Berkah Level Layak Investasi, Pemerintah Hemat Bunga Utang Rp 6 T

“Dengan investment grade dan suplai investasi yang masuk maka kami tekan imbal hasil SUN,” kata Sri Mulyani Indrawati.
Desy Setyowati
4 September 2017, 18:00
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

Peringkat layak investasi (investment grade) telah membuat imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) kian rendah. Menurut hitung-hitungan pemerintah, ada penghematan beban bunga utang hingga Rp 6 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan, untuk SUN berdenonimasi valuta asing (valas) tenor 10 tahun, yield turun 0,21%. Lalu, yang bertenor 30 tahun turun 0,26%. SUN berdenominasi rupiah juga mengalami penurunan.

Secara rinci, yield SUN rupiah yang bertenor lima tahun turun 0,5%, bertenor 10 tahun turun 0,3%, bertenor 15 tahun turun hampir 0,7%, dan bertenor 20 tahun turun 0,73%. Dengan penurunan yield tersebut, terjadi penghematan bunga utang hingga Rp 6 triliun.

"Artinya untuk investor domestik kami dapat (berhemat) Rp 2,7 triliun per tahun. Kalau SBN valas (turun) 20 basis poin (bps) maka sekitar US$ 250 juta atau sekitar Rp 2,5 triliun sampai Rp 3 triliun,” kata dia saat Rapat Kerja dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (4/9). (Baca juga: Pemerintah Hitung Ulang Nilai Aset Negara untuk Jaminan Utang)

Ia menjelaskan, setelah utang jangka panjang Indonesia memperoleh peringkat layak investasi dari tiga lembaga pemeringkat utama dunia, yaitu Fitch Ratings, dan Moody's, dan Standard and Poor's (S&P), pengelola invetasi (investment fund) di negara lain bisa masuk ke Indonesia. Hal ini membuat pemerintah bisa menekan yield.

"Setiap investment fund ada tata kelola atau rambu-rambu prudent, apakah Jepang, California, Kanada, mereka akan cari SBN yang diterbitkan dengan dapat tiga rating investment grade. Maka dengan investment grade dan suplai investasi yang masuk maka kami tekan imbal hasil SUN," ujar dia.

Pada Juli lalu, total utang pemerintah tercatat sebesar Rp 3.779,98 triliun. Dari jumlah tersebut, nilai penerbitan SBN mencapai Rp 3.045 triliun. Secara rinci, sebanyak 58,4% SBN yang diterbitkan berdenominasi rupiah, 22,2% berdenominasi valas. Sementara itu, pinjaman baik bilateral maupun multilateral tercatat Rp 734,98 triliun. (Baca juga: Di DPR, Sri Mulyani Ungkap Rincian Manfaat Tambahan Utang Rp 313 T)

Video Pilihan

Artikel Terkait