Harga Tes PCR Makin Murah, Dokter Khawatir Kualitasnya Menurun

Komponen harga tes PCR di antaranya reagen yang saat ini dianggap masih mahal.
Image title
27 Oktober 2021, 16:44
tes PCR, covid-19
ANTARA FOTO/Fauzan/foc.
Seorang warga untuk memasuki ruangan untuk menjalani tes usap PCR di kawasan Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (19/8/2021).

Pemerintah berencana menurunkan harga tes Polymerase Chain Reaction (PCR) menjadi Rp 300 ribu. Namun, penurunan harga tersebut dikhawatirkan mengorbankan kualitas tes PCR.

"Dikhawatirkan mengorbankan kualitas. Karena biaya operasional akan mepet sekali," kata Ketua Persatuan Dokter Spesialis Patologi Klinik Aryati kepada Katadata.co.id, Rabu (27/10).

Reagen merupakan salah satu komponen terbesar dalam penentuan harga tes PCR. Aryati mengatakan, reagen dan alat yang digunakan oleh setiap lab berbeda jenis.

Ada dua sistem pengerjaan PCR, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka dapat menggunakan reagen mana saja, tidak perlu berasal dari produk yang sama dengan alat ekstraksi maupun alat PCR.

Namun, sistem terbuka dikerjakan secara manual, membutuhkan waktu yang lama, serta perlu ketelitian yang tinggi. Adapun sistem tertutup harus menggunakan reagen dari produk yang sama dengan alat ekstraksi maupun alat PCR. Sistem ini bekerja secara otomatis serta waktu pengerjaannya lebih singkat.

Dengan demikian, sistem terbuka lebih murah dibandingkan dengan sistem tertutup. Namun, sistem terbuka tetap memerlukan biaya pemeriksaan yang tidak murah.

Aryati menyebut reagen yang berkualitas baik, harganya lebih mahal. "Ada beberapa merk bagus berkualitas. Namun dengan harga tes PCR 495 ribu pun, belum bisa (mendapatkan merk berkualitas)," ujar dia.

Ia pun menilai, semestinya harga PCR tetap dipatok sebesar Rp 495 ribu. Setelah itu, pemerintah bisa memberikan kebebasan bagi laboratorium untuk melakukan penyesuaian harga sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Opsi lainnya, ia meminta tes PCR tidak menjadi syarat perjalanan pesawat terbang. "Mungkin bisa dengan antigen. Antigen hanya positif pada fase akut saja," ujar dia.

Sekjen Gabungan Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Randy Teguh mengatakan harga reagen saat ini berkisar Rp 150 ribu-200 ribu. "Harga tergantung dinamika pasar," ujar dia.

Harga reagen tersebut sudah lebih terjangkau dibandingkan tahun lalu. Pada November 2020, harga reagen masih sebesar Rp 500 ribu lantaran minimnya produsen reagen. Selain itu, permintaan reagen juga masih rendah lantaran kasus Covid-19 saat itu hanya berkisar 1.000 kasus.

Adapun, saat ini sudah terdapat banyak produsen reagen dan permintaan meningkat. "Kami tergantung dinamika pasar. Kalau pembelian banyak, harga bisa terkoreksi," ujar dia.

Ia menilai penetapan harga PCR sebesar Rp 300 ribu perlu mendapatkan persetujuan dari rumah sakit atau laboratorium penyelenggara PCR. Apalagi, ada sejumlah komponen lain dalam penentuan harga tes PCR.

Beberapa komponen penentu tersebut meliputi Alat Pelindung Diri (APD), masker, swab stick, pengolahan limbah, hingga honor tenaga kesehatan.

Presiden Jokowi telah menyampaikan akan menurunkan harga PCR menjadi Rp 300 ribu. Presiden juga meminta durasi pemberlakuan hasil tes bagi penumpang pesawat ditambah dari 2x24 jam menjadi 3x24 jam.

Advertisement

Dengan demikian, penumpang perjalanan dapat mengambil tes PCR pada H-3 sebelum keberangkatan. "Arahan Presiden agar harga PCR dapat diturunkan menjadi Rp 300 ribu," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers virtual, Senin (25/10).

Berdasarkan hasil survei Media Survei Nasional (Median) sebanyak 91,8% responden menilai harga tes PCR dan antigen untuk mendeteksi virus corona Covid-19 di Indonesia tergolong mahal.Berikut grafik Databoks:

Reporter: Rizky Alika
Editor: Yuliawati

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait