Morgan Stanley: Empat Kunci Ekonomi Negara Berkembang

Maria Yuniar Ardhiati
9 Juni 2016, 15:54
Pertumbuhan Ekonomi
Donang Wahyu|KATADATA

Perlambatan ekonomi negara-negara maju turut menyeret negara-negara pasar berkembang (emerging market). Brasil, negara berkembang yang sempat menikmati berkah booming komoditas, kini menghadapi krisis ekonomi. Ekonomi Cina pun terus melambat. Head Of Emerging Markets Morgan Stanley Investment Management Ruchir Sharma mengidentifikasi, ada empat kunci penentu pertumbuhan ekonomi negara berkembang. 

Di antaranya, menjaga pertumbuhan penduduk untuk mendukung kebutuhan tenaga kerja di masa depan. Sharma juga menyatakan, pemerintah juga perlu mengelola jumlah orang kaya atau miliarder agar tidak terlalu mendominasi aktivitas perekonomian. Selain itu, nilai tukatr mata uang yang rendah ternyata turut berperan dalam memacu pertumbuhan ekonomi.

Dari empat kunci tersebut, bagaimana dengan peluang Indonesia untuk terus memacu perekonomiannya? Berikut ini penjelasan Sharma, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (8/6). (Baca: Negara Maju Masih Lesu, Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global)

Pertumbuhan Populasi

Pertumbuhan jumlah usia pekerja produktif di dunia terus melambat. Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pertumbuhan populasi usia pekerja tahun 1985 sebesar 2,3 persen dan dalam tiga dekade kemudian pada 2015 melambat menjadi hanya tumbuh 1,1 persen. Contohnya Cina, yang mengalami penurunan angka usia pekerjanya tahun lalu, bakal menghadapi rintangan berat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6,5 persen per tahun dalam lima tahun ke depan.

Sedangkan Nigeria, Kenya, Mesir dan Filipina menjadi negara-negara dengan pertumbuhan populasi pekerja tercepat di dunia, yang tentu akan berdampak baik bagi mereka. Hal sama tentunya berlaku untuk Indonesia, yang diperkirakan bakal menikmati bonus demografi pada 2020-2030. Pada periode itu, 70 persen dari jumlah populasi merupakan usia angkatan kerja. (Baca: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2016 Meleset di Bawah Target)

Mengelola Utang

Riset yang dilakukan Sharma memperlihatkan, pertumbuhan ekonomi di 30 negara merosot hingga separuhnya dalam lima tahun. Penyebabnya adalah, jumlah utang sektor swasta melebihi 40 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Dalam hal ini, Cina di ambang bahaya. Sejak tahun 2008, utang swasta dan rumah tangga negara ini naik hampir dua kali lipat, melampaui pertumbuhan utang di Thailand sebelum krisis keuangan Asia tahun 1997. Utang yang dicatatkan oleh Cina menjadi yang terbesar dalam sejarah negara berkembang.

“Jika sudah terjerat utang, maka sangat susah untuk bisa melepaskannya,” kata Sharma. Meski Cina memiliki sumber daya untuk menghindari krisis keuangan, pertumbuhannya seperti bola pingpong yang naik-turun. (Baca: Darmin: Pertumbuhan Ekonomi 5,3 Persen Sangat Mungkin Tercapai)

Bagi Indonesia, rasio utangnya masih masuk dalam kategori aman yaitu di bawah 40 persen dari PDB. Meski rasio utang luar negeri Indonesia per akhir Maret lalu mencapai 36,5 persen terhadap PDB, meningkat dibandingkan akhir Desember 2015 yang sebesar 36 persen dari PDB.

Mewaspadai Miliarder

Sharma mencermati daftar orang terkaya dunia yang dipublikasikan Forbes. Ia menyarankan, negara harus waspada jika harta kekayaan miliarder melampaui 5 persen dari PDB. Keberadaan taipan yang mendapatkan pundi-pundi kekayaannya melalui penemuan suatu teknologi lebih baik dibandingkan orang kaya karena korupsi atau mewarisi harta keluarga.

Data yang dihimpun Forbes, Haver Analytics serta Morgan Stanley Investment memperlihatkan, ada tujuh negara berkembang yang jumlah kekayaan miliardernya di atas 5 persen dari PDB. Salah satunya adalah Indonesia. Kekayaan miliarder di negara ini mencapai 7 persen dari PDB.

Mata Uang yang Murah

Pada awal 2010, Sharma mendengar kisah masyarakat Brasil yang gemar terbang ke Manhattan, Amerika Serikat, untuk belanja besar-besaran. Kekuatan mata uang Brasil menjadikan masyarakatnya merasa kaya. Namun, kini mata uang eral Brasil melorot seiring jatuhnya harga komoditas.

Sharma menyebut fenomena ini memperlihatkan mata uang yang terlalu kuat bisa menggoyahkan keseimbangan perekonomian. Untuk kunci yang terakhir ini, Indonesia bisa juga memenuhinya. Sejak tahun lalu, mata uang rupiah selalu di atas 13.000 per dolar Amerika Serikat, bahkan sempat jatuh ke level 14.000-an pada 2015.

    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait