Milenial Paling Banyak Beli Rumah Seharga Rp 500 Juta

Di kota-kota besar, rumah seharga Rp 500 juta umumnya berukuran mungil, antara 22-70 meter persegi.
Desy Setyowati
24 Januari 2019, 16:02
Perumahan
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Buruh bangunan mengecat di lokasi pembangunan perumahan bersubsidi di Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Jumat (3/2). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan realisasi Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) pada 2017 bisa digunakan untuk 550.000 unit rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Situs online berbasis properti Rumah123 dan Bank Indonesia (BI) mencatat, harga rumah yang paling banyak dicari oleh milenial adalah sekitar Rp 500 juta. Asal lokasinya mudah diakses, dan konsepnya menarik, tak masalah jika rumah itu sangat mungil dengan tipe 22 hingga 70 meter persegi.

Manajer Departemen Makro Prudensial Bank Indonesia Bayu Adigunawan menyampaikan, porsi kepemilikan kredit perumahan usia 26-35 tahun meningkat. Rerata dari mereka memilih properti tipe 22 hingga 70, baik rumah tapak maupun susun.

"Sementara untuk pangsa Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang dimiliki oleh debitur usia 36-45 tahun menurun sejak 2014," kata dia saat Properti Outlook 2019 di Jakarta, Kamis (24/1).

Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung sepakat, bahwa milenial lebih berminat dengan rumah tipe 70 meter persegi ke bawah. "Segmen menengah ke bawah masih dominan, karena rerata plafon Rp 500 juta," kata dia.

Advertisement

(Baca: Selera Milenial, Beli Rumah pun Harus Instagramable)

Konsumen yang membeli properti melalui Rumah123 pun rerata berusia 33 tahun atau masih tergolong milenial. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, milenial memang menyukai rumah berukuran kecil dengan konsep desain yang menarik.

Ia pun memperkirakan ada tiga jenis rumah yang bakal diminati ke depan. Pertama, microhouse atau rumah ukurannya di bawah 70 meter persegi. "Kecil tapi secara kualitas tidak masuk rumah sangat sederhana (RSS). Ini sudah terjadi di Jepang. Ini akan terjadi segera (di Indonesia)," kata dia.

Kedua, co-living atau berbagi fasilitas dengan konsumen lain seperti dapur atau ruang tamu. Berdasarkan kajian yang ia lakukan, okupansi properti berbentuk co-living ini bisa mencapai 90%.

Ketiga, properti yang mengedepankan dekorasi dalam hal pemasaran. "Karena visual dan experience itu penting. Generasi kini menuju ke sana, rumah kecil tapi dekorasi bagus," kata Ignatius.

(Baca: Kemenkeu Alokasikan Rp 10,4 Triliun untuk Fasilitas Kredit Perumahan)

Selain dekorasi dan harta, akses juga menjadi pertimbangan milenial dalam membeli properti. Sejauh ini, konsumen di Rumah123 memilih rumah Bandung, Depok, Bintaro, Bekasi, dan BSD. "Kelima lokasi ini masih jadi yang dipilih, termasuk milenial," ujarnya. Selain itu,  Kelapa Gading, Sunter, Serpong, dan Tebet jadi pilihan. 

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait