Negara Maju Masih Lesu, Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global

Maria Yuniar Ardhiati
8 Juni 2016, 13:54
Bank Dunia
Arief Kamaludin|KATADATA

Ekonomi dunia belum pulih. Bank Dunia pun memangkas proyeksi pertumbuhan global dari 2,9 persen menjadi 2,4 persen. Revisi ini dilakukan setelah mengamati perlambatan pada pertumbuhan negara-negara maju. Selain itu, rendahnya harga komoditas, lemahnya perdagangan dunia, dan berkurangnya arus global juga menjadi pertimbangan dalam penurunan target tersebut.

Laporan Global Economic Prospects menyebutkan, negara-negara berkembang termasuk pengekspor komoditas sedang berusaha beradaptasi terhadap kejatuhan harga minyak dan komoditas utama lainnya. Kondisi ini berkontribusi terhadap separuh dari revisi pemangkasan. Pertumbuhan di kelompok negara ini bahkan diproyeksikan turun dari 1,2 menjadi 0,4 persen.

“Pertumbuhan yang lambat ini menegaskan pentingnya negara menerapkan kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi serta perbaikan kesejahteraan,” kata Presiden Kelompok Bank Dunia Jim Yong Kim melalui keterangan resminya, Rabu, 8 Juni 2016. (Baca: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2016 Meleset di Bawah Target).

Bank Dunia menjelaskan, negara berkembang yang mengimpor komoditas lebih mampu bertahan dibanding negara pengekspor, meski keuntungan akibat turunnya harga energi dan komoditas lain belum terlalu berpengaruh. Untuk kelompok negara itu, pertumbuhan diproyeksi sebesar 5,8 persen atau turun 0,1 persen dari tahun lalu. Rendahnya harga energi dan pulihnya ekonomi negara maju menjadi penyebab turunnya proyeksi pertumbuhan tahun ini.

Di antara negara-negara berkembang yang besar, pertumbuhan Cina diprediksi mencapai 6,7 persen tahun ini, turun dari 6,9 persen pada 2015. Sementara itu, ekspansi ekonomi India diperkirakan stabil pada angka 7,6 persen. (Baca: Darmin: Pertumbuhan Ekonomi 5,3 Persen Sangat Mungkin Tercapai).

Sementara itu, Afrika Selatan diprediksi mengalami pertumbuhan sekitar 0,6 persen atau 0,8 persen lebih lambat dibanding proyeksi pada Januari lalu. Dua negara, yaitu Brasil dan Rusia, diperkirakan berada pada resesi yang lebih dalam dibanding perkiraan di awal tahun.

Dalam pertumbuhan yang melambat, perekonomian global menghadapi risiko-risiko besar. Beberapa di antaranya adalah perlambatan lebih lanjut di negara berkembang, perubahan besar pada sentimen pasar finansial, stagnasi negara maju, lamanya periode harga rendah untuk komoditas, serta kekhawatiran terhadap efektivitas kebijakan moneter dalam mendorong pertumbuhan.

“Satu perkembangan yang perlu diantisipasi adalah pesatnya tingkat utang swasta di beberapa negara berkembang,” kata Ekonom Utama dan Wakil Presiden Senior Bank Dunia Kaushik Basu. Ia menjelaskan, saat tren pinjaman melonjak, akan ada potensi macetnya pinjaman hingga empat kali lipat. (Baca: Ditopang Tax Amnesty, Bambang Yakin Pertumbuhan Ekonomi Tercapai).

Global Economic Prospects melaporkan, suku bunga yang rendah telah meningkatkan pertumbuhan sektor kredit swasta. Naiknya kebutuhan pembiayaan juga ikut mempertajam potensi risiko sejumlah negara berkembang.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait