Beberapa Negara Kembali Terapkan Lockdown, Rupiah Melemah

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia pun melemah pagi ini.
Agatha Olivia Victoria
17 Mei 2021, 09:52
Karyawan menghitung uang pecahan 100 Dollar Amerika di salah satu gerai penukaran uang asing, di Jakarta, Selasa (29/9/2020). Berdasarkan data kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) hingga pukul 16.00 WIB nilai tukar rup
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/hp.
Karyawan menghitung uang pecahan 100 Dollar Amerika di salah satu gerai penukaran uang asing, di Jakarta, Selasa (29/9/2020). Berdasarkan data kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) hingga pukul 16.00 WIB nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat tipis ke posisi Rp 14.920 per dollar AS dibanding hari sebelumnya.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,37% ke level Rp 14.250 per dolar AS pada pasar spot pagi ini, Senin (17/5). Mata uang Garuda menurun karena kenaikan kasus Covid-19 yang memicu lockdown di beberapa negara.

Mayoritas mata uang Asia pun melemah pagi ini. Mengutip Bloomberg, yen Jepang turun 0,02%, dolar Singapura 0,23%, dolar Taiwan 0,31%, won Korea Selatan 0,36%, peso Filipina 0,01%, yuan Tiongkok 0,06%, ringgit Malaysia 0,26%, dan baht Thailand 0,17%. Hanya dolar Hong Kong dan rupee India yang menguat masing-masing 0,01% dan 0,18%.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, lockdown di beberapa negara tetangga karena kenaikan kasus Covid-19 memicu penguatan dolar AS. "Kekhawatiran pasar terhadap penurunan ekonomi global mendorong pasar memegang mata uang Negeri Paman Sam sebagai aset aman," ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Senin (17/5).

Saat berita ini ditulis, indeks dolar AS naik 0,09% ke level 90.39. Mata uang Negeri Adidaya juga terlihat perkasa terhadap mata uang utama seperti euro, pound Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss.

Salah satu negara yang kembali menerapkan lockdown baru-baru ini yakni Singapura. Negeri Merlion memberlakukan lockdown mulai Minggu (16/5) seperti yang pernah diberlakukan setahun lalu. Pemerintah melarang makan di dalam ruangan dan membatasi pertemuan hanya maksimal dua orang lantaran peningkatan jumlah infeksi virus yang sulit dilacak.

Mengutip The New York Times, langkah-langkah pembatasan baru tersebut dilakukan setelah Singapura mencatat 34 kasus baru pada Kamis (13/5), jumlah kecil menurut standard global. Sebagian dari peningkatan infeksi tersebut berasal dari para pekerja yang divaksinasi di Bandara Changi, Singapura.

Turki juga sudah melakukan lockdown perdana pada awal bulan ini. Sekolah terpaksa tutup dan banyak bisnis mengalami nasib serupa.

Worldometers melaporkan, kasus positif Covid-19 global bertambah 1.885 per 09.30 WIB menjadi 163,71 juta. Angka kematian tercatat 3,39 juta dan kesembuyhan 143,32 juta.

Bagaimana dengan perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia? Simak Databoks berikut: 

Di sisi lain, Ariston menilai bahwa kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi di AS bisa mendorong penguatan dolar terhadap nilai tukar lainnya hari ini. "Potensi pelemahan rupiah hari ini ke kisaran Rp 14.250, dengan potensi support di kisaran Rp 14.180 per dolar AS," katanya.

Sebaliknya, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan bahwa mata uang Garuda akan menguat dalam satu hari ini di antara Rp 14.175-14.275 per dolar AS. Perkembangan tersebut kemungkinan karena adanya potensi pelemahan dolar AS.

Pelemahan tersebut, sambung dia, akan didorong oleh turunnya imbal hasil atau yield obligasi AS karena data indikator konsumen negeri tersebut yang cenderung lemah. Data penjualan ritel bulan April 2021 tercatat sebesar 0,0% secara bulanan, jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara itu, Josua menyebutkan, indikator kepercayaan konsumen AS, University of Michigan Consumer Sentiment turun jadi 82,8 dari sebelumnya sebesar 88,3. "Lemahnya indikator tersebut memberikan sinyal terkait laju pemulihan ekonomi AS yang tertahan," ujar Josua kepada Katadata.co.id, Senin (17/5).

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait