575 Hektare Cagar Alam di Raja Ampat Dijadikan Hutan Produsi

Alih fungsi dilakukan untuk mengakomodasi pembangunan dan pengelolaan hutan untuk memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan cagar alam Cagar Alam Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.
Safrezi Fitra
2 Oktober 2021, 12:00
hutan, alih fungsi lahan, alih fungsi hutan, cagar alam, raja ampat, cagar alam menjadi hutan produksi
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Ilustrasi hutan di Papua.

Pemerintah mengalihfungsikan 575 hektare area kawasan Cagar Alam Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, menjadi kawasan hutan produksi tetap. Selain itu 1.396 hektare area lainnya di kawasan tersebut dialihkan menjadi suaka margasatwa.

Cagar alam adalah suatu kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Suaka margasatwa adalah wilayah yang digunakan untuk melindungi satwa-satwa yang sudah terancam punah.

Sedangkan hutan produksi merupakan kawasan hutan guna produksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya, khususnya untuk pembangunan, industri dan ekspor. Negara bisa memberikan konsesi kawasan ini kepada pihak swasta untuk dimanfaatkan dan dikelola hasil hutannya.

Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua Barat Budi Mulyanto di Sorong, Sabtu, mengatakan area di cagar alam Waigeo Barat yang dialihfungsikan menjadi kawasan hutan produksi tetap mencakup kawasan bandara hingga Dusun Warkesi.

Menurut dia, keputusan untuk mengalihfungsikan sebagian area di cagar alam Waigeo Barat menjadi hutan produksi diambil berdasarkan hasil kajian mengenai pemanfaatan kawasan. Peralihan status fungsi kawasan ini berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 745/MENLHK/SETJEN/PLA.2/9/2019.

Alih fungsi dilakukan untuk mengakomodasi pembangunan serta pengelolaan hutan untuk memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan cagar alam.  bagian dari area cagar alam yang fungsinya dialihkan menjadi hutan produksi yang akan digunakan untuk memperpanjang landasan Bandara Raja Ampat.

Sebagian area lainnya digunakan untuk mengembangkan wisata pengamatan burung. Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat di kawasan Sapokren dialihfungsikan menjadi kawasan suaka margasatwa karena di kawasan tersebut terdapat habitat burung cenderawasih endemik Waigeo Raja Ampat.

Daerah Warkesi merupakan habitat burung cenderawasih merah. Karenanya akan dimanfaatkan untuk mengembangkan kegiatan pariwisata pengamatan burung.

"Dengan demikian wisatawan datang dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan cagar alam Waigeo Barat," katanya.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait