Kapan Pandemi Covid Berakhir? Ini Kalkulasi Bloomberg Vaccine Tracker

Bloomberg Vaccine Tracker menghitung proses vaksinasi di sejumlah negara. Semakin banyak yang divaksin, semakin cepat pertahanan kolektif terjadi.
Image title
Oleh Doddy Rosadi - Tim Riset dan Publikasi
6 Februari 2021, 15:07
Petugas mempersiapkan vaksin CoronaVac untuk diberikan kepada petugas medis saat vaksinasi COVID-19 dosis kedua di RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru, Riau, Kamis (28/1/2021). Pemerintah menargetkan realisasi vaksinasi COVID-19 meningkat hingga sebanyak s
ANTARA FOTO/FB Anggoro/rwa.

Kapan pandemi Covid-19 berakhir? Mungkin pertanyaan itu yang paling sering ada di kepala setiap orang sejak virus Covid-19 mulai menginfeksi ke seluruh dunia. Jawabannya bisa ditemukan melalui vaksinasi.

Bloomberg telah membangun pusat data terbesar mengenai vaksinasi yang sudah dilakukan di seluruh dunia. Sejauh ini sudah lebih dari 119 juta dosis vaksin didistribusikan.

Pakar kesehatan dari Amerika Serikat, Dr Anthony Fauzi mengungkapkan, perlu 70-85 persen dari total populasi divaksinasi agar kehidupan kembali normal. Bloomberg Vaccine Tracker menunjukkan sejumlah negara membuat kemajuan pesat dibandingkan negara lain, yaitu telah melakukan 75 persen dua kali vaksinasi. Demikian seperti dikutip dari The Straits Times, Sabtu 06/02/2021.

Dalam jangka waktu pendek, akan ada lebih banyak lagi warga yang divaksinasi. Sementara itu, perusahaan farmasi terus menggenjot produksi vaksin. Israel merupakan negara dengan tingkat vaksinasi tertinggi di dunia, yaitu hampir mencapai 75 persen dalam kurun waktu dua bulan.

Proses vaksinasi berjalan sangat cepat di negara-negara Barat yang kaya dibandingkan negara lain. Apabila hal ini terus terjadi, maka perlu waktu tujuh tahun untuk bisa memvaksinasi 75-80 persen penduduk dunia.

Bloomberg membuat kalkulasi dengan rancangan tingkat vaksinasi yang terjadi saat ini. Kalkulasi itu menggunakan rata-rata vaksinasi yang sedang berjalan. Artinya angka vaksinasi meningkat maka waktu yang diperlukan untuk mencapai ambang batas 75 persen akan berkurang.

Kalkulasi masih bersifat labil terutama pada awal pemberian vaksin dan jumlahnya juga masih bisa terdistorsi dengan sejumlah gangguan. Sebagai contoh, target vaksinasi di kota New York diprediksi rampung selama 17 bulan. Padahal sebelumnya vaksinasi ditargetkan bisa selesai dalam waktu 13 bulan.

Hal yang sama juga dialami Kanada. Diperkirakan perlu waktu 10 tahun untuk mencapai angka 75 persen warga divaksinasi.

Lalu bagaimana dengan Tiongkok yang mempunyai jumlah penduduk terbesar di dunia? Dengan target 1 juta vaksinasi setiap hari, Tiongkok perlu waktu hampir 5,5 tahun untuk mencapai angka 75 persen.

Hal lebih buruk dialami India, Indonesia dan Rusia yang diperkirakan perlu waktu lebih lama yaitu 10 tahun. Ini terjadi apabila proses vaksinasi yang terjadi saat ini tidak bisa dipercepat.

Lebih dari 8,5 miliar dosis vaksin telah dipesan oleh sejumlah negara melalui 100 perjanjian yang dipantau Bloomberg. Hanya sepertiga negara yang telah memulai vaksinasi.

Semakin banyak warga yang divaksin maka sekelompok orang akan membangun pertahanan kolektif terhadap virus. Ini bisa mencegah terjadinya penyebaran virus secara masif. Hal ini dikenal dengan nama herd immunity atau kekebalan kolektif.

 

Apakah cukup ketika masyarakat sudah terlindungi bisa mencegah transmisi virus? Itu semua bisa terjadi apabila 75 persen warga di dunia sudah mendapatkan dua kali vaksinasi.

Meski sudah ada bukti bahwa orang yang sudah sembuh akan memiliki kekebalan, tapi tidak jelas berapa lama perlindingan itu bisa bertahan. Karena itu, vaksinasi tetap direkomenddasiikan kepada penyintas. Apabila proses vaksinasi masih berjalan lambat seperti saat ini, maka perlu waktu paling lama tujuh tahun agar 75 persen penduduk dunia bisa mendapatkan vaksinasi.

Di Indonesia, vaksinasi juga sudah dimulai. Pada tahap awal vaksinasi dimulai terhadap orang-orang yang berisiko tinggi terkena penularan virus Covid-10 seperti para tenaga kesehatan. Vaksinasi akan terus dilakukan secara bertahap. Namun, vaksinasi saja tidak cukup untuk menghilangkan pandemi Covid-19. Setelah divaksinasi pun masyarakat tetap harus menerapkan protokol kesehatan 3M.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait