa penikmat literatur pada proses kontemplasi mengenai makna hidup yang sesungguhnya. Berikut adalah ulasan tujuh puisi WS Rendra yang memuat pesan kehidupan penuh makna.
1. Temperamen
Kehidupan manusia seringkali diwarnai oleh gejolak emosi yang berubah-ubah bagaikan siklus alam. Dalam karya ini, Rendra menggambarkan bagaimana penderitaan atau kemarahan yang memuncak pada akhirnya akan menemukan titik damai serta ketenangan seiring berjalannya waktu.
Batu kali
ditimpa terik matahari.
Betapa panasnya!
Ketika malam kembali membenam
kali pun tenteram.
Bulannya sejuk
dan air bernyanyi
tiada henti.
Jika kita marah
pada kekasih
selamanya.
2. Bunga Gugur
Kematian dan perpisahan merupakan bagian mutlak dari garis perjalanan setiap insan di dunia. Melalui bait-baitnya, Rendra menyampaikan pesan kepasrahan dan keikhlasan saat menghadapi perpisahan abadi, serta bagaimana ingatan atau asmara manusia pada akhirnya akan ikut gugur bersama fisik yang kembali ke tanah. `
Bunga gugur
di atas nyawa yang gugur
gugurlah semua yang bersamanya
Kekasihku.
Bunga gugur
di atas tempatmu terkubur
gugurlah segala hal ikhwal antara kita.
Baiklah kita ikhlaskan saja
tiada janji 'kan jumpa di sorga
karena di sorga tiada kita 'kan perlu asmara.
Asmara cuma lahir di bumi
(di mana segala berujung di tanah mati)
ia mengikuti hidup manusia
dan kalau hidup sendiri telah gugur gugur pula ia bersama sama.
Ada tertinggal sedikit kenangan tapi semata tiada lebih dari penipuan atau semacam pencegah bunuh diri.
Mungkin ada pula kesedihan itu baginya semacam harga atau kehormatan yang sebentar akan pula berantakan.
Kekasihku.
Gugur, ya, gugur
semua gugur
hidup, asmara, embun di bunga – yang kita ambil cuma yang berguna.
3. Telah Satu
Proses menyatunya dua jiwa dalam mengarungi perjalanan hidup memerlukan komitmen serta penerimaan secara utuh. Puisi ini menggambarkan keteguhan sikap pasangan dalam menghadapi kenyataan hidup bersama, di mana perbedaan disatukan oleh rasa saling memahami yang kokoh.
Gelisahmu adalah gelisahku.
Berjalanlah kita bergandengan
dalam hidup yang nyata,
dan kita cintai.
Lama kita saling bertatap mata
dan makin mengerti
tak lagi bisa dipisahkan.
Engkau adalah peniti
yang telah disematkan.
Aku adalah kapal
yang telah berlabuh dan ditambatkan.
Kita berdua adalah lava
yang tak bisa lagi diuraikan.
4. Optimisme
Keteguhan langkah dan keyakinan menjadi pondasi utama dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Rendra menegaskan pentingnya memiliki kedamaian jiwa serta keberanian dalam melangkah agar mampu membangun kehidupan yang kokoh dan bermakna. Pesan mengenai keteguhan niat tersebut disampaikan dalam bait berikut:
Cinta kita berdua
adalah istana dari porselen.
Angin telah membawa kedamaian
membelitkan kita dalam pelukan.
Bumi telah memberi kekuatan,
kerna kita telah melangkah
dengan ketegasan.
5. Sajak Cinta Ditulis pada Usia 57
Seiring bertambahnya usia, pemahaman seseorang terhadap ikatan emosional dan dimensi waktu akan semakin matang. Ditulis saat sang penyair menginjak usia 57 tahun, karya ini memuat refleksi filosofis bahwa perjalanan waktu tidak akan pernah bisa membatasi kedalaman rasa dan kesetiaan.
Setiap ruang yang tertutup akan retak
karena mengandung waktu yang selalu mengimbangi
Dan akhirnya akan meledak
bila tenaga waktu terus terhadang
Cintaku kepadamu Juwitaku
Ikhlas dan sebenarnya
Ia terjadi sendiri, aku tak tahu kenapa
Aku sekedar menyadari bahwa ternyata ia ada
Cintaku kepadamu Juwitaku
Kemudian meruang dan mewaktu
dalam hidupku yang sekedar insan
Ruang cinta aku berdayakan
tapi waktunya lepas dari jangkauan
Sekarang aku menyadari
usia cinta lebih panjang dari usia percintaan...
6. Hai, Ma!
Kehidupan modern seringkali terjebak dalam rutinitas hampa yang membuat manusia kehilangan arah. Melalui karya ini, Rendra mengungkapkan kegelisahan atas kepalsuan, sekaligus menegaskan pentingnya kehangatan sosok terdekat untuk mengembalikan makna hidup yang sejati.
Ma, bukan maut yang menggetarkan hatiku
tetapi hidup yang tidak hidup
karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya
ada malam-malam aku menjalani lorong panjang
tanpa tujuan kemana-mana
hawa dingin masuk kebadanku yang hampa
padahal angin tidak ada
bintang-bintang menjadi kunang-kunang
yang lebih menekankan kehadiran kegelapan
tidak ada pikiran, tidak ada perasaan, tidak ada suatu apa.
Hidup memang fana, Ma
tetapi keadaan tak berdaya membuat diriku tidak ada...
7. Dua Burung
Ketidakpastian merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan keberadaan manusia di dunia. Dalam sajak pendek ini, Rendra mengumpamakan manusia seperti burung yang terbang mengarungi angkasa dan tetap bertahan mengarungi kenyataan secara bersama-sama.
Adalah dua burung
bersama membuat sarang.
Kami berdua serupa burung
terbang tanpa sarang.
Karya sastra berupa kumpulan puisi WS Rendra hingga kini tetap menjadi warisan literatur yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Melalui keindahan sajak dan kedalaman pesannya, puisi WS Rendra terus memberikan inspirasi serta bahan renungan mengenai hakikat kehidupan bagi para pembacanya.
