Tiongkok Peringatkan AS agar Tak Provokatif di Laut China Selatan

Tentara Pembebasan Rakyat, menyebut USS Wayne E. Meyer, sebuah kapal perusak dengan peluru kendali, beredar di kawasan Tiongkok.
Yuliawati
28 Agustus 2020, 16:33
Laut China Selatan, konflik Tiongkok, Amerika Serikat
123RF.com/Bravissimos
Ilustrasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Konflik antara Amerika Serikat dan Tiongkok di Laut China Selatan semakin tegang. Tiongkok memperingatkan kapal perang AS yang berlayar di dekat pulau-pulau yang disengketakan di Laut China Selatan.  Tiongkok menganggap AS melanggar kedaulatan negara dan mendesak Washington untuk menghentikan operasi angkatan laut yang dinilai provokatif.

Militer Tiongkok, Tentara Pembebasan Rakyat, menyebut USS Wayne E. Meyer, sebuah kapal perusak dengan peluru kendali, beredar di kawasan Tiongkok.

“Fakta telah membuktikan bahwa apa yang disebut 'kebebasan navigasi' Amerika Serikat pada dasarnya adalah hegemoni yang mengabaikan aturan hukum internasional, secara serius merusak kedaulatan dan kepentingan keamanan Tiongkok dan secara serius merusak stabilitas kawasan Laut China Selatan," kata Kolonel Senior Li Huamin, juru bicara komando selatan, dikutip dari Bloomberg, Jumat (28/8).

Sementara itu Armada AS mengatakan bahwa kapal perangnya telah berlayar dalam jarak 12 mil laut dari Fiery Cross dan Mischief Reefs "untuk menantang klaim maritim yang berlebihan dan menjaga akses ke perairan sebagaimana diatur oleh hukum internasional". Tiongkok disebut telah membangun lapangan terbang dan bangunan lainnya di atas tanah reklamasi di atas dua terumbu karang.

AS secara reguler sejak 12 bulan terakhir melakukan operasi kebebasan navigasi di Indo-Pasifik. Kapal perang AS USS Preble dan USS Spruance melakukan latihan navigasi di dekat Mischief Reef pada Februari lalu. “Semua operasi dirancang sesuai dengan hukum internasional dan menunjukkan bahwa Amerika Serikat akan terbang, berlayar, dan beroperasi di mana pun hukum internasional mengizinkan,” kata juru bicara Armada Ketujuh Komandan Reann Mommsen dalam email.

Sengketa angkatan laut antara AS dan Tiongkok semakin panas dipicu perang dagang antara keduanya yang semakin tajam. Parlemen Amerika turut mengkritik penanganan pemerintah Hong Kong atas protes pro-demokrasi yang telah berkecamuk selama hampir tiga bulan.

Aksi Saling Unjuk Kekuatan

Amerika dan Tiongkok secara bergantian saling unjuk kekuatan di kawasan Laut China Selatan. Pada pertengahan Agustus lalu, sebuah kapal induk milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Ronald Reagan, tampak di perairan Laut China Selatan. Melansir dari Al Jazeera, pengiriman kapal induk tersebut dalam rangka operasi pertahanan sekaligus latihan stabilitas maritim.

Tak hanya itu, pihak AS juga mengirimkan kapal USS Mustin, sebuah kapal perusak berpeluru, melewati Selat Taiwan pada  Selasa (18/08/20). Dikutip dari South China Morning Post, Mustin merupakan bagian dari kelompok kapal USS Ronald Reagan. Dalam laporan berita, disebutkan bahwa Mustin merupakan kapal perang ketujuh yang dikirimkan oleh AS melewati Selat Taiwan. Setelah melewati daerah tersebut, Mustin kembali bergabung dengan kapal perusak lainnya di Laut China Selatan.

Pihak Taipei dan Beijing tidak tinggal diam dan mengawasi pergerakan Mustin dengan  mengirimkan kapal perang. Dikutip dari SCMP, sebuah saluran televisi milik pemerintah, China Central Television, menayangkan video rekaman kapal selam tipe 093B pada Kamis (20/08/20). Dalam video berdurasi delapan menit tersebut digambarkan kapal selam menembakkan tabung torpedo ke arah kapal musuh.
 
Menurut Antony Wong Tong, seorang pengamat militer asal Makau, penyiaran video  merupakan pesan untuk Washington. “Tipe 093B cukup kuat untuk menjadi ancaman bagi kapal perang AS karena dilengkapi dengan peluru kendali anti-kapal YJ-18. Mereka siap bertempur untuk melawan Amerika." Kata Antony dikutip dari SCMP.

Konflik Rebutan Potensi Laut China Selatan

Potensi dan kekayaan yang dimiliki oleh Laut China Selatan menjadi penyebab perseteruan atas klaim wilayah tersebut. Dikutip dari CNBC, Laut China Selatan merupakan jalur pelayaran yang terkenal, diperkirakan nilai perdagangannya mencapai US$ 5,3 triliun per tahun. Hal itu setara dengan sepertiga nilai perdagangan maritim secara global.

Tak hanya itu, potensi Sumber Daya Alam di Laut China Selatan yang melimpah juga menjadi faktor pendorong perebutan wilayah ini. Kawasan tersebut mengandung minyak bumi dan gas alam. Amerika Serikat diperkirakan telah menempatkan kepemilikan terhadap 11 miliar barel minyak dan 190 triliun kaki kubik gas di area tersebut.

Di sisi lain, Tiongkok telah mengklaim jalur air berdasarkan batas yang pertama kali dicatat pada 1947. Garis tersebut membentang sejauh 1.200 mil dari China Daratan, tetapi hanya berjarak kurang dari 200 mil dari wilayah pesisir Malaysia, Vietnam, dan Malaysia.

Padahal dalam hukum internasional, setiap negara memiliki hak atas wilayah sepanjang 12 mil laut dari pantai. Selain itu, hukum tersebut juga mencatat negara dapat mengklaim Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sejauh 200 mil laut untuk kegiatan penangkapan ikan dan pengeboran SDA.

Sebenarnya pada 2016 silam, peradilan internasional telah memutuskan Tiongkok tidak memiliki landasan hukum atas klaim tersebut. Keputusan itu telah sah mengikat secara hukum internasional, tetapi tidak ada sistem penegakannya. Hingga saat ini, pemerintah Tiongkok mengabaikan keputusan tersebut dan justru membangun pulau dan pangkalan militer di kawasan Laut China Selatan.

Penyumbang bahan: Agatha Lintang

Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait