Opini

Kolaborasi, Kunci Pertamina Menuju Kelas Dunia

Belum genap sepuluh tahun sebagai korporasi namun terasa begitu banyak harapan yang digantungkan kepada Pertamina Kendati sebagai lembaga sudah berusia sekitar 66 tahun namun sebagai korporat atau entitas bisnis Pertamina boleh dibilan

KATADATA ? Belum genap sepuluh tahun sebagai korporasi, namun terasa begitu banyak harapan yang digantungkan kepada Pertamina. Kendati sebagai lembaga sudah berusia sekitar 66 tahun, namun sebagai korporat atau entitas bisnis, Pertamina boleh dibilang baru lahir September 2003. Itu seiring dengan ditetapkannya Pertamina sebagai badan usaha milik negara menyusul pemberlakuan UU Minyak dan Gas Bumi No 22/2001. UU ini memisahkan fungsi regulator dari Pertamina sehingga diharapkan fokus sebagai operator.

Sebagai operator bisnis hulu dan hilir migas, Pertamina pun diharapkan mampu bersaing menjadi perusahaan kelas dunia. Sejak itu, secara perlahan Pertamina terus berbenah dan berubah agar mampu mewujudkan visi menjadi 15 besar perusahaan energi di tingkat dunia pada 2025. Pada saat itu, Pertamina ditargetkan mampu meraih pendapatan US$ 200 miliar dan laba US$ 40 miliar.

Selama satu dekade perjalanan Pertamina sebagai korporasei, pencapaian-pencapaian baru telah diraih. Itu terlihat dari sejumlah indikator. Misalnya, dari indeks good corporate governance (GCG), pada saat awal menjadi persero, skor GCG Pertamina masih sekitar 53, namun sekarang jauh melesat ke 93,5. Tingkat kesehatan perusahaan berdasarkan Peraturan Menteri BUMN, juga sudah menyentuh angka 94,5, nyaris berada di peringkat AAA dengan batas terbawah 95.

Dari sisi kinerja, pendapatan Pertamina pada tahun lalu telah mencapai US$ 71 miliar. Perolehan laba terus meningkat dan mencapai US$ 2,76 miliar pada 2012, tertinggi sepanjang sejarah Pertamina. Tahun depan target labanya menjadi US$ 3,4 miliar, lebih dari Rp 30 triliun.

Demikian halnya dari sisi produksi. Bila 10 tahun lalu, Pertamina masih berada di posisi ketiga sebagai produsen minyak dengan pangsa produksi minyak hanya 8 persen, namun sekarang sudah di posisi kedua dengan pangsa produksi jauh melesat menjadi 24 persen. Posisi pertama masih dikendalikan oleh Chevon Pacific Indonesia dengan pangsa lebih dari 40 persen.

Kendati sudah mengalami kemajuan positif, namun bila dibandingkan dengan perusahaan minyak nasional dari negara-negara lain, Pertamina masih kalah jauh. Taruhlah dari 20 national oil company (NOC), Pertamina tetap berada pada posisi paling bawah dari sisi kinerjanya. Padahal, seandainya Pertamina fokus di bisnis hulu saja, BUMN ini bisa menghasilkan keuntungan sebesar US$ 4 miliar.

Itu bisa terjadi lantaran Pertamina berbeda dengan NOC-NOC lainnya. Di sini, Pertamina tidak hanya fokus pada bisnis hulu, melainkan juga bisnis hilir. Pertamina juga dibebani tugas-tugas lainnya, seperti menjalankan tuga pemerintah untuk menjual bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi serta elpiji bersubsidi.

Bahkan, Pertamina harus memikul beban yang tidak seharusnya ditanggung. Contohnya untuk elpiji 12 kilogram, BUMN migas ini harus menanggung defisit Rp 5 triliun setiap tahun. Ironisnya, ini sudah berjalan selama empat tahun berturut-turut. Akibat politik harga yang ditentukan pemerintah, lagi-lagi modal Pertamina harus tererosi kurang lebih Rp 20 triliun. Namun karena sebagai BUMN tak hanya mencari untung, melainkan juga menjadi agent of development, kami terima dengan ikhlas.

Di sisi lain, Pertamina juga harus menyisihkan keuntungannya untuk disetorkan ke pemerintah dalam bentuk dividen. Bahkan, sepanjang 2003-2009, dividen pay out ratio atau proporsi dividen yang dibayarkan Pertamina ke pemerintah mencapai 93 persen. Artinya, setiap satu dolar keuntungan Pertamina, 93 sen diserahkan ke pemerintah dalam bentuk dividen.

Bandingkan dengan perusahaan swasta, mana ada yang menerapkan setoran dividen hingga 93 persen ke pemegang saham. Paling besar hanya sekitar 15-20 persen dividen yang diserahkan. Dibandingkan dengan NOC lainnya juga jauh berbeda. Petronas memang pernah 50 persen, namun sekarang jauh lebih kecil dari itu.  

Dalam dua tahun terakhir, pemerintah sudah menurunkan setoran dividen dari Pertamina menjadi sekitar 50 persen. Namun, tetap saja itu masih cukup memberatkan Pertamina sebagai perusahaan migas yang dituntut mengalokasikan dana investasi dalam jumlah besar. Kita seharusnya melihat Pertamina secara apple to apple. Jangan katakan pendapatan sebelum dipotong pajak, bunga, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) Pertamina 1/10 dari Petronas, karena bisnis modelnya berbeda.

Untuk menggapai target menjadi perusahaan kelas dunia, tantangan yang dihadapi Pertamina memang tidak ringan. Salah satu yang utama adalah soal kepercayaan atau trust. Persoalan kepercayaan ini pula yang dihadapi Petronas pada 20 tahun lalu.

Melalui berbagai perubahan dan pembenahan tata kelola perusahaan, saya berharap agar publik dan stakeholder di industri migas membuang kecurigaan terhadap Pertamina. Apalagi, Pertamina telah menunjukkan kinerja operasional yang cukup bagus. Misalnya saja dalam pengelolaan Blok ONWJ yang diambil Pertamina dari BP pada 2009. Pada saat awal diambil, produksinya sudah menurun sampai 23 ribu barel minyak mentah dan 200 juta kaki kubik gas per hari (mmscfd). Namun, hari ini produksinya sudah menembus 43 ribu barel minyak per hari dan gas 225 mmscfd.

Demikian halnya dengan Blok West Madura Offshore (WMO). Awalnya, dicurigai produksinya bakal menurun, namun belakangan terbukti bisa ditingkatkan. Sebelum diambil Pertamina produksi WMO memang hanya sekitar 13 ribu barel minyak per hari, namun sekarang sudah mendekati 18 ribu barel minyak per hari. Kami berkeyakinan produksinya akan mencapai titik 26-27 ribu barel per hari. Jadi tidak betul Pertamina tidak mampu mengambil blok offshore.

Untuk mengembangkan Pertamina ke depan, tentunya tidak mungkin Pertamina bekerja sendiri. Diperlukan kolaborasi dengan operator lain, khususnya perusahaan migas luar negeri. Dalam posisi sekarang, untuk mempertahankan produksi minyak nasional lebih dari 800 ribu barel per hari, dibutuhkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 20 miliar. Namun bank dalam negeri tidak mampu menyediakan dana sebanyak karena terkendala oleh ketentuan batas maksimum pemberian kredit (BMPK). Itu terbukti dari upaya Pertamina setiap tahun mendatangi seluruh bank pemerintah, namun mereka tidak sanggup.

Jadi merupakan kebodohan jika kita mendikotomikan antara kontraktor lokal dan asing. Apalagi, karakter industri minyak tergolong industri yang padat modal, padat teknologi dan berisiko tinggi. Dalam pengelolaan blok-blok migas besar di dunia, juga tidak ada yang dikerjakan sendiri. Di Kazakhstan misalnya, ExxonMobil bersanding dengan ConocoPhillips, BP dan Shell. Jadi, untuk membangun Pertamina menjadi perusahaan besar, tak bisa dipungkiri kemitraan dan kolaborasi adalah sebuah keniscayaan.

Artikel opini ini disarikan dari paparan Sugiharto, Komisaris Utama Pertamina dan mantan Menteri Negara BUMN di acara peluncuran buku "Wajah Baru Industri Migas Indonesia" pada 12 Juni 2013 di Jakarta. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler