Bank Jago Bidik Rp 7 Triliun dari Jual Saham Baru, Untuk Apa Dananya?

Dana dari hasil rights issue akan digunakan Bank Jago untuk transformasi bank digital, khususnya ekspansi pembiayaan.
Safrezi Fitra
26 Februari 2021, 11:05
bank jago, gojek, bank jago right issue, investor bank jago, perbankan, bank digital
Bank Jago
Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk, Kharim Siregar, saat peresmian kantor Bank Jago cabang Mega Kuningan, Jakarta.

PT Bank Jago Tbk (ARTO) akan menerbitkan 3 miliar saham baru (rights issue). Dengan aksi korporasi ini, perseroan menargetkan dapat meraup dana hingga Rp 7 triliun. Berdasarkan prospektus perusahaan, dana ini akan digunakan untuk ekspansi bisnis.

Penggunaan dana paling besar dari hasil penerbitan saham baru ini adalah untuk ekspansi usaha, alokasinya mencapai 97% atau sekitar Rp 6,8 triliun. Ekspansi usaha ini didukung bisnis kemitraan pembiayaan melalui unit Business Finance Solution dan unit SME Banking dari sisi kredit.

Ekspansi juga dilakukan sejalan dengan rencana transformasi menjadi bank digital. Bank Jago menyatakan akan segera meluncurkan layanan perbankan digital yang di diberi nama Life Finance Solution dan aplikasi Bank Jago untuk bisnis.

Direktur Utama Bank Jago Kharim Siregar mengatakan sesuai dengan strategi jangk panjang perusahaan akan terus meningkatkan kolaborasi dengan ekosistem digital. "Kolaborasi ini akan ditingkatkan dengan intergasi antara aplikasi Jago dengan aplikasi masing-masing ekosistem digital yang kami kerja samakan," katanya saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (26/2). 

Transformasi ke bank digital akan membutuhkan dana yang besar, untuk pengembangan layanan perbankan. Apalagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana mengatur batasan modal bank digital.

Dalam draft aturan tersebut, OJK membatasi modal minimal bank yang bertransformasi ke bank digital Rp 3 triliun. Sementara, hingga September tahun lalu, modal inti Bank Jago baru mencapai Rp 1,18 triliun.

Selain transformasi ke bank digital, Bank Jago juga bakal mengembangkan bisnis keuangan syariah melalui Unit Usaha Syariah (UUS). “Saat ini proses pembentukan unit bisnis tersebut masih dalam proses persetujuan regulator,” kata Direktur Kepatuhan Bank Jago Tjit Siat Fun, dalam keterangannya kepada Bursa Efek Indonesia, Jumat (26/2).

Penggunaan dana hasil right issue selanjutnya adalah untuk investasi infrastruktur teknologi informasi. Bank Jago mengalokasikan 2% dana tersebut atau sekitar Rp 141 miliar untuk pengembangan sistem, teknologi dan infrastruktur bank digital.

Sisanya sebesar 1% atau sekitar Rp 7 miliar akan digunakan untuk pengembangan di Sumber Daya Manusia agar siap bertransformasi ke bank digital.

 Rencana Rights Issue

Bank Jago kembali kedatangan investor baru. GIC Private Limited asal Singapura akan menyuntikkan investasi hingga US$ 225 juta atau setra Rp 3,15 triliun melalui pembelian saham baru (rights issue) bank tersebut.

Selain mempertebal modal Bank Jago, aksi korporasi itu mencerminkan bank digital telah jadi primadona baru para investor. Bank milik bankir Jerry Ng dan Patrick Walujo itu sudah mengantongi pernyataan efektif dari OJK untuk penambahan modal melalui penerbitan saham baru. Jumlahnya mencapai 3 miliar saham baru atau sekitar 27,6% dari total saham Bank Jago yang sebanyak 10,86 miliar saham.

Berdasarkan prospektus terbaru rights issue yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (26/2) pagi, GIC akan membeli sebagian saham baru yang menjadi haknya (rights) salah satu pemegang saham pengendali Bank Jago, yaitu PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI).

Pemegang Saham Bank Jago

Reporter: Ihya Ulum Aldin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait