Wawancara

Sektor Usaha Andalan Saat Ini Pertanian, Pariwisata, Kesehatan

Penyiapan SDM bukan suatu hal yang dapat dilakukan secara instan. Untuk itu membutuhkan jenderal yang memiliki dedikasi terhadap SDM.

Heri Susanto

Teddy Rahmat
Ilustrator: Betaria Sarulina

Theodore Permadi Rachmat atau akrab disapa Teddy Rachmat, salah seorang pengusaha kawakan di Indonesia. Dikenal sebagai tokoh yang  membesarkan Grup Astra, dia kemudian merintis pendirian Triputra Group tahun 1998. Kelompok usaha ini bergerak di sektor agribisnis, manufaktur, pertambangan, dan perdagangan.

Ciri khasnya dalam membangun suatu bisnis adalah selalu menanamkan nilai bahwa bisnis harus menghasilkan warisan berupa nilai-nilai kehidupan yang berkesinambungan, bukan uang atau materi. Karena itu, saat Teddy masih berkarier di Astra, lahir Astra Executive Training Centre yang menjadi cikal bakal Astra Management Development Institute.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Dalam wawancara khusus dengan Ade Wahyudi dan Heri Susanto dari katadata.co.id, beberapa waktu lalu, Teddy menjelaskan pentingnya penyiapan sumber daya manusia (SDM) di tengah revolusi industri berbasiskan teknologi digital saat ini. Berikut ini petikan wawancaranya.

Apa saja strategi atau langkah-langkah yang harus dilakukan pemerintah menghadapi revolusi industri 4.0?

Pertama-tama kita harus melakukan identifikasi sektor apa yang akan mendorong pertumbuhan (engine of growth), menciptakan iklim serta ekosistem yang mendukung, dan identifikasi hal-hal yang berpotensi menjadi penghambat untuk dicarikan jalan keluarnya. Contohnya seperti aturan-aturan yang tidak relevan lagi pada masa sekarang.

Jika semua itu sudah dilakukan maka bisa dilakukan analisa terhadap demand-supply tenaga kerja terhadap sektor yang akan menjadi engine of growth tersebut. Tidak harus selalu tepat, plus-minus 20% menurut saya masih bisa ditolerir.

Apakah ini sejalan dengan saran Presiden Joko Widodo harus juga membuka jurusan-jurusan baru yang mengikuti perkembangan?

Iya, betul. Dalam mempersiapkan jurusan baru kan harus dilakukan persiapan dan perencanaan yang matang. Pendidikan vokasi kita sebenarnya sudah siap, hanya butuh jenderalnya saja yang benar-benar memiliki fokus dan dedikasi terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

Berarti ini membutuhkan proses yang sangat panjang?

Tentu saja. Penyiapan SDM bukan suatu hal yang dapat dilakukan secara instan. Itulah mengapa saya bilang butuh jenderal yang memiliki dedikasi terhadap SDM. Jika memang belum mampu membuktikan tapi punya visi serta etos kerja yang baik, ya beri kesempatan untuk belajar. Kita saja punya CEO yang sudah 10 tahun memimpin belum diganti.

Dan satu lagi yang paling penting adalah kebutuhan faktor pendukung (enabler). Pemerintah harus merangkul swasta sebagai enabler (mempercepat pencapaian) dari kebijakan-kebijakan yang diambil.

Apa sektor usaha yang dapat menjadi andalan Indonesia?

Menurut saya pertanian, pariwisata dan kesehatan. Pertanian sudah jelas bahwa sektor ini berperan sebagai penggerak utama perekonomian terutama di pedesaan ditambah dengan banyak komoditas yang berpotensi untuk dikembangkan. Masalah pertanahan juga perlahan sudah dibenahi oleh pemerintah.

Lalu untuk pariwisata, pemerintah sudah bagus dengan menetapkan “10 Bali Baru” ditambah dengan penyiapan infrastruktur pendukungnya. Tapi jika bisa 30 atau 40 (Bali Baru) mungkin akan lebih bagus lagi.

Untuk kesehatan sangat berpotensi untuk dikembangkan. Di Indonesia pasarnya besar, tapi kenyataanya masih ada segelintir orang yang berobat ke Singapura. Di Amerika Serikat saja, 23% dari PDB atau Produk Domestik Brutonya adalah sektor kesehatan. Padahal sektor ini bisa memberikan lapangan pekerjaan yang sangat banyak, seperti contohnya perawat-perawat.

Bagaimana cara sektor kesehatan maupun sektor lainnya dapat kompetitif dengan negara lain?

Dengan kompetisi akan mengubah semuanya. Membuat suatu kompetisi itu jangan dihalang-halangi. Contoh kasus saat Shell diperbolehkan masuk ke Indonesia. Itu malah membuat Pertamina melakukan perbaikan. Namun tetap harus dikontrol, bukan dengan dibuka secara luas. Lalu seperti yang dikatakan sebelumnya, pemerintah butuh enabler melalui sinergi dengan swasta.

Jadi, seperti sektor otomotif yang sekarang sudah berjalan ya?

Iya, justru itu yang sekarang paling maju di Indonesia. Vokasi ketenagakerjaan sektor otomotif di Indonesia melalui dukungan swasta sudah cukup baik. Tinggal dicontoh sektor-sektor lainnya.

Bagaimana memanfaatkan tren otomatisasi terhadap sektor usaha yang bisa diandalkan di masa depan?

Kita harus membekali sumber daya manusia yang ada untuk beralih ke profesi lain namun berada di rantai nilai yang sama.Contoh, saat sekarang akibat adanya tren belanja online maka banyak orang beralih profesi dari penjaga toko menjadi tukang ojek online.

Artinya mau tidak mau harus berubah?

Iya, harus bisa dan mau berubah. Nanti perlahan-lahan dimatangkan serta ditingkatkan skill-nya.

Jika sektor-sektor andalan bisa mengikuti perkembangan tersebut, bagaimana Anda melihat ekonomi Indonesia 5-10 tahun ke depan?

Paling tidak kita bisa menyamai Thailand. Thailand kan PDB per kapitanya sudah hampir dua kali dari Indonesia. Ditambah kita mempunyai pasar yang besar sehingga posisi daya tawar kita juga lebih tinggi.

Tetap satu yang saya kira penting sekali adalah political stability. Kita harus kurangi gonjang-ganjing yang mengganggu kestabilan terutama antarsesama masyarakat. Caranya dengan mengurangi kesenjangan, lebih banyak pembauran dan meningkatkan tingkat edukasi.