Rata-rata Nilai Transaksi Harian Saham Turun 32%, Ini Respons BEI
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan bahwa rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) menurun 32% dari posisi Rp 14,75 triliun saat ini. Merujuk data BEI, nilai RNTH mengalami perubahan sebesar 3,05% menjadi Rp 10,37 triliun dari Rp 10,70 triliun dari pekan sebelumnya.
Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, BEI bersama dengan self regulatory organization (SRO) telah menyiapkan strategi untuk mendongkrak RNTH. Pertama, bursa berkampanye dengan jargon Aku Investor Saham. Ia menyebut jargon yang digunakan tersebut ditujukan agar calon investor percaya diri.
"Dari sisi demand atau permintaan, BEI terus mendorong jumlah perusahaan tercatat mampu mencapai angka 900 hingga 1.000 perusahaan dari 888 perusahaan yang tercatat hingga kini. Lalu untuk demand site, pada hari ini jumlah perusahaan tercatat 64 dengan total 888, nah kita menuju ke 900, bahkan menuju ke 1.000 perusahaan," kata Nyoman kepada wartawan di BEI, Senin (28/8).
Nyoman mengatakan, untuk meningkatkan RNTH memerlukan waktu apalagi dengan kondisi Indonesia dari pandemi menjadi normal kembali. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi BEI dan SRO dalam meningkatkan RNTH.
Dia menjelaskan situasi endemi memberikan banyak pilihan bagi masyarakat untuk berinvestasi. Hal ini lantas menjadi tantangan di pasar modal untuk bekerja lebih keras dalam menarik dana yang ada untuk ditransasikan kembali ke pasar modal.
BEI pun telah mengubah jam perdagangan, yang mana langkah itu menjadi salah satu strategi meningkatkan RNTH. Namun Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, adanya normalisasi jam perdagangan tidak langsung meningkatkan rata-rata nilai transaksi harian.
"Dalam studi kami sebelum menormalisasikan jam perdagangan, kami melihat pola perilaku investor memang akan tinggi pada awal dan akhir perdagangan," katanya kepada wartawan di Jakarta, dikutip (4/4).
Jeffrey juga mengatakan BEI sudah melakukan beberapa strategi untuk meningkatkan rata-rata nilai transaksi harian. Misalnya seperti melakukan diskusi dengan investor ritel, investor istitusi, dan investor asing.
