Bank Mandiri Proyeksikan BI Tahan Suku Bunga Sampai Akhir Tahun

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menilai likuiditas perbankan sudah mengalami perlonggaran, cadangan devisa Indonesia pun sangat baik, dan inflasi cenderung rendah.
Miftah Ardhian
21 Agustus 2017, 20:19
Bank Mandiri
KATADATA
Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga acuannya sebesar 4,75 persen sampai dengan akhir tahun 2017 ini. Masih belum adanya faktor signifikan yang menyebabkan penurunan atau kenaikan suku bunga tersebut menjadi alasannya.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menilai likuiditas perbankan sudah mengalami perlonggaran, cadangan devisa Indonesia pun sangat baik, dan inflasi cenderung rendah. Salah satu yang menjadi tantangan ke depan adalah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve yang membuat ketidakpastian.

Meski begitu, dia memperkirakan BI masih bisa menahan suku bunganya tersebut karena masih banyaknya faktor pendukung stabilnya perekonomian nasional. "Dugaan saya, BI stay sampai dengan akhir tahun," ujar Kartika saat ditemui di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (21/8). (Baca: Ada Ruang Pelonggaran Moneter, BI Pantau Perkembangan Bunga AS)

Secara lebih rinci, Kartika menjelaskan, jika dilihat dari 6 bulan terakhir, likuiditas cenderung melonggar. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 10 persen, rasio kredit terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) membaik, dan deposito pun cenderung membaik.

Sementara perlambatan kredit yang terjadi pun bukan semata-mata karena suku bunga, tetapi hapus buku-nya juga tinggi. Tercatat pertumbuhan kredit rata-rata industri sampai dengan Juni 2017 ini sebesar 11,77 persen. Terdapat 3 segmen besar yang masih mendorong penyaluran kredit di paruh pertama tahun ini. Kredit tersebut meliputi koporasi, kredit modal kerja, serta KPR dan KPM. Akan tetapi, masih terjadi perlambatan di segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

"Memang yang agak berat adalah di segmen menengah dan SME (UKM) ya, karena kan selama siklus ekonomi 2014-2017, segmen menengah dan SME merapikan lagi cashflow-nya," ujarnya.

Atas dasar tersebut, menurutnya, BI hanya akan melakukan pelonggaran kebijakan terkait Giro Wajib Minimum dan instrumen keuangan seperti Non Core Deposit (NCD), hingga commercial paper. Alasannya, hal ini dilakukan untuk terus memperbaiki akses likuiditas dalam upaya pendalaman pasar keuangan.

(Baca: Darmin: Inflasi Rendah Bisa Dorong Pelonggaran Moneter)

Video Pilihan

Artikel Terkait