Jokowi Tegaskan Tak Ada yang Bebas Covid-19 Sampai Semua Orang Aman

Jokowi mengingatkan bahwa diperlukan usaha kolektif untuk menekan kasus Covid-19.
Image title
28 Oktober 2021, 12:34
Jokowi, Covid-19, pandemi
ANTARA FOTO/Setpres/Agus Suparto/Handout/wsj.
Presiden Joko Widodo mengunjungi kawasan Puncak Waringin usai meresmikan kawasan tersebut di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Kamis (14/10/2021). ANTARA FOTO/Setpres/Agus Suparto/Handout/wsj.\

Sejumlah negara di seluruh dunia masih berjuang mengatasi Covid-19. Presiden Joko Widodo, atau Jokowi pun mengingatkan, tidak ada seorang pun yang terbebas dari risiko Covid-19 sampai seluruh orang bebas dari virus tersebut.

"Tidak ada yang aman dari Covid-19 sampai semua orang aman," kata Jokowi dalam Kongres Kebangsaan MPR RI secara daring, Kamis (28/10).

Menurutnya, pandemi mengajarkan posisi sentra manusia sebagai makhluk sosial. Ini artinya, tidak ada manusia yang bisa selamat seorang diri.

Sebaliknya, manusia bisa selamat kalau seluruh manusia diselamatkan. Untuk itu, solusi mengatasi pandemi bukanlah solusi individual.

"Solusi pandemi adalah solusi bersama," ujar dia.

 Selain itu, pandemi juga mengajarkan pentingnya saling mengingatkan, membantu, dan mendisiplinkan sesama manusia.

Dalam hal ini, penggunaan masker harus selalu dingatkan kepada masyarakat agar virus tidak menular kepada orang lain.

Selain itu, pandemi juga mengajarkan untuk selalu merujuk pada kaidah ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi terbaru.

"Kecepatan untuk menyediakan vaksin dan obat-obatan menunjukkan betapa pentingnya penguasaan iptek," katanya.

Tak hanya itu, pandemi juga mengajarkan pentingnya kemandirian ekonomi dan produksi. Namun, kemandirian tersebut harus dilandasi dengan institusi pendidikan dan penelitian yang kuat.

Pada Rabu (27/10), Presiden Jokowi kembali mengingatkan potensi pandemi gelombang ketiga di Tanah Air pasca libur Natal dan tahun baru mendatang.

Karena itulah, presiden meminta seluruh kepala daerah untuk mengantisipasi potensi kerumunan pada libur Natal dan tahun baru. Sebab, libur Natal dan tahun baru pada 2020 lalu menyebabkan terjadinya peningkatan kasus corona.

Untuk menekan penyebaran kasus Covid-19 selama liburan Natal dan Tahun Baru, pemerintah telah menghapus cuti bersama pada 24 Desember. Penghapusan cuti juga diharapkan bisa mengurangi minat masyarakat untuk berpergian.

Sebagai catatan, Indonesia mengalami gelombang II Covid-19 mulai akhir Juni pasca libur Hari Raya Idul Fitri.

Sebagai informasi, jumlah kasus positif Covid-19 yang dilaporkan pada hari Rabu (27/10) mencapai 719.

Sejumlah provinsi melaporkan adanya tambahan kasus yang signifikan, termasuk DKI Jakarta yang mencatat kenaikan kasus baru hampir tiga kali lipat.

Pada Rabu (27/10), Jakarta melaporkan tambahan kasus sebanyak 105, jumlah ini hampir tiga kali lipat dibandingkan yang dicatat pada Selasa (26/10) yakni 37 kasus.

Selain Jakarta, provinsi lain yang juga mencatat tambahan kasus Covid-19 secara siginfikan adalah Jawa Tengah, yakni 30% menjadi 118 pada hari ini, dibandingkan 91 pada Selasa (26/10).

Jawa Timur mencatat kenaikan kasus sebesar 76% menjadi 90 pada hari ini, dibandingkan 51 pada Selasa (26/10).

Di luar Jawa, terdapat Sulawesi Selatan yang mencatat tambahan kasus sebanyak 33 pada Rabu (27/10). atau naik 50% dibandingkan sehari sebelumnya.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait