Presiden AS Joe Biden Disuntik Vaksin Booster dari Pfizer

Vaksinasi dosis ketiga yang diterima Joe Biden dilakukan di tengah isu ketimpangan vaksin global serta debat perlu tidaknya dosis booster.
Image title
28 September 2021, 09:19
vaksin, pfizer, Joe Biden
joebiden/Instagram
Presiden AS Joe Biden menerima vaksin booster Pfizer di Gedung Putih, Senin (27/9).

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menerima booster vaksin Covid-19 menggunakan Pfizer pada Senin (27/9) waktu setempat. Vaksinasi ketiga Biden dilakukan di tengah isu ketimpangan vaksin global  serta debat perlu tidaknya dosis booster.

Biden menjelaskan vaksinasi ketiga yang dia lakukan adalah upaya untuk meningkatkan minat warga AS dalam mengikuti program vaksinasi. Pasalnya, masih ada jutaan warga AS yang bahkan tak mau menerima dosis pertama vaksin.

“Suntikan penguat itu penting, tetapi hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah membuat lebih banyak orang divaksinasi," kata Biden dikutip dari Reuters, Selasa (28/9).
Biden mendapatkan suntikan dosis pertama pada Desember tahun lalu dan dosis kedua pada Januari 2021.

Biden menerima suntikan ketiga  setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS pada pekan lalu mengizinkan dosis tambahan vaksin Pfizer Inc-BioNTech untuk orang Amerika berusia 65 ke atas.

Dosis ketiga juga diberikan kepada orang dewasa dengan kondisi medis tertentu, dan orang dewasa yang memiliki pekerjaan dengan risiko penularan Covid-19 tinggi.

Presiden ke-46 AS tersebut menepis kritikan banyak pihak bahwa Amerika Serikat seharusnya mendistribusikan lebih banyak vaksin di seluruh dunia terlebih dahulu sebelum mengizinkan booster di dalam negeri.

"Kami membantu. Kami melakukan lebih dari gabungan semua negara lain di dunia," katanya.

Meskipun tidak semua ahli setuju akan perlunya suntikan booster, Joe  Biden mengumumkan suntikan ketiga yang dia lakukan merupakan bagian dari upaya untuk menopang perlindungan terhadap varian Delta yang sangat menular.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengatakan orang yang memenuhi syarat mendapatkan booster adalah mereka yang menerima dosis kedua Pfizer setidaknya enam bulan lalu.

 Namun, FDA belum mempertimbangkan penggunaan Moderna untuk booster, sementara perusahaan produsen vaksin lainnya, yakni Johnson & Johnson belum mengajukan izin penggunaan booster.

Sementara itu, para ahli terus mendorong vaksinasi karena pandemi sudah membuat sistem perawatan kesehatan AS kewalahan. Hal itu dapat diperburuk oleh perawat atau dokter yang kelelahan atau oleh staf yang menolak divaksin.
Hingga kini, jumlah warga AS yang telah menerima suntikan dosis pertama mencapau 213,46 juta atau 65% dari populasi sementara 183,67 juta atau 56% dari populasi sudah mendapatkan vaksin penuh.

AS Bertindak Tegas Kepada Staf Kesehatan yang Menolak Vaksin
Melansir Reuters, sebuah rumah sakit di New York mulai memecat dan menangguhkan petugas kesehatan yang menolak untuk mendapatkan vaksin Covid-19. Hal ini mengakibatkan rumah sakit kekurangan staf  dan mendorong beberapa rumah sakit untuk membatasi layanan.

Walikota New York Bill de Blasio mengatakan, bahwa rumah sakit kota belum melihat dampak besar dari mandat tersebut. Ia khawatir tentang daerah lain di negara bagian di mana tingkat vaksinasi lebih rendah.

 Seorang juru bicara Catholic Health JoAnne Cavanaugh mengatakan, pihaknya telah menangguhkan petugas kesehatan yang menolak mendapatkan vaksin. Namun, JoAnne tidak menyebut secara detail berapa banyak pekerja yang telah diskors atau diberikan pengecualian karena alasan medis atau agama.

Sementara itu, Pusat Medis Erie County di Buffalo menangguhkan operasi rawat inap elektif dan telah berhenti menerima pasien perawatan intensif dari rumah sakit lain. Mereka bersiap untuk memecat ratusan karyawan yang tidak divaksinasi.

"Kami membuat keputusan yang dapat memberikan beberapa perubahan sementara, sehingga kami dapat memastikan area layanan lain akan sedikit terpengaruh," kata Juru Bicara Peter Cutler.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait