Penyelamat Krisis 1998 dan 2008 yang Terguncang Pandemi

UMKM berhasil melalui masa sulit saat krisis ekonomi 1998 dan 2008. Namun banyak yang mati suri saat menghadapi pandemi Covid-19.
Image title
Diproduksi oleh Tim Publikasi Katadata
25 Juni 2020, 10:30
UMKM, kementerian koperasi, pandemi corona, edsus umkm, jaga umkm
ANTARA FOTO/Anis Efizudin
Pekerja memproduksi tahu di sentra UMKM kelurahan Brojolan, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2020).

Pandemi corona menghantam usaha Cakue Ko Atek, yang berdiri sejak 1971 di Gang Kelinci, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Berhasil selamat melalui krisis moneter 1998 dan krisis keuangan 2008, Atek, menelan pil pahit menutup usahanya selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Selama tiga bulan saya tak memperoleh pendapatan, hanya di rumah saja,” kata lelaki 64 tahun itu kepada Katadata.co.id, pada pekan lalu.

Cakue Ko Atek merupakan jajanan kuliner yang terkenal di Ibu Kota. Sebelum Covid-19, warung yang buka pukul 10.00 itu akan tutup setelah jam makan siang karena cakue ludes diburu pelanggan. Para pembeli bersedia berjubel dan antre untuk menikmati kudapan renyah bersama sambal pedas.

(Baca: Pelaku Usaha Minta Pemerintah Prioritaskan Belanja Produk UMKM

Atek membuka kembali warung berukuran 8 × 4 meter sejak berlakunya pelonggaran di masa transisi PSBB. Dia mengikuti petunjuk protokol kesehatan di masa normal baru. Atek menggunakan masker dan sarung tangan plastik saat menguleni, memotong, dan menggoreng adonan cakuenya.

Warungnya yang berdinding triplek warna hijau juga dilapisi plastik sebagai pembatas antara Atek dan para pembeli. Istrinya mengatur antrean pelanggan dan menerima uang dari pembeli.

Cakue Ko Atek
Cakue Ko Atek (Katadata/Tri Kurnia)
 

 





 

Ketika Katadata mengunjungi di hari ketiga Atek membuka kembali warungnya, tak terlihat antrean panjang yang biasanya mengular di masa sebelum pandemi. “Mungkin para pelanggan belum tahu saya sudah buka kembali,” kata Atek.

Dia berharap pandemi segera berakhir. Selama 49 tahun beriwirausaha Atek tak pernah merasakan kesulitan yang membuatnya kehilangan pendapatan.

Saat krisis moneter 1998, Atek sempat kesulitan mendapatkan tepung terigu yang menjadi bahan baku membuat adonan cakue. “Banyak pasar yang tutup, tapi masih bisa dicari meski harganya naik,” kata Atek.

Sementara saat krisis keuangan 2008, dia tak merasakan kesulitan apapun. “Seperti tak ada krisis,” kata Atek.

Pengalaman yang sama dirasakan pelaku usaha usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM lainnya, yakni Nanik Soelistiowati. Pemilik Pisang Goreng Madu Bu Nanik terpaksa menutup tokonya selama 2,5 bulan saat diterapkan PSBB.

Katadata Forum
Nanik saat menjadi pembicara Katadata Forum (Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA)
 





 

Nanik yang selama ini mengandalkan berjualan online lewat Gofood dan Grabfood sempat ditegur Satpol PP di masa pandemi. Pangkalnya, toko Nanik yang terletak di Tanjung Duren, Jakarta Barat itu saban hari selalu dipenuhi antrean ojek online.

Lalu, dia menutup toko baik online dan offline selama 2,5 bulan. Pegawainya pun dirumahkan. Namun, di saat yang sama, Nanik tetap mengeluarkan biaya untuk menggaji karyawannya. “Meski tidak penuh,” ujar dia.

Sejak 18 Juni lalu, Nanik kembali berjualan online. Dia berusaha mencegah antrean dan kerumunan di depan toko. Caranya, dia hanya menjual satu jenis makanan yakni pisang dan hanya menawarkan dua macam paket dengan pilihan isi lima dan 10 biji pisang. Harapannya, ojol tak lagi berdesakkan dan terlalu lama di toko.

Nanik mengatakan, pandemi corona ini benar-benar memukul usahanya dibandingkan krisis ekonomi 1998 dan 2008. Pada 1998 ketika menjalankan usaha katering makanan untuk para pegawai hotel, dia pernah merugi karena naiknya harga bahan baku. Sementara kontrak yang ia teken menggunakan acuan harga lama.

Ketika itu Nanik memiliki kontrak membuat 2000 porsi makanan setiap hari untuk lima hotel. Beruntungnya, kerugian dapat ditekan saat dia memperbarui kontrak yang rata-rata berlaku enam bulan. “Saya naikkan harga untuk menutupi kerugian saat membuat kontrak baru,” kata Nanik.

Lain halnya saat krisis keuangan pada 2008, Nanik tak merasakan kesulitan. Ketika itu dia mulai melebarkan sayap menjajakan pisang goreng madu. Usahanya malah berjalan lancar dan dia tak memiliki masalah keuangan. “Saya tak pernah punya kredit bank, selalu mengandalkan modal pribadi,” kata dia.

Atek dan Nanik mewakili kisah para pelaku UMKM di Indonesia. Total UMKM di Indonesia pada 2018 sebanyak 64,2 juta, meningkat dari tahun sebelumnya 62,9 juta. Peran UMKM ini sangat strategis. Mereka menyerap tenaga kerja hingga117 juta orang pada 2018.

 

 


Penyelamat Badai Krisis 1998 dan 2008

Indonesia menghadapi hantaman badai krisis moneter pada 1998. Indeks bursa saham terjun bebas. Rupiah rontok dari Rp 2.500 menjadi 16.650 per dolar Amerika Serikat. Di sektor keuangan, pemerintah melikuidasi belasan bank. Utang perusahaan-perusahaan pun membengkak dan banyak korporasi besar yang bangkrut.

Ketika itu UMKM merupakan penyelamat dan penopang perekonomian Tanah Air. Di tengah situasi yang serba sulit, UMKM masih menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah tenaga kerja pada saat krisisi ekonomi 1998 di UMKM sebanyak 64,31 juta. Angka ini sedikit turun 1,96 % dibandingkan 1997 yang mencapai 65,6 juta jiwa. Setahun setelah krisis, tenaga yang terserap kembali meningkat 4,4 % menjadi 67,16 juta orang.




Pada 2008, Indonesia turut terseret krisis keuangan global yang dipicu subprime mortgage yang dimulai di Amerika Serikat. Lagi-lagi, UMKM berandil besar dalam mempertahankan denyut ekonomi masyarakat. Berdasarkan data BPS, jumlah penyerapan tenaga kerja malah meningkat 3,9 % menjadi 90,49 juta jiwa dibandingkan tahun sebelumnya.



Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki menyatakan, UMKM ketika 1998 berhasil menambah devisa dengan meningkatkan ekspor. Mereka meraup tingginya kurs dolar AS. Produk UMKM yang dikirm ke luar negeri saat itu terutama furnitur dan bahan baku lokal hasil laut dan pertanian. “Ketika banyak (industri) berjatuhan, ekspor UMKM justru naik 350 persen,” ujar Teten.

Center for Information and Development Studies (CIDES) pernah membuat analisis mengenai tiga faktor yang membuat UMKM mampu bertahan menghadapi krisis 1998 dan 2008. Pertama, UMKM pada umumnya menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat sehingga permintaannya selalu ada.

(Baca: Sri Mulyani Sebut Covid-19 Lebih Kompleks dari Krisis 1998 dan 2008)

Kedua, pelaku UMKM memanfaatkan sumber daya lokal terkait tenaga kerja, bahan baku, dan peralatan. Sebagian besar UMKM tidak mengandalkan barang impor yang sangat terpengaruh fluktuasi rupiah. Ketiga, bisnis UMKM tidak banyak ditopang dana perbankan, melainkan dari kocek pribadi.

CIDES menyebutkan fenomena yang sama terjadi di sejumlah negara sejak lama, seperti Jepang usai luluh lantak oleh bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945.

Berbeda dengan kondisi krisis pada 1998 dan 2008, UMKM terkena hantaman paling awal saat virus corona merebak. Pandemi membuat daya beli masyarakat secara global anjlok, ditambah pembatasan sosial yang menghambat ruang gerak UMKM.

Pengusaha sekaligus calon wakil presiden 2019-2024 Sandiaga Salahuddin Uno memproyeksikan bahwa 47 % UMKM telah berhenti beroperasi akibat pandemi. Sisanya para UMKM tetap buka dengan omzet yang drop.

Sandi juga menyebut potensi jumlah pengangguran mencapai 10 juta hingga 15 juta orang tahun ini yang sebagian besar dari sektor informal dan UMKM. Dia mengusulkan agar pemerintah memprioritaskan UMKM untuk segera bangkit dengan memberikan insentif yang tepat sasaran.

Hasil survei Katadata Insight Center (KIC) terhadap 206 responden pemilik UMKM menunjukkan mayoritas pelaku usaha yang bertahan dari krisis ekonomi 1998 dan 2008 melanjutkan usahanya di masa pandemi dengan berlalih ke sistem pemasaran online. Selain itu membuat produk atau usaha baru dan mendapatkan modal tambahan.



Seiring dengan hasil survei KIC, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat sejak 14 Mei hingga 9 Juni 2020 sebanyak 301.115 UMKM beralih ke digital. Teten Masduki mengatakan bahwa masa pandemi sebenarnya menjadi kesempatan bagi UMKM untuk migrasi ke pasar online.

Atek adalah salah satu pemilik UMKM yang menjadi tertarik berdagang online setelah merasakan tutup warung selama tiga bulan di masa PSBB. Sebelumnya, setiap ajakan bergabung online selau dia tampik.

Reporter: Tri Kurnia Yunianto, Rizky Alika
Penulis: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait