Sandiaga Waspadai Dampak Kenaikan Harga Tiket Pesawat pada Pariwisata

Menurut Sandiaga, kenaikan harga tiket pesawat akibat penerapan fuel surcharge akan berdampak pada musim puncak pariwisata akhir tahun.
Andi M. Arief
15 Agustus 2022, 18:33
Calon penumpang antre menaiki pesawat udara di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Minggu (14/8/2022). Pengelola Bandara Bali mencatat telah melayani 5.612.777 orang penumpang pada periode Januari-Juli 2022 atau meningkat sekitar 220 p
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/tom.
Calon penumpang antre menaiki pesawat udara di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Minggu (14/8/2022). Pengelola Bandara Bali mencatat telah melayani 5.612.777 orang penumpang pada periode Januari-Juli 2022 atau meningkat sekitar 220 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021 sebanyak 1,7 juta penumpang.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga S Uno, mengkhawatirkan dampak kenaikan harga tiket pesawat terhadap tingkat perjalanan wisatawan domestik di dalam negeri atau kunjungan wisatawan nusantara. Menurutnya, akan ada dampak langsung dari peningkatan harga tiket pesawat pada musim puncak pariwisata pada paruh kedua 2022, salah satunya libur natal dan tahun baru 2023.

Peningkatan harga tiket pesawat tersebut disebabkan oleh peningkatan biaya bahan bakar atau fuel surcharge sebesar 5% menjadi 15%. Kebijakan tersebut termuat dalam revisi Keputusan Menteri Nomor 142 Tahun 2022 yang berlaku pada 4 Agustus 2022.

"Ini yang harus kami sikapi dengan penuh kewaspadaan dan kebijaksanaan, karena masyarakat memasuki musim libur saat akhir tahun. Ini harus diberikan solusi harga tiket yang lebih terjangkau," kata Sandiaga di Gedung Sarinah, Senin (15/8).

Kementerian Perhubungan atau Kemenhub menyatakan salah satu alasan peningkatan presentasi biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge pada tiket penerbangan adalah harga avtur. Pemerintah mencatat harga avtur telah naik hampir 70% secara tahun berjalan.

Adapun, harga avtur berkontribusi hingga 60% dari harga tiket pesawat terbang. Dengan kata lain, beban operasional maskapai penerbangan selama delapan bulan 2022 tumbuh, sedangkan harga tiket hanya naik 10% sejak kuartal II-2022.

Namun demikian, Sandiaga masih optimistis jumlah perjalanan wisatawan nusantara atau wisnus sepanjang 2022 dapat mencapai 550 juta perjalanan. Menurutnya, salah satu pendorong pencapaian target pada tahun ini adalah pent-up demand akibat pandemi Covid-19 sejak 2020.

"Penentuan berwisata itu bukan hanya harga tiket pesawat, tapi karena keinginan berwisata selama dua tahun ini belum disalurkan. Jadi, salah satu yang menjadi konsideran berwisata itu harga tiket pesawat, tapi tidak semua konsideran dari harga tiket," kata Sandiaga.

Untuk menurunkan harga tiket pesawat, Sandiaga telah mendorong maskapai penerbangan untuk menambah armadanya. Menurutnya, sebagian maskapai telah berkomitmen untuk menambah armada dan akan merealisasikannya pada paruh kedua 2022.

Sebelumnya, Sandi mengatakan PT AirAsia Indonesia, Lion Air Group, dan PT Pelita Air Services (PAS) telah berkomitmen untuk menambah frekuensi perjalanan. Hal tersebut dinilai akan menekan harga tiket pesawat, khususnya ke destinasi wisata.

Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati mengatakan peningkatan fuel surcharge sebesar 5% akan menaikkan harga tiket pesawat, khususnya penerbangan domestik. Seperti diketahui, Kemenhub meningkatkan fuel surcharge dari 10% menjadi 15% dari tarif batas atas untuk penerbangan dengan pesawat mesin jet. Sedangkan untuk penerbangan dengan pesawat mesin baling-baling naik menjadi 25% dari tarif batas atas.

 Namun demikian, Adita mengimbau maskapai penerbangan agar tidak hanya memanfaatkan peningkatan fuel surcharge untuk mengurangi beban operasional. Adita mendorong maskapai untuk melakukan inovasi pemasaran sehingga bisa menekan beban operasional tanpa menaikkan harga tiket penerbangan.

Salah satu inovasi yang ditawarkan oleh Adita adalah memaksimalkan faktor muat penumpang atau load factor dalam sebuah penerbangan. Hal tersebut penting lantaran pemerintah telah melonggarkan aturan load factor.

"Perlu upaya operator maskapai bagaimana melakukan kegiatan komersial agar load factor terus meningkat. Semakin tinggi load factor, keuntungan sebuah penerbangan makin tinggi," kata Adita.

Advertisement
Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait