Dongkrak Ekonomi, BI Akhirnya Pangkas Bunga Acuan Jadi 4,5%

BI berani memangkas bunga acuan di antaranya karena inflasi terkendali dan kenaikan bunga dana bank sentral Amerika Serikat (AS) lebih kecil dari prediksi.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
22 Agustus 2017, 19:34
Agus Bank Indonesia
Arief Kamaludin (Katadata)

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) akhirnya memutuskan untuk menurunkan bunga acuan atau BI 7 Days Repo Rate sebesar 0,25% menjadi 4,5%. Level ini merupakan yang terendah sepanjang masa. Sebelumnya, BI tercatat telah mempertahankan bunga acuan tetap di level 4,75% selama 10 bulan.

Gubernur BI Agus Martowardojo berharap penurunan tersebut bisa berdampak positif terhadap laju perekonomian. “Mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” kata dia saat Konferensi Pers di Gedung BI, Selasa (22/8). (Baca juga: Menanti Nyali BI Menurunkan Suku Bunga Acuan)

Seiring dengan penurunan bunga acuan, suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility) dan fasilitas pinjaman (lending facility) juga turun 0,25 % menjadi masing-masing 3,75% dan 5,25%. Adapun kebijakan ini berlaku efektif mulai Rabu (23/8).

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan, kebijakan tersebut diambil dengan empat alasan. Pertama, inflasi yang terkendali bahkan di bawah perkiraan sebelumnya. BI memprediksi inflasi bakal berada di level 4% tahun ini dan 3,5% tahun depan. “Inflasi yang lebih rendah dibanding dulu itu memberi ruang penurunan suku bunga,” kata dia.

Kedua, defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) yang terkendali. Dengan demikian, keseimbangan eksternal dan internal terjaga. Adapun transaksi berjalan menunjukkan aktivitas ekspor-impor barang dan jasa dari suatu negara. Jika nilainya defisit atau minus berarti negara tersebut mengimpor lebih banyak barang dan jasa daripada mengekspor.

Tahun ini, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan berkisar 1,5-2% dan tahun depan 2-2,5%. “Ini lebih rendah dari batas aman current account deficit di Indonesia 3%,” ucap Perry.

Ketiga, kenaikan bunga dana bank sentral Amerika Serikat (Fed Fund Rate) yang lebih kecil dari perkiraan dan tertunda. Menurut Perry, awalnya memperkirakan ada peluang kenaikan dua kali lagi tahun ini. Sekarang, BI memprediksi kenaikan hanya sekali sebesar 0,25%. Itu pun dengan probabilitas yang lebih kecil. “Maka tekanan kenaikan Fed Fund Rate mereda dibanding dulu,” ucapnya.

Keempat, penurunan diharapkan mampu mendorong penyaluran kredit perbankan sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi lebih lanjut. BI memprediksi pertumbuhan kredit hanya mencapai 8-10% tahun ini, turun dari prediksi sebelumnya 10-12%. Adapun hingga Juni lalu, pertumbuhan kredit hanya mencapai 7,6%. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi pada semester I tercatat di level 5,01%, masih jauh dari target yang sebesar 5,2% tahun ini.

Video Pilihan

Artikel Terkait