Empat Negara Ini Sudah Terapkan ERP, Ada yang Sejak 1964

Jalan berbayar atau ERP sudah digunakan di sejumlah negara maju dan efektif mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke umum.
Nadya Zahira
20 Januari 2023, 06:21
ERP, jalan berbayar
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom.
Sejumlah kendaraan bermotor melintas di kawasan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (9/1/2023).

Sistem Jalan Berbayar Elektronik atau electronic road pricing atau ERP dinilai dapat mendukung dan mendorong penggunaan transportasi umum secara lebih masif. Kebijakan ini pun sudah banyak diterapkan di negara maju.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengatakan ERP merupakan suatu sistem yang dikembangkan untuk pembatasan kendaraan pribadi. Sistem ini  juga bertujuan mengurangi permintaan penggunaan jalan sampai tidak lagi melampaui kapasitas jalan.

Menurut Djoko, kebijakan ERP di Jakarta sudah diwacanakan sejak Gubernur Sutiyoso dengan terbitnya Peraturan Gubernur Nomor 103 Tahun 2007 tentang Pola Transportasi Makro.  Dirinya mendukung wacanan tersebut karena dapat mendorong peralihan kendaraan pribadi ke angkutan umum massal.

"Sebaiknya ERP diterapkan pada 2024. Masih ada sisa waktu untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang penggunaan sistem tersebut," ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (20/1).

Beberapa negara maju sudah menerapkan sistem ERP ini. Bahkan ada yang sudah menerapkannya sejak 1964.

Empat Negara yang Sudah Terapkan ERP

1. Singapura

Singapura adalah negara pertama yang mengaplikasikan ERP  tahun 1998, awalnya disebut urban road user charging. Sebelum ERP, Singapura menggunakan Area-Licensing Scheme (ALS). Tahun 1998, ALS diganti dengan Electronic Road Pricing (ERP). Jenis pemungutan congestion charging di 42 titik pembayaran. 

Tarif yang dikenakan antara US$ 0,40 – US$ 6,20 yang beroperasi mulai jam 07.00 hingga 21.30 dan tarif bisa berubah sesuai dengan jam. Pemasukan bruto per tahun US$ 65 juta dan biaya operasional US$ 12,25 juta. Terjadi penurunan lalu lintas pada peak dan off peak sebesar 25%.

2. Oslo, Norwegia

Kota Oslo di Norwegia menggunakan jenis pemungutan revenue generation di 27 titik pembayaran. Tarif yang dikenakan antara US$ 5,00– US$ 18,00 dan beroperasi selama 24 jam setiap hari.

Pemasukan bruto per tahun sebanyak US$ 400 juta dan biaya operasional US$ 45 juta. Terjadi penurunan lalu lintas sebesar 10%.

3. Stockholm, Swedia

Swedia juga menerapkan sistem ERP sebagai pajak yang dikenakan pada kendaraan yang memasuki Stockholm. Kebijakan ini dinamai Stockholm Congestion Tax atau SCT dan berlaku efektif sejak 1 Agustus 2007 setelah 7 bulan melalui uji coba. Jenis pemungutan congestion charging dengan 18 titik pembayaran. 

Tarif yang dikenakan antara US$ 1,40– US$ 2,85 dan beroperasi mulai jam 06.30 hingga 18.29 dari hari Senin hingga Jumat, kecuali Bulan Juli. Pemasukan bruto per tahun sebesar US$ 125 juta dan biaya operasional mencapai US$ 23 juta. Terjadi penurunan lalu lintas pada peak 25% dan kondisi off peak sebesar 20%.

4. London, Inggris

London juga sudah menerapkan sistem ERP tersebut, yang digagas tahun 1964 oleh Ahli Ekonomi Robert Smith. Sistem tersebut menggunakan konsep road charging dan dimulai 17 Februari 2003 oleh Walikota London Kenneth Robert Livingstone pada 2000-2008. 

Jenis pemungutan congestion charging di semua kawasan atau area. Tarif yang dikenakan antara US$ 13,60 – US$18,20 dan beroperasi mulai jam 06.30 hingga 18.00. Pemasukan bruto per tahun sebesar US$ 450 juta dan biaya operasional 300 juta USD. Terjadi penurunan lalu lintas pada peak dan off peak sebesar 20%.

 

Reporter: Nadya Zahira
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait