Riset Awal 2021: Dompet Digital ShopeePay Kalahkan GoPay dan OVO

Promosi besar-besaran turut mendorong ShopeePay mendominasi pasar dompet digital.
Image title
2 Maret 2021, 16:56
Ilustrasi platform Shopee
Google Play Store
Ilustrasi platform Shopee

Riset dari NeuroSensum menyatakan bahwa ShopeePay mendominasi pasar dompet digital Indonesia pada awal 2021. ShopeePay disebut mengalahkan OVO dan GoPay karena terintegrasi dengan e-commerce Shopee dan mempunyai strategi promosi yang efektif.

NeuroSensum menyebut, banyak pengguna e-commerce yang menggunakan lebih dari satu dompet digital. ShopeePay mendapatkan penetrasi pasar tertinggi sebesar 68%. Kemudian, OVO 62%, DANA 54%, GoPay 53%, dan LinkAja 23%. 

ShopeePay juga menguasai pangsa pasar e-wallet Tanah Air karena terintegrasi dengan e-commerce Shopee. Menurut Tika, banyak responden NeuroSensum yang beranggapan bahwa integrasi ShopeePay dengan Shopee memudahkan konsumen dalam berbelanja online. 

"ShopeePay sangat digemari karena kemudahan dalam berbelanja online. Apabila berbelanja dengan platform Shopee, transaksinya semuanya ada dalam satu aplikasi, dan mudahkan pengguna," ujar Research Manager Neurosensum Indonesia Tika Widyaningtyas dalam konferensi pers virtual pada Selasa (2/3).

Advertisement

ShopeePay juga unggul dari sisi volume yakni 29% dari total transaksi. Kemudian, OVO 25% dari total, GoPay 21%, DANA 20% dan LinkAja 6%.  Sedangkan, nilai transaksi tertinggi dari belanja offline dan online yang menggunakan ShopeePay 33%. Porsinya mengalahkan OVO 24%, GoPay 19%, DANA 18%, dan LinkAja 6%.

Secara frekuensi pun, pengguna bertransaksi dengan ShopeePay rata-rata 14,4 kali per bulan. OVO digunakan bertransaksi 13,5 kali per bulan, GoPay 13,1 kali, DANA 12,2 kali, dan LinkAja 8,2 kali.

Kemudian 35% responden mengaku bahwa ShopeePay merupakan bentuk dompet digital yang paling sering digunakan, disusul OVO 27%, GoPay 20%, DANA 14%, serta LinkAja 5%.

Survei NeuroSensum menjaring 1.000 responden pengguna aktif e-commerce berusia produktif 19-45 tahun di delapan kota besar di Indonesia. Riset dilakukan dari November 2020 hingga Januari 2021.

Bagaimanapun, riset DailySocial pada akhir tahun lalu masih menyebut GoPay sebagai pemain dominan dalam perebutan pangsa pasar dompet digital di Indonesia. Simak Databoks berikut: 

Terkait ampuhnya promosi, Tika mengatakan, ShopeePay unggul dibandingkan e-wallet lain karena strategi promosi yang diterapkan selama kuartal I 2021 lebih efektif.

NeuroSensum juga mencatat, ShopeePay menjadi e-wallet yang menawarkan promosi terbanyak menurut 42% responden. Baru berikutnya ada OVO 25%, GoPay 16%, DANA 13%, dan LinkAja 4%.

Tika mengatakan, hampir semua e-wallet memang menawarkan promo kepada konsumennya. "Akan tetapi tidak semua promo bisa diserap konsumen dengan baik," kata Tika.

Penyerapan promo itu menurut Tika, tergantung pada strategi perusahaan. "Di ShopeePay biasanya promosinya membuat konsumen puas karena syarat ketentuan berlaku cukup mudah," kata dia.

Tika mengatakan, konsumen e-wallet sudah semakin cerdas dalam menerima promosi. Masyarakat akan mulai menghitung dengan cermat, keuntungan yang bisa dia dapatkan apabila mengikuti promo sesuai ketentuan yang berlaku. Alhasil, apabila strategi promosi perusahaan dilakukan dengan benar maka bisa mendorong transaksi.

Managing Director Neurosensum Indonesia Mahesh Agarwal mengatakan, secara umum, e-wallet juga kini telah mendominasi metode pembayaran pada belanja online. "Penggunaan e-wallet sudah mengungguli perbankan, sehingga e-wallet bukanlah sesuatu yang asing lagi," ujarnya.

Berdasarkan survei NeuroSensum, 88% responden mengatakan menggunakan e-wallet untuk berbelanja online. 72% menggunakan akun bank, 47% menggunakan metode cash on delivery (COD), 32% via supermarket, 23% dengan kartu debit, 11% kartu kredit.

Hasil riset tersebut sejalan dengan data dari Bank Indonesia (BI) yang menyatakan bahwa persentase penggunaan uang elektronik untuk bertransaksi di e-commerce paling dominan, yakni mencapai 42% per kuartal III tahun lalu atau selama pandemi corona. Nilai transaksinya sekitar Rp 29,4 triliun dari total Rp 70 triliun. Padahal, porsinya hanya 11% pada 2017.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait