Penjualan Unilever 2020 Naik 0,1% di Tengah Resesi, Ditopang 2 Segmen

Dengan kenaikan penjualan bersih dan penurunan harga pokok penjualan, laba bruto Unilever Indonesia tahun 2020 tercatat Rp 22,45 triliun.
Image title
5 Februari 2021, 12:28
unilever, laba unilever, laba unilever 2020, penjualan unilever, penjualan unilever 2020, pendapatan unilever, covid-19, saham, saham unilever, laba perusahaan consumer goods
Arief Kamaludin|KATADATA
Unilever.

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan kenaikan tipis penjualan sepanjang tahun 2020 meski di tengah pandemi Covid-19 dan resesi ekonomi. Meski begitu, perusahaan produsen barang-barang konsumsi ini menderita penurunan laba bersih 3,1% menjadi Rp 7,16 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang dirilis melalui keterbukaan informasi, penjualan bersih Unilever mencapai Rp 42,97 triliun pada 2020. Catatan tersebut naik tipis 0,12% dibandingkan tahun sebelumnya senilai Rp 42,92 triliun.

Penjualan Unilever 2020 masih ditopang oleh segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh yang senilai Rp 29,99 triliun. Catatan tersebut mengalami pertumbuhan tipis 0,43% dari tahun sebelumnya senilai Rp 29,86 triliun.

Sementara, penjualan Unilever dari segmen makanan dan minuman sepanjang tahun lalu tercatat senilai Rp 12,98 triliun. Raihan itu, turun hingga 0,6% dibandingkan 2019 yang senilai Rp 13,06 triliun.

 

Sepanjang 2020, Unilever berhasil menurunkan harga pokok penjualan yang mengikis profitabilitas sebesar 1,81%. Sepanjang tahun lalu, harga pokok penjualan Unilever senilai Rp 20,51 triliun, sedangkan setahun sebelumnya senilai Rp 20,89 triliun.

Penurunan harga pokok penjualan, disebabkan biaya bahan baku yang digunakan Unilever tahun lalu senilai Rp 15,01 triliun. Catatan tersebut turun hingga 5,27% dibandingkan 2019 yang senilai Rp 15,84 triliun.

Dengan naiknya penjualan bersih dan penurunan harga pokok penjualan, laba bruto Unilever 2020 tercatat senilai Rp 22,45 triliun. Raihan tersebut mengalami kenaikan hingga 1,94% dibandingkan 2019 yang senilai Rp 22,02 triliun.

Sayangnya, pos beban pemasaran dan penjualan sepanjang 2020 mengalami kenaikan yang mengurangi profitabilitas Unilever. Beban umum dan administrasi pada periode tersebut, juga mengalami kenaikan sehingga laba usaha terkikis.

Beban pemasaran dan penjualan tercatat senilai Rp 8,62 triliun, mengalami kenaikan hingga 7,19% dibanding tahun sebelumnya. Profitabilitas Unilever juga terkikis oleh beban umum dan administrasi senilai Rp 4,35 triliun atau mengalami kenaikan 12,85% secara tahunan.

Kenaikan pos-pos beban tersebut, membuat laba usaha Unilever sepanjang 2020 menjadi Rp 9,45 triliun. Raihan tersebut, turun hingga 6,61% dibandingkan dengan 2019 yang senilai Rp 10,12 triliun.

Laba sebelum pajak penghasilan Unilever sepanjang 2020 pun mengalami penurunan 7,02% menjadi Rp 9,2 triliun. Meski begitu, beban pajak penghasilan yang ditanggung Unilever turun hingga 18,54% menjadi Rp 2,04 triliun. Hal ini membuat laba bersih Unilever turun tidak sedalam laba sebelum pajak.

Harga Saham Unilever

Sepanjang 2020, harga saham Unilever mengalami penurunan hingga 12,5% dibanding akhir 2019 menjadi Rp 7.350 per saham pada 30 Desember 2020. Harga terendah saham berkode UNVR ini terjadi pada 19 Maret 2020 di Rp 5.650 per saham. Sedangkan harga tertinggi pada 3 Januari 2020 dan 15 Mei 2020 di harga yang sama yaitu Rp 8.575 per saham.

Pertengahan bulan lalu, harga saham Unilever sempat naik. Kenaikan ini sejalan dengan rencana pemerintah menggandeng Unilever dalam distribusi vaksin Covid-19. Saham Unilever meroket tajam setelah kabar itu terdengar Senin (18/1).

Pada hari itu, sahamnya meroket hingga 7,91% menjadi Rp 7.500. Keesokan harinya pun sahamnya ditutup naik, meski hanya 1% menjadi Rp 7.575. Tapi, hari ini saham Unilever sempat menyentuh Rp 8.000 yang artinya naik 6,66%.

Meski begitu, analis saham sudah mengingatkan ada potensi koreksi wajar pada saham berkode emiten UNVR tersebut. Sehingga, dia menyarankan investor untuk wait and see atau bisa melakukan pembelian di saat harga melemah di area support Rp 7.250 hingga Rp 7.350.

"Konfirmasi buy, jika setelah menyentuh area tersebut, harga kembali bullish (menguat). Jadi sudah bisa trading di area tersebut," kata Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas kepada Katadata.co.id, Selasa (19/1).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait