Taksir Ekonomi di Bawah 5% Akibat Corona, Bank Dunia Beri Saran Jokowi

Selama ini, Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia. Akibat penyebaran virus corona, Tiongkok diprediksi akan mengalami pelambatan ekonomi.
Dimas Jarot Bayu
11 Februari 2020, 14:08
corona, bank dunia
Arief Kamaludin | Katadata
Direktur Pelaksana Bank Dunia Marie Elka Pangestu memberikan saran dalam menyiasati dampak corona. a

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 diprediksi akan melambat sebagai dampak dari penyebaran virus corona yang berpusat di Tiongkok. Direktur Pelaksana Kebijakan Pembangunan dan Kemitraan Bank Dunia Mari Elka Pangestu memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2020 berada di bawah 5%.

Selama ini, Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia. Akibat penyebaran virus corona, negeri tirai bambu tersebut diprediksi akan mengalami pelambatan ekonomi. Pelambatan ekonomi Tiongkok akan dirasakan pula oleh Indonesia.

Total ekspor RI ke Tiongkok pada tahun lalu mencapai US$ 25,85 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 44,58 miliar. Adapun, Tiongkok menanamkan modalnya senilai US$ 4,7 miliar dengan total proyek sebanyak 2.130.

(Baca: Mari Elka Sebut Virus Corona Berdampak pada Pariwisata & Pedagangan)

Advertisement

Selain itu, Tiongkok merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar di sektor pariwisata. Dalam setahun, ada sekitar 2 juta wisatawan mancanegara asal Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia dengan rata-rata pengeluaran per kunjungan mencapai US$ 1.400.

"Susah diprediksi ya, mungkin bisa saja sedikit di bawah 5%," ujar Mari usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/2).

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Mari menyarankan pemerintah bisa menjaga daya beli masyarakat. Dengan demikian, konsumsi di dalam negeri dapat tetap tumbuh meski ekspor dan investasi melemah.

(Baca: Luhut: Jokowi yang Usulkan Mari Pangestu Jadi Direktur Bank Dunia)

Sektor konsumsi merupakan salah satu penyumbang terbesar terhadap struktur Produk Domesti Bruto (PDB) Indonesia. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat konsumsi rumah tangga pada kuartal IV/2019 sebesar 4,97%, melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,08%.

"Di sini mungkin program-program untuk dorong daya beli apakah itu dari PKH, program mendorong UKM, ini yang perlu ditingkatkan dalam keadaan mengantisipasi bahwa akan terjadi penurunan daya beli," kata Mari.

Mari juga meminta pemerintah tak mengandalkan ekspor ke Tiongkok dan melakukan diversifikasi pasar. Sehingga, Indonesia tak terlalu terimbas pada penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok akibat corona.

Lebih lanjut, dia meminta agar pemerintah bisa memberikan insentif bagi investasi. Alhasil, industri dalam negeri bisa berkembang dan bisa mensubstitusi produk-produk yang diimpor oleh Indonesia.

"Kami harapkan investasi yang akan mendorong mengurangi ketergantungan impor untuk berbagai keperluan industri yang kebanyakan impor dari tiongkok," kata dia.

Selain itu, Mari menyarankan pemerintah memberi insentif dan subsidi yang mampu mendorong sektor pariwisata di dalam negeri. Pemerintah juga bisa membuat kegiatan yang bisa membantu mempromosikan sektor-sektor terkait pariwisata, seperti perhotelan, restoran, serta makanan dan minuman.

"Apakah mereka diberi keringanan, diberi bantuan, ini program-program seperti itu sih sebetulnya yang perlu kita lakukan," kata Mari.

Sekadar informasi, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 sebesar 5,02%. Angka ini melambat ketimbang pertumbuhan ekonomi tahun 2018 yang sebesar 5,17%.

(Baca: Misi Bank Dunia, Lembaga Keuangan Global yang Rekrut Mari Pangestu)

Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait