Waspada, BMKG Umumkan 13 Wilayah Siaga Hadapi Cuaca Ekstrem

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan cuaca ekstrem tersebut berpotensi akan terjadi dalam sepekan hingga 1 Januari 2023. DKI Jakarta dan sekitarnya mesti siaga.
Syahrizal Sidik
27 Desember 2022, 20:52
 Waspada, BMKG Umumkan 14 Wilayah Siaga Hadapi Cuaca Ekstrem
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/rwa.
Ilustrasi cuaca ekstrem

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memperingatkan sejumlah daerah di Indonesia siaga terkait potensi terjadinya cuaca ekstrem pada 27-28 Desember. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan cuaca ekstrem tersebut berpotensi akan terjadi dalam sepekan hingga 1 Januari 2023.

"Berdasarkan analisis cuaca terkini, kondisi dinamika atmosfer di sekitar Indonesia masih berpotensi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di beberapa wilayah dalam sepekan ke depan," kata Dwikorita, dalam keterangan resmi, Selasa (27/12).

Kondisi dinamika atmosfer yang dapat memicu peningkatan curah hujan tersebut antara lain sebagai berikut:

Pertama, Monsun Asia menunjukkan aktivitas cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir dengan potensi dapat disertai adanya seruakan dingin dan fenomena aliran lintas ekuator yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan selatan.

Seruakan dingin Asia merupakan fenomena yang cukup lazim terjadi saat Monsun Asia aktif yang mengindikasikan adanya potensi aliran massa udara dingin dari wilayah Benua Asia menuju ke wilayah selatan.

Dampak dari munculnya seruakan dingin tersebut dapat meningkatkan potensi curah hujan di wilayah Barat Indonesia apabila disertai dengan fenomena CENS (cross equatorial northerly surge atau arus lintas ekuatorial) yang mengindikasikan bahwa adanya aliran massa udara dingin dari utara yang masuk ke wilayah Indonesia melintasi ekuator.

Dampak adanya seruakan dingin dari Asia yang disertai CENS ini dapat berdampak secara tidak langsung pada peningkatan curah hujan dan kecepatan angin disekitar wilayah Indonesia bagian selatan ekuator.

Kedua, adanya indikasi pembentukan pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Australia yang dapat memicu terbentuknya pola pumpunan dan perlambatan angin di sekitar wilayah Indonesia bagian selatan ekuator serta dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan angin kencang di sekitar wilayah Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara, serta berdampak pada peningkatan gelombang tinggi di perairan Indonesia.

Ketiga, bibit siklon tropis 95W tumbuh di Samudra Pasifik sebelah Utara Papua Barat, tepatnya di sekitar 8.8°LU 130.9°BT, dengan kecepatan angin maksimum 15 knot dan tekanan terendah 1008 mb. Berdasarkan citra satelit Himawari-8 6 jam terakhir menunjukkan adanya aktivitas konvektif yang signifikan terutama di sebelah utara sistem.

Model prediksi numerik menunjukkan bahwa sistem ini bergerak ke arah barat-barat laut menjauhi wilayah Indonesia. Potensi sistem untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam kedepan berada dalam kategori Rendah.

Keempat, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) disertai fenomena Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial masih menunjukkan kondisi yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan potensi cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan di wilayah Indonesia.

Berdasarkan platform informasi prakiraan berbasis dampak BMKG, terdapat 13 wilayah dengan potensi siaga yang perlu diwaspadai pada 27-28 Desember 2022:

1. DKI Jakarta
2. Jawa Barat
3. Jawa Tengah
4. DI Yogyakarta
5. Jawa Timur
6. Banten
7. Bali
8. Nusa Tenggara Barat
9. Nusa Tenggara Timur
10. Sulawesi Selatan
11. Maluku
12. Papua
13. Papua Barat

Dalam rekomendasinya, BMKG meminta agar pihak terkait antara lain untuk memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan.

Selanjutnya, melakukan penataan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan pemotongan lereng atau penebangan pohon yang tidak terkontrol serta melakukan program penghijauan secara lebih masif.

Masyarakat pengguna transportasi angkutan penyeberangan perlu meningkatkan kewaspadaan sebagai salah satu upaya adaptasi dan mitigasi kondisi tersebut. 

Selanjutnya, pemangku kepentingan dapat lebih mengintensifkan koordinasi, sinergi, dan komunikasi antar pihak terkait untuk kesiapsiagaan antisipasi bencana hidrometrorologi.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait