Gerilya "Mencuri" Suara di Kandang Lawan Menjelang Pilpres

Penulis: Amal Ihsan Hadian

Editor: Yura Syahrul

12/12/2018, 11.30 WIB

Prabowo-Sandiaga berencana memindahkan markas pemenangan ke Jawa Tengah. Sebelumnya, tim Jokowi-Ma'ruf fokus bergerilya menggarap pemilih di Jawa Barat.

Strategi dan taktik bisnis-Telaah
123.RF

Calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Uno akan memindahkan markas tim pemenangan ke Jawa Tengah (Jateng). Padahal, provinsi tersebut selama ini dikenal sebagai kandang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sedangkan tim kampanye nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf fokus menggarap Jawa Barat (Jabar), yang merupakan basis partai-partai pendukung Prabowo. Mengapa strategi ini ditempuh?

Rencana pemindahan kantor pusat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno disampaikan Direktur Materi Debat BPN Sudirman Said saat meresmikan Posko Relawan Prabowo-Sandi di Tegal, awal pekan ini. Tujuan pemindahan tersebut untuk memberikan perhatian khusus terhadap upaya pemenangan pasangan calon presiden nomor urut 2 tersebut di Jateng.

Maklum, Jateng salah satu daerah pemilihan (dapil) penting yang suaranya harus didulang dengan optimal. Dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang terakhir dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih di provinsi Jateng mencapai 27,4 juta orang, terbesar ketiga setelah Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Timur (Jatim).

Menurut Sudirman, yang juga menjabat sebagai Koordinator Pemenangan Prabowo-Sandi di Jawa Tengah, rencana pemindahan diputuskan setelah mengkaji posisi penting Jateng dalam perebutan suara di Pemilihan Presiden (Pilpres). Di Pilpres 2014, Joko Widodo (Jokowi) memperoleh 70,9 juta suara, sementara Prabowo meraih 62,5 juta suara. Artinya, selisih kemenangan Jokowi atas Prabowo cukup besar yakni 8,4 juta suara.

Dari total selisih tersebut, selisih 6,5 juta suara ternyata berasal dari Jateng. Jokowi menang telak di Jateng dengan perolehan 12,9 juta suara atau 66,6 persen. Sementara Prabowo hanya memperoleh 6,4 juta suara atau 33,4 persen. Artinya, kalau ingin meraih akumulasi suara yang optimal, Prabowo harus mendulang dukungan yang lebih banyak lagi di Jateng dibandingkan perolehan suaranya di Pilpres yang lalu.

Sudirman Said
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kedua kiri), Bakal Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said (kedua kanan) dan Waketum Partai Gerindra Ferry Juliantono saat deklarasi Calon Gubernur (Cagub) Jawa Tengah di Jakarta, Rabu (13/12). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Dari survei internal BPN, Jokowi memang masih unggul tipis. Namun, Prabowo-Sandi memperoleh tambahan dukungan suara yang signifikan dari dapil di Sumatera, Kalimantan,dan Sulawesi. Di Banten, Jakarta, dan Jawa Barat, Prabowo juga diprediksi akan unggul telak. Di Jawa Timur, selisih perolehan suara akan tipis seperti Pilpres 2014. Artinya, medan penentu sekarang ada di Jateng.

Yang sekarang ingin dilakukan tim Prabowo-Sandi adalah meningkatkan perolehan suara, minimal mencapai persentase perolehan suara Sudirman Said saat bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018 lalu. Ketika itu, Sudirman memperoleh suara 7,2 juta atau 41,2 persen, sementara lawannya Ganjar Pranowo dari PDIP mendapat 10,3 juta suara atau 58,8 persen. Selisih kekalahan Sudirman dari Ganjar hanya 3,1 suara.

Hitungan tim, dengan tambahan suara dari Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan dapil di luar Jawa, jika Prabowo berhasil memperoleh persentase perolehan suara menjadi 41 persen, "Insya Allah kami akan memenangkan Pilpres," kata Sudirman.

Meski terdengar simpel, tetapi ini bukan pekerjaan mudah. Selain karena Jateng selama ini menjadi basis Jokowi, TKN Jokowi-Maruf Amin juga menyasar Jawa Barat, basis partai pendukung Prabowo. Di Pilpres yang lalu, Prabowo unggul dengan perolehan suara 14,1 juta atau 59,8 persen. Sementara Jokowi 9,5 juta suara atau 40,2 persen.

Seperti juga tim sukses Prabowo, tim Jokowi juga ingin mendulang suara di kandang lawan. Menurut Wakil Ketua TKN Abdul Kadir Karding, Jokowi bahkan sudah unggul di Jabar. Dari survei internal TKN, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf di Jawa Barat saat ini mencapai 47 persen. Sementara elektabilitas Prabowo-Sandi masih 42 persen.

Yusril-Jokowi
(BIRO PERS PRESIDEN)

Meski unggul, Abdy Yuhana, Sekretaris Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma'ruf, mengakui, elektabilitas Jokowi-Maruf masih belum aman. Menurutnya, lemahnya elektabilitas Jokowi-Ma'ruf masih terasa di sejumlah daerah di Jawa Barat seperti Priangan Barat dan Timur. Wilayah Priangan Barat meliputi Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Kota Sukabumi.

Sedangkan wilayah Priangan Timur mencakup Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran. Elektabilitas Jokowi juga masih lemah di daerah perbatasan dengan Jakarta seperti Bekasi, Depok, dan Bogor.

Informasi yang diperoleh Katadata, survei tim Jokowi menemukan, elektabilitas Jokowi memang unggul, namun stagnan. Hitungan internal tim, dari total 514 kabupaten/kota, Jokowi hampir pasti unggul di 260-an kabupaten/kota atau sekitar 50-an persen. Tetapi jumlahnya tidak banyak berubah. Sementara Prabowo-Sandi hampir pasti unggul di 60-an kabupaten/kota.

Mayoritas daerah basis Prabowo tersebut berada di Jawa Barat. Dan jumlahnya terus bertambah. Makanya, TKN menyasar Jawa Barat sebagai salah satu lumbung suara. Untuk menggarap Jawa Barat, tim Jokowi membentuk beberapa tim bayangan seperti tim Delta dan Bravo 5. Namun, efektivitas mereka sampai sekarang belum terlihat.

Pengamat politik yang juga Direktur Lembaga Survei Kelompok Diskusi Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi) Hendri Satrio menilai, manuver Prabowo-Sandi untuk memindahkan markas pemenangan ke Jateng sebagai rencana brilian. Sebab, strategi yang harus ditempuh pasangan oposisi tersebut adalah memperkecil jarak atau selisih suara dengan Jokowi yang di daerah yang dulu menjadi basis Jokowi, terutama Jawa Tengah.

Jokowi dan Ma
Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin menuju tempat peletakan batu pertama proyek pembangunan Menara MUI di Bambu Apus, Jakarta, Kamis (26/7). Menara MUI akan dibangun 20 lantai untuk mengakomodasi kegiatan MUI dan didanai dari wakaf, infak, sedekah dan skema reksadana syariah. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Sementara strategi tim Jokowi Untuk mendongkrak elektabilitas di Jawa Barat, menurut pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie, akan efektif dengan mendorong Maruf Amin sebagai votegetter. Figur Maruf sebagai ulama akan punya efek mendulang suara di Banten dan Jawa Barat yang bisa dikategorikan sebagai wilayah 'hijau'.

Untuk yang satu ini, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Panjaitan juga mengakui, Maruf akan punya pengaruh jika aktif berkampanye. Problemnya, ia melihat, cawapres pasangan Jokowi ini belum banyak turun ke lapangan untuk berkampanye. "Kalau Pak Ma'ruf Amin belum banyak turun, kita harap ya (turun kampanye)," katanya usai memberikan pembekalan pada Rapat Kerja Nasional (Rakornas) tim Bravo 5.

Erick Thohir, Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, juga mengakui, stagnasi elektabilitas pasangan jagoannya karena sang cawapres belum aktif berkampanye. Ia mengungkapkan, selama ini yang dilakukan Ma'ruf hanya bersilahturahmi dan serta menguatkan basis tim pendukung. "Kalau nanti Abah (Maruf) sudah kampanye, wuih," ujarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha