HSBC PHK 35.000 Karyawan di Tengah Tekanan Kinerja Bisnis

Wabah virus corona berisiko semakin menekan pendapatan dan mengerek jumlah kredit seret di HSBC. Tahun lalu, laba sebelum pajak turun sepertiga.
Martha Ruth Thertina
19 Februari 2020, 12:50
PHK HSBC, PHK Karyawan HSBC, 35 ribu karyawan PHK
Dok. HSBC

HSBC Holding PLC mengumumkan rencana restrukturisasi bisnis besar-besaran. Bank multinasional yang berbasis di Inggris tersebut bakal melepas US$ 100 miliar asetnya, memperkecil bisnis bank investasinya, dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap puluhan ribu pegawainya di Amerika Serikat (AS) dan Eropa dalam tiga tahun.

Secara garis besar, bank yang banyak meraup pendapatan dari operasionalnya di Asia tersebut berencana menggabungkan bisnis wealth dan private banking di Amerika Serikat (AS), memangkas perdagangan saham di Eropa serta kantor cabang retail di AS untuk menghemat biaya sebesar US$ 4,5 miliar.

(Baca: JPMorgan Berencana PHK Ratusan Karyawan)

“Melalui keseluruhan program ini, jumlah pekerja akan berkurang dari 235 ribu menjadi hampir 200 ribu dalam tiga tahun,” kata Interim Chief Executive HSBC Noel Quinn seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/2). Pemangkasan dalam jumlah yang signifikan akan dilakukan untuk level manajemen senior.

Advertisement

Restrukturisasi besar-besaran ini dilakukan di tengah melambatnya ekonomi di berbagai pasarnya, wabah virus corona, Brexit, hingga suku bunga acuan yang lebih rendah. Quinn mengatakan virus corona telah secara signifikan berdampak terhadap staf dan nasabahnya.

Seperti diketahui, HSBC banyak memusatkan bisnisnya di Asia di Hong Kong. Adapun virus corona telah membuhuh hampir 1.900 orang, mayoritas di dataran Tiongkok dan menginfeksi lebih dari 70 ribu orang. Sedangkan dampak ekonominya telah menyebar ke berbagai belahan dunia.

(Baca: HSBC: Perusahaan Indonesia Paling Optimistis Hadapi Prospek Bisnis)

Jika masalah virus corona ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, perusahaan memproyeksikan pendapatan bakal tertekan dan kredit seret bertambah. Ini sebagai dampak dari terganggunya rantai pasokan industri.

Tahun lalu, perusahaan membukukan laba sebelum pajak US$ 13,3 miliar, turun sepertiga dari tahun sebelumnya. Ini juga terjadi seiring penutupan unit bisnis global banking dan commercial banking di Eropa. Di tengah capaian ini, perusahaan memangkas anggaran untuk bonus pekerja sebesar 4% pada tahun lalu.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait