Wawancara

Penerapan Teknologi Industri 4.0 Tak Perlu 100%

Sritex ke depannya tidak hanya fokus pada hasil akhir produk, tapi juga memperhatikan pasokan bahan baku.

Yuliawati dan Hari Widowati,

CEO PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) Iwan Setiawan Lukminto
Katadata
CEO PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) Iwan Setiawan Lukminto

Pemerintah meluncurkan peta jalan (road map) bertajuk Making Indonesia 4.0, dalam acara Indonesia Industrial Summit (IIS) 2018, Jakarta, Rabu (4/4). Dalam acara tersebut, CEO PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex Iwan Setiawan Lukminto merupakan salah satu pebisnis yang membagi pengalamannya dalam menerapkan industri 4.0 di perusahaannya.

Sritex sebagai produsen tekstil dan produk tekstil skala internasional telah menerapkan teknologi industri 4.0 dan berhasil mencapai efisiensi sekaligus menjaga kualitas produk. Selama lima tahun terakhir Sritex menghabiskan US$ 100 juta dalam menerapkan otomatisasi, robotisasi, dan digitalisasi hampir di sebagian lini produksi.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Iwan mengatakan, keuntungan yang didapatkan dari penerapan teknologi ini tak bisa langsung dirasakan. "Paling tidak kami menghitung (untuk proses) 20 tahun ke depan," kata Iwan, dalam presentasinya.

Adaptasi terhadap teknologi dan inovasi yang tak pernah berhenti merupakan kunci sukses dari perusahaan yang menginjak usia 52 tahun ini. Perusahaan yang berawal dari toko di Pasar Klewer, Solo pada 1966, kini lebih dari 50% produksinya untuk memenuhi permintaan pasar internasional.

Sritex saat ini mengintegrasikan empat proses produksi yakni spinning (pemintalan benang), weaving (penenunan), finishing, dan garmen. Integrasi ini dianggap tidaklah cukup, Iwan Lukminto sedang menyiapkan bisnis Hutan Tanaman Industri yang dapat memasok bahan baku serat rayon buat Sritex. 

Apabila ini terealisasi, maka kelompok usaha Sritex akan menjadi satu-satunya perusahaan tekstil yang juga mengelola bahan baku.

Berikut wawancara Yuliawati dan Hari Widowati dari Katadata.co.id dengan Iwan Lukminto yang ditemani Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam, beberapa waktu lalu. Welly kerap memberikan penjelasan tambahan untuk beberapa bagian dalam wawancara ini.

Apa strategi yang diterapkan Sritex menghadapi berbagai tantangan di bisnis tekstil tahun ini?

Ada tiga strategi yang kami siapkan tahun ini. Pertama, kami berkonsolidasi di bagian produksi setelah kami berhasil investasi tahun lalu. Rencananya tahun ini kami meningkatkan kapasitas hingga penuh.

Kedua, kami mengkonsolidasikan perusahaan yang kami ambil alih akhir tahun lalu yakni dua perusahaan pemintalan benang PT Primayudha Mandirijaya dan PT Bitratex Industries. Ketiga, kami memperbaiki strategi agar tim Recerach & Development dapat menciptakan produk yang baru, juga meningkatkan link market yang ada sehingga lebih besar. Selain itu yang pasti secara keuangan kami berharap terus meningkat di segala sisi.

(Sritex mengakuisisi Primayudha Mandirijaya dan Bitratex Industries dengan nilai US$ 85 juta atau Rp 1,14 triliun. Berdasarkan data laporan keuangan, selama 2017, Sritex membukukan penjualan US$ 759,3 juta atau naik 12% dari tahun sebelumnya.)

Bagaimana Sritex melihat prospeknya bisnis tekstil tahun ini?

Saya melihat tahun ini lebih bagus, tahun lalu itu sebetulnya yang paling jelek, karena market terlalu volatile dan pembelian yang masih kurang. Kenaikan harga minyak dunia membuat trigger harga (produk tekstil) naik, saya rasa feasibility tahun ini sangat baik.

Di kuartal I tahun ini kami sudah mendapatkan order booking yang penuh sampai Juli-Agustus. Kami tinggal menambah beberapa order hingga akhir tahun. Jadi, kami melihat tahun ini prospeknya luar biasa.

Pencapaian ini juga terkait realisasi ekspor tekstil Indonesia yang tumbuh melebihi ekspektasi yakni mencapai US$ 12,4 miliar. Padahal tahun lalu asosiasi menargetkan US$ 11,8 miliar dan Kementerian Perindustrian US$ 12,09 miliar. Setelah target tercapai, mereka lebih berani pasang target di 2018 yakni naik 9% menjadi US$ 13,5 miliar dan US$ 15 miliar pada 2019. Pandangan bahwa tekstil masih dianggap sebagai industri sunset, itu tidak benar.

Apa perubahan yang dirasakan dalam proses bisnis di era digital?

Pertama, transaksi yang serba cepat. Dunia meminta transaksi serba cepat dan ini memengaruhi cara berproduksi yang semakin lama semakin cepat, konsumen meminta short term delivery.

Konsumen mencari perusahaan yang bisa membuat mereka nyaman, yang sistemnya terintegrasi, memiliki garmen dan tekstil yang solid seperti Sritex.

Jangka waktu produksi semakin pendek untuk memenuhi kebutuhan konsumen di online business yang memang menuntut cepat. Tetapi ini bukan masalah, order dari online business ini malah bagus.

Kedua, kualitas produk. Walaupun proses produksi menjadi lebih cepat tetapi kualitas produk juga harus dijaga. Kami bisa memenuhi kriteria itu semua. Ketiga, compliance yang bagus dan kami berhasil memenuhinya karena terus melakukan audit. Itulah yang membuat kami bisa menyuplai produk ke pasar ekspor.

industri tekstil

Peserta beasiswa industri tekstil mengikuti praktek pelatihan di Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta, Solo, Jawa Tengah, Senin (12/3/2018).(ANTARA FOTO/Maulana Surya)

 

Saat ini Sritex telah menggunakan teknologi 4.0, bisa dijelaskan penerapannya?

Jadi begini, waktu dalam proses produksi tekstil itu terus dikompres dan dipercepat. Setiap proses itu disesuaikan. Proses digitalisasi terjadi pada sistem desain tapi tidak bisa diterapkan pada sistem tenun. Sistem tenun menggunakan sistem robotik, lebih ke arah sistem PLC (Programmable Logic Controller) dengan menggunakan algoritma untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi.

Spinning (pemintalan) juga begitu, menggunakan robotik untuk mengambil barang dan lain-lain. Sedangkan untuk pekerjaan pewarnaan, mengunakan sistem digital print. Nanti di garmen, trennya akan menggunakan robotik.

Kami juga mengadakan riset dan beberapa proses (produksi) kami short cut, sehingga total supply chain jadi pendek. Proses produksi dari benang hingga barang jadi yang sebelumnya membutuhkan waktu sebulan menjadi hanya dua minggu. Pola (kerja) ini masih terus kami kembangkan, kami dalam proses menuju arah dua minggu. Ini tidak mudah, teknologi yang dibutuhkan terkadang belum tersedia.

Berapa banyak mesin-mesin yang ada mengadopsi teknologi 4.0?

Sebagian memang sudah, namun kita tidak harus 100% pakai mesin (teknologi 4.0) karena kami memiliki pegawai, dan bila menggunakan mesin 100%, sudah tak ada purpose-nya. Tapi kami juga tidak boleh meninggalkan teknologi, jadi harus pas (sesuai kebutuhan)

Apakah ada dampak pengurangan karyawan dengan penggunaan teknologi ini?

Karyawan Sritex berjumlah 15.000 orang (termasuk tingkatan manajemen) tersebar di seluruh pabrik. Penggunaan mesin digital memang mengurangi kebutuhan karyawan, namun tak ada pemecatan di Sritex karena kami serap dengan adanya ekspansi.

(Sritex memiliki 24 pabrik spinning, 7 pabrik weaving, 5 pabrik finishing, dan 11 garmen.)