• Pemerintah berharap pembangunan bendungan dapat meningkatkan produktivitas pertanian.
  • Jokowi menjadi Presiden RI yang paling banyak membangun bendungan. 
  • Ketersedian bendungan dinilai tak cukup untuk meningkatkan frekuensi tanam. 

Dalam sepekan terakhir, Presiden Joko Widodo meresmikan tiga bendungan baru. Ia menargetkan hingga akhir tahun ada 17 bendungan rampung terbangun. 

Tujuan kehadiran waduk itu adalah meningkatkan produktivitas pertanian. Siang tadi, ia menyatakan Bendungan Passeloreng, Sulawesi Selatan, dapat mulai beroperasi.

Pembangunan bendungan itu menelan dana Rp 771,1 miliar dan dilengkapi Bendung Irigasi Giliren. “Ini akan sangat bermanfaat untuk mendukung Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan nasional,” kata Jokowi, Kamis (9/9), dikutip dari Antara

Bendungan Passeloreng memiliki daya tampung 138 juta meter kubik. Luas genangannya 1.258 hektare dan mampu mengairi 8.500 hektare sawah. 

Kehadiran waduk tersebut harapannya dapat meningkatkan frekuensi tanam. Dengan begitu, kesejahteraan petani pun ikut terdongkrak. Fungsi lainnya adalah untuk mereduksi banjir dari sungai dan menyediakan air baku untuk enam Kecamatan di Kabupaten Wajo. 

Pemerintah memperkirakan indeks pertanaman (IP) di sekitar waduk itu akan naik dari semula 112 menjadi 300. Indeks pertanaman adalah rata-rata masa tanam dan panen dalam satu tahun pada lahan yang sama. Dengan penambahan irigasi, masa tanam akan naik dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun. 

Dua hari lalu, Jokowi juga meresmikan Bendungan Bendo, Jawa Timur, yang mulai dikerjakan pada Desember 2019. Kini bangunannya telah siap memasok air irigasi seluas 7.800 hektare di lahan pertanian wilayah Ponorogo dan Madiun. 

Penyediaan air bakunya mencapai debit 370 liter per detik. Bendungan Bendo juga dapat mereduksi banjir dari 420 meter kubik per detik menjadi 290 meter per kubik. 

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan, bendungan tersebut berfungsi sebagai gudang air dari Sungai Keyang. Posisinya menyambung dengan empat bendung, yaitu Bendung Nyinden, Bendung Kori, Bendung Wirangan, dan Bendung Jati.

Tiga bendung pertama berada di Ponorogo yang mengairi 3.300 hektare lahan. Lalu, Bendung Jati berada di Madiun yang mengairi lahan 4.500 hektare. "Dengan adanya storage ini sudah langsung bisa dimanfaatkan untuk menyuplai bendung-bendung di bawahnya sehingga meningkatkan indeks petani dari 170 menjadi 260 per tahun," katanya.

Sebelum itu, Jokowi juga meresmikan Bendungan Way Sekampung, Kabupaten Piringsewu, Lampung. Kapasitas tampungnya 68 juta meter kubik. Luas genangannya mencapai 800 hektare. 

Waduk tersebut memiliki multifungsi. “Untuk irigasi, pembangkit listrik, dan pengendalian banjir,” ucap Presiden. 

Air bakunya mencapai 2,73 liter per detik dan dapat menjadi bahan bakar pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) berkapasitas 5,4 megawatt (MW). Selain itu, Bendungan Way Sekampung akan mengaliri 55 ribu hektare daerah irigasi dan 17.500 hektare daerah irigasi baru.

Kehadiran Bendungan Way Sekampung berpotensi menambah areal tanam akibat perluasan irigasi. “Harapannya dapat menaikkan indeks pertanaman (IP) dari rata-rata saat ini 1,67 menjadi 2,” ucap Pelaksana Tugas Asisten Perekonomi dan Pembangunan Provinsi Lampung Kusnardi.

PROGRES PEMBANGUNAN BENDUNGAN BENDO DI PONOROGO
Pembangunan Bendungan Bendo di Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Siswowidodo/wsj.)

61 Bendungan di 2024

Selain Bendungan Passeloreng, Way Sekampung, dan Bendo, ada lima waduk telah resmi beroperasi tahun ini. Pada Februari lalu adalah Bendungan Tukul di Jawa Timur, Bendungan Tapin di Kalimantan Selatan, dan Bendungan Napun Gete di Nusa Tenggara Timur. 

Pada bulan berikutnya, Bendungan Sindang Heula di Banten selesai dibangun. Lalu, pada 31 Agustus 2021, Jokowi meresmikan Bendungan Kuningan di Jawa Barat.

Rencananya, sejumlah bendungan akan selesai pada akhir tahun ini. Pada Oktober adalah Bendungan Karalloe di Sulawesi Selatan, Bendungan Ladongi di Sulawesi Tenggara, dan Bendungan Bintang Bano di Nusa Tenggara Barat.

Pada bulan berikutnya, Bendungan Ciawi dan Sukamahi di Jawa Barat akan mulai beroperasi. Terakhir, pada Desember 2021 ada Bendungan Tugu dan Bendungan Gongseng di Jawa Timur, Bendungan Pidekso di Jawa Tengah, dan Bendungan Margatiga di Lampung. 

Sebagian besar waduk itu masuk dalam proyek strategis nasional. Badan usaha milik negara (BUMN) karya terlibat dalam pengerjaannya, seperti PT Wijaya Karya Tbk dan PT Hutama Karya. 

Sebagai informasi, Pulau Jawa mendominasi kepemilikan luas lahan baku sawah terluas. Jawa Timur menjadi provinsi dengan luas sawah terluas di Indonesia, sebesar 1,2 juta hektare. 

Total luas lahan baku sawah ditetapkan dalam Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN No. 686/SK-PG.03.03/XII/2019 pada 17 Desember 2019 tentang Penetapan Luas Lahan Baku Sawah Nasional Tahun 2019. Informasi ini menjadi landasan penghitungan luas panen padi.

Tak heran, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat adalah tiga provinsi dengan luas area irigasi terbesar. Infrastruktur ini menjadi aset strategis industri pertanian Indonesia. Menurut Statistik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat 2015, luas area irigasi di tiga provinsi ini mencakup 31% dari total wilayah irigasi secara nasional.

Menteri Basuki sebelumnya mengatakan, pemerintah sedang fokus meningkatkan produksi pertanian. Tujuan akhirnya adalah menjaga ketahanan pangan nasional.

Salah satu upaya untuk mencapai hal tersebut adalah membangun 61 bendungan pada periode 2020 sampai 2024. Apabila seluruhnya rampung, maka suplai air ke jaringan irigasi akan naik sekitar 19% atau sebanyak 1.169 hektare.

Kegiatan pertanian sangat bergantung pada air. Apabila hanya bergantung pada hujan, maka petani hanya dapat satu kali panen dalam setahun. Sedangkan dengan waduk, kebutuhan air menjadi tak lagi bergantung pada musim. “Produksi dapat terdongkrak hingga 200% atau lebih,” kata Basuki pada November 2020. 

Pupuk, Bibit, dan Modal Tak Kalah Penting

Mengutip laman resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki menyatakan pembangunan bendungan akan diikuti pembangunan jaringan irigasi yang akan menyediakan suplai air berkelanjutan.

Pasokan air menjadi penting pada sektor pertanian. Produksi padi pada 2019 sempat turun 7,75% dibandingkan 2018 salah satu pemicunya adalah cuaca ekstrem. Ketika itu musim hujan mengakibatkan banjir, sedangkan musim kemarau muncul berkepanjangan.

Produksi beras lalu mengalami fluktuasi. Titik tertingginya pada Maret 2019 dengan 5,25 juta ton beras. Bulan berikutnya cenderung menurun, seperti terlihat pada grafik Databoks di bawah ini. 

Beras menjadi komoditas dengan kebutuhan terbesar saat ini. Kementerian Pertanian mencatat, angkanya pada Januari sampai Mei 2021 mencapai 12,3 juta ton. Angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan jagung, minyak goreng, telur, dan daging ayam.

Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengatakan, ada berbagai komponen yang dapat mempengaruhi efektivitas produksi pertanian. Tak hanya irigasi saja. “Tentu perlu dibarengi dengan ketersediaan bibit yang bagus dan cukup, pupuk, dan modal untuk berusaha tani yang mudah diakses dan tidak memberatkan,” katanya kepada Katadata.co.id.

Penggunaan air dalam sumber irigasi bendungan yang dibangun pemerintah perlu diperhatikan prioritasnya. Kalau memang tujuannya untuk meningkatkan produktivitas pertanian, berarti alokasi utama untuk sektor ini. Baru setelah itu, waduk dapat dimanfaatkan untuk penyediaan air baku dan pengendalian banjir. 

Ketersediaan air memang dapat membuat pola tanam pertanian menjadi lebih baik. Namun, banyak faktor yang saling mempengaruhi produktivitas pertanian. “Tanpa bibit yang baik, pupuk dalam jumlah memadai, serta akses modal, tentu upaya menggenjot produksi tidak akan maksimal,” ujar Khudori.

Pemerintah perlu menyeimbangkan komponen-komponen penting tersebut dan memberikan perhatian yang rata. “Idealnya, semua elemen harus terpenuhi pada saat bersamaan,” katanya.

Penyumbang bahan: Amartya Kejora (magang)

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.