Strategi Qatar dan Turki Bangun Hubungan Baik dengan Taliban

Merapatnya Qatar dan Turki ke Taliban dikhawatirkan memperkeruh hubungan kenegaraan di Timur Tengah.
Yuliawati
7 September 2021, 20:30
Taliban, Afganistan
ANTARA FOTO/REUTERS/Ibraheem al Omari
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo berjalan menjelang penandatanganan kesepakatan antara anggota delegasi Taliban Afganistan dan pemerintah Amerika Serikat di Doha, Qatar, Sabtu (29/2/2020).

Di saat banyak negara menjauh dari Taliban yang menguasai Afganistan, Qatar dan Turki memilih mendekati kelompok tersebut. Bahkan Qatar kini menjadi penghubung bagi negara-negara yang sedang memproses evakuasi warganya dari Afganistan.

Teranyar, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menemui Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani  membahas perkembangan Afganistan dan evakuasi lanjutan warga AS dan warga Afganistan yang berisiko di negara itu.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan bahwa Blinken berterima kasih kepada Tamim "atas dukungan Qatar yang luar biasa dalam memfasilitasi transit yang aman bagi warga AS, mitra kami, dan orang Afganistan yang berisiko," dikutip dari Reuters, Selasa (7/9).  

Peneliti di International Crisis Group, Dina Esfandiary, menyebut Qatar memang memiliki kedudukan istimewa. “Tak ada yang mampu untuk melakukan proses evakuasi besar-besaran keluar dari Afganistan tanpa keterlibatan Qatar, dalam beberapa cara atau yang lainnya,” kata Dina dikutip dari BBC, Jumat (3/9).

Hubungan antara Qatar dan Taliban melalui sejarah panjang. Pada 2013, Qatar mengizinkan Taliban membuka kantor di Doha dengan dukungan pemerintah AS.

Pada waktu itu, Washington mencari tempat netral untuk bernegosiasi dengan milisi Islam tersebut untuk mempersiapkan penarikan pasukan dari Afganistan.

Salah satu pendiri Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, menjadi perwakilan kelompok tersebut di Qatar pada 2018. Baradar saat itu baru keluar dari sebuah penjara di Pakistan, sejak 2010 dia dipenjara oleh pasukan intelijen Pakistan yang bekerja sama dengan CIA.

Dina menyebut berkuasanya Taliban di Afganistan memberikan manfaat besar bagi Qatar. “Afganistan dan Taliban akan menjadi kemenangan berarti bagi Qatar, bukan hanya karena ini menunjukkan mereka mampu bermediasi dengan Taliban, tapi ini membuat mereka menjadi pemain yang serius bagi negara-negara Barat yang terlibat,” kata Dina.

Lolwah Alkhater, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, mengatakan Qatar akan menjadi perantara yang baik dalam konflik yang terjadi di Afganistan. “Qatar melanjutkan menjadi mediator terpercaya dalam konflik ini,” ujarnya.



Turki juga sejak awal sudah memandang positif pengambilalihan Afganistan ke tangan Taliban. Mevlut Cavusoglu, Menteri Luar Negeri Turki, mengatakan Turki siap memberikan bantuan teknis dan keamanan jika Taliban memintanya.

Turki memiliki 600 tentara di Afghanistan, dan mereka siap membantu Taliban untuk mendapatkan pengakuan internasional.

Seorang pejabat senior Turki mengatakan bahwa komunikasi dengan Taliban sudah dilakukan jauh hari sebelum pemerintahan Afganistan direbut.

Pejabat senior tersebut berkata telah bertemu dengan pejabat militer Taliban melalui Pakistan, dan telah berhubungan dengan sayap politik melalui Qatar.

Meski saat ini Qatar dan Turki sedang berupaya membantu Taliban, keadaan tersebut berpotensi menimbulkan risiko politik di masa depan, termasuk memperburuk keretakan di Timur Tengah.

BBC menyebut Qatar dan Turki termasuk negara dengan wilayah pergerakan kelompok yang menggunakan nama Islamis. Hal demikian sering menimbulkan tekanan bagi negara muslim di Timur Tengah lainnya seperti Mesir, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Di saat yang bersamaan, Mesir, Arab Saudi, dan UAE menganggap kelompok bernamakan Islamis sebagai ancaman yang serius.

Merapatnya Qatar dan Turki ke Taliban dikhawatirkan memperkeruh hubungan kenegaraan di Timur Tengah.

Advertisement

 Penyumbang bahan: Akbar Malik

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait