Ongkos Jalur Laut Naik 10 Kali Lipat, UKM Diminta Ekspor Jalur Udara

Pengiriman jalur ekspor juga bisa menjadi alternatif mengingat adanya penurunan angka penumpang pesawat. Sementara, maskapai harus tetap terbang dengan membawa muatan kargo.
Image title
4 Oktober 2021, 11:15
ekspor, UKM
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/hp.
Pekerja menata tas anyam hias sebelum diekspor ke Sidney dan Dubai di rumah produksi Fianoel, Merjosari, Malang, Jawa Timur, Senin (24/5/2021). Pengusaha tas anyam hias setempat berupaya meningkatkan penjualan dengan menggenjot pemasaran di pasar digital serta berinovasi dengan kreasi teknik hias decoupage dan suspeso guna menambah nilai jual produknya di pasar ekspor maupun domestik.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyarankan para eksportir terutama usaha kecil dan menengah (UKM), khususnya yang mengirimkan produk berukuran kecil atau ringan untuk beralih ke pengiriman jalur udara.

Pasalnya, saat ini tarif pengiriman ekspor jalur laut mengalami kenaikan 5 hingga 10 kali lipat.
“Terkait tarif pengiriman ekspor jalur laut yang meningkat, kami memberikan usulan kepada para pelaku UKM, khususnya UKM yang mengekspor produk berukuran kecil atau ringan untuk beralih dari pengiriman jalur laut ke jalur udara,” kata Lutfi dalam keterangan resminya, Minggu (3/10).

Mantan  Dubes RI untuk Jepang tersebut mengatakan, saat ini tarif pengiriman barang ekspor melalui jalur laut mengalami peningkatan lima hingga 10 kali lipat dari sebelumnya, yaitu menjadi US$ 10.000—US$ 20.000 per kontainer.

 Pengiriman jalur ekspor juga bisa menjadi alternatif  mengingat adanya penurunan angka penumpang pesawat. Sementara, maskapai harus tetap terbang dengan membawa muatan kargo.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid menuturkan, Kadin Indonesia akan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan terkait untuk bersama-sama mencari solusi terkait tantangan dan hambatan yang dialami para pelaku usaha.

Selain itu, Kadin juga terus berupaya mendorong ekspor nasional dengan memprioritaskan ekspor ke negara-negara yang memiliki comprehensive economic partnership agreement (CEPA) dengan Indonesia.  Antara lain Uni Emirat Arab (UEA), Australia, Swiss, Hongkong, Uni Eropa, Turki, dan Korea Selatan.

Sebagai informasi, CEPA merupakan perjanjian kerja sama antar negara yang dapat dioptimalkan guna meningkatkan perdagangan internasional.

 Arsjad menyebut, pihaknya juga berupaya membuat ekosistem yang dapat menghubungkan UKM dengan para calon buyers. Hal itu dilakukan demi mempermudah ekspor ke negara-negara tujuan.

“Rencananya, proyek ini akan dilakukan di Australia, Swiss, serta akan memanfaatkan perhelatan Expo 2020 Dubai untuk mengembangkan proyek di UEA,” kata dia.

Partisipasi Indonesia dalam Expo 2020 Dubai merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kinerja ekspor nasional, khususnya dalam kondisi pascapandemi Covid-19.

Paviliun Indonesia akan mengenalkan lebih dari 300 UKM Indonesia siap ekspor ke pasar Timur Tengah dan dunia selama enam bulan dari 1 Oktober 2021—31 Maret 2022.

 Lutfi menjelaskan, bahwa UKM adalah pilar dari perekonomian Indonesia. Selain sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pembukaan Paviliun Indonesia di Expo 2020 Dubai.

Selain itu, permintaan ekspor produk-produk Indonesia kini semakin meningkat akibat adanya perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

“Saat ini Indonesia kebanjiran permintaan produk untuk diekspor ke luar negeri. Hal ini merupakan peluang yang luar biasa untuk mendorong ekspor nasional,” ujar Lutfi.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait