Inflasi Desember Diprediksi Meningkat Efek Nataru, Ini Catatan Ekonom

Abdul Azis Said
2 Januari 2023, 08:34
Calon penumpang pesawat berjalan di selasar Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (23/12/2022).
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/tom.
Calon penumpang pesawat berjalan di selasar Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (23/12/2022).

Inflasi Desember diperkirakan sedikit naik secara bulanan karena faktor musiman libur hari raya Natal dan tahun baru atau Nataru yang mendorong permintaan terhadap tiket transportasi hingga liburan. Namun inflasi secara tahunan diperkirakan melanjutkan penurunan, mengindikasikan efek kenaikan harga BBM tidak setinggi antisipasi awal.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi RDG 22 Desember lalu memperkirakan inflasi secara tahunan terus turun dan tidak akan melebihi 5,4% pada akhir tahun ini. Ekspektasi inflasi dan inflasi secara keseluruhan terus turun dan di bawah antisipasi awal akan melampaui 6% di penghujung 2022.

"Demikian juga inflasi inti masih terkendali 3,3% secara tahunan pada November, pada akhir bulan ini juga kami perkirakan tidak akan lebih dari 3,5%," kata Perry.

Inflasi Desember secara bulanan diperkirakan menanjak sebagai efek musiman libur Nataru. Meski demikian, inflasi secara tahunan, yang juga menjadi data inflasi untuk sepanjang tahun ini, akan terus turun setelah mencapai level tertingginya 5,95% saat bulan pertama kenaikan harga BBM pada September.

Berikut rangkuman prediksi inflasi Desember dari beberapa ekonom:

Bank Permata - Josua Pardede

Inflasi diperkirakan meningkat pada bulan lalu didorong kenaikan harga pangan sebagai efek musiman akhir tahun. Inflasi secara bulanan 0,54% , lebih tinggi dibandingkan November 0,09%. Inflasi secara tahunan yang sekaligus juga sebagai data inflasi akhir tahun 2022 diperkirakan sedikit turun ke 5,39% dari bulan sebelumnya 5,42%.

Selain pangan, harga-harga di kelompok barang diatur pemerintah juga berpotensi naik akibat meningkatnya permintaan tiket pesawat serta kenaikan harga BBM non subsidi. Konsumsi masyarakat yang meningkat saat libur Nataru dan kenaikan harga emas juga akan mendorong kenaikan inflasi komponen inti ke 3,36% secara tahunan.

Bank Mandiri - Faisal Rachman

Inflasi bulanan diperkirakan  0,55% karena faktor musiman libur Nataru yang mendorong peningkatan permintaan untuk jasa rekreasi dan perjalan. Harga pangan juga naik tetapi terkelola pada level sedang karena upaya pemerintah mengendalikan ketersediaan pasokan pangan. Faktor penyumbang inflasi lainnya kenaikan harga emas di tengah risiko perlambatan ekonomi global pada 2023. 

Inflasi secara tahunan diperkirakan sedikit mereda ke 5,4%. Inflasi di penghujung tahun tersebut lebih rendah dari perkiraan awal Bank Mandiri sebesar 6,27%. Hal ini karena pasokan pangan tercukupi sehingga harganya terkendali dan meredam dampak putaran kedua inflasi akibat kenaikan harga BBM. 

Bank Central Asia - David Sumual

Inflasi Desember diperkirakan 0,5% secara bulanan, dan 5,4% secara tahunan. Pendorong kenaikan inflasi tersebut karena faktor musiman seperti kenaikan tarif angkutan dan harga pangan di tengah musim libur Nataru.

Ia menilai kenaikan harga di sektor jasa serta perubahan upah akan mendorong inflasi pada awal tahun depan. Meski demikian, inflasi akan melandai pada paruh kedua karena faktor high base effect, sehingga inflasi untuk keseluruhan tahun depan diperkirakan antara 2%-3%.

BNI Sekuritas - Damhuri Nasution

Inflasi secara bulanan diperkirakan mencapai 0,51% dengan inflasi tahunan di 5,36%. Kenaikan inflasi terdorong oleh faktor musiman, yakni, penurunan produksi tanaman pada Desember dan Januari sehingga harga bahan makanan naik.

Kenaikan inflasi juga dipengaruhi musim liburan akhir tahun yang mendorong peningkatan permintaan jasa transportasi seperti tiket pesawat sehingga mendorong kenaikan harga. Harga-harga untuk jasa akomodasi seperti hotel juga akan naik saat musim libur.

 Ipsos melakukan survei terkait hal ini terhadap 20.466 responden yang tersebar di 29 negara. Mereka menemukan kecemasan masyarakat global terkait Covid-19 memang berkurang signifikan sepanjang 2022.

Pada Januari masih ada 35% responden yang mengkhawatirkan pandemi. Namun, persentasenya berangsur-angsur turun hingga menjadi 11% pada Desember.

Di sisi lain, kecemasan akan inflasi terus membesar. Awal tahun ini hanya ada 20% responden yang mencemaskan kenaikan harga. Lantas setelah perang Rusia-Ukraina pecah pada Februari, kecemasan inflasi kian menanjak hingga mencapai 40% pada Desember.

Reporter: Abdul Azis Said
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait