Kalah Canggih dari Rusia, Ini Kekuatan Militer Ukraina

Kemampuan militer Ukraina jauh tertinggal dari Rusia, baik dari segi jumlah pasukan maupun kecanggihan senjata.
Image title
24 Februari 2022, 16:00
Rusia, Ukraina
ANTARA FOTO/REUTERS/Gleb Garanich/foc/sad.
Seorang anggota militer Ukraina berjalan di sepanjang parit pada posisi di garis depan dekat kota Novoluhanske di wilayah Donetsk, Ukraina, Selasa (22/2/2022).

Presiden Rusia Vladimir Putin mengerahkan pasukannya ke Ukraina sebelah timur, hari ini. Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan Rusia telah meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina dan menargetkan kota-kota dengan serangan senjata.

“Putin baru saja meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina. Kota-kota Ukraina yang damai sedang diserang,” kata Kuleba dalam cuitan di Twitter, Kamis (24/2).

Kemampuan militer Ukraina jauh tertinggal dari Rusia, baik dari segi jumlah pasukan maupun kecanggihan senjata. Kekuatan militer Rusia saat ini berada di peringkat ke-2 dunia, menurut lembaga pemeringkat militer dunia Global Firepower. Adapun Ukraina berada di peringkat ke-22.

Reuters menyebutkan, ahli militer menyebut Ukraina mampu memberikan perlawanan yang berarti. Dari segi anggaran Ukraina menggelontorkan dana sejumlah US$4,3 miliar untuk memperkuat kemampuan pertahanannya pada tahun 2020.

Pertahanan Ukraina saat ini dilengkapi dengan pertahanan udara jarak pendek dan senjata yang mampu melumpuhkan tank yang menghambat militer Rusia. Persenjataan tersebut termasuk rudal Javelin yang dipasok Amerika Serikat.

Selain pasukan aktif, Ukraina memiliki unit pertahanan teritorial sukarela dan sekitar 900 ribu pasukan cadangan yang mayoritas diisi oleh pria dewasa berbekal pelatihan dasar militer.

Meski demikian pertahanan anti-pesawat tempur dan anti-rudal Ukraina masih tergolong lemah sehingga rentan terhadap serangan Rusia.

Adapun Rusia memiliki keunggulan dalam teknologi yang mampu melumpuhkan rantai komando dan kendali musuh dengan memutus komunikasi dari unit yang ada di medan tempur.

Banyak analis militer menyebut Rusia tidak mungkin melakukan invasi skala penuh terhadap Ukraina. Hal ini karena akan menimbulkan perang yang berkepanjangan dan banyak korban berjatuhan.

Mereka memprediksi Rusia akan lebih memilih untuk meluncurkan serangan udara dan/atau merebut tanah Ukraina ketimbang terlibat dalam perang skala besar. Opsi lainnya bagi Rusia adalah untuk mendorong wilayah selatan dan barat dari kawasan Donbass di Ukraina Timur.

Wilayah yang sudah dikuasai oleh pendukung Rusia tersebut nantinya akan bergabung dengan wilayah Krimea dan Laut Hitam. Kemudian terdapat juga opsi pasukan dari Belarusia dapat menyeberang perbatasan utara Ukraina sebagai bagian dari penyerangan.

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pasukan militer menyerang Ukraina timur. Reuters melaporkan, tak lama setelah Putin berbicara dalam pidato khusus yang disiarkan televisi di TV pemerintah Rusia, terdengar ledakan dari ibu kota Ukraina, Kyiv, sebelum fajar waktu setempat.

Kantor berita Ukraina interfax menyebutkan tembakan terdengar di dekat bandara utama ibu kota. Ledakan juga mengguncang kota Donetsk, salah satu wilayah yang memisahkan diri dari Ukraina.

Advertisement

Laporan terakhir, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menyerang infrastruktur militer di pangkalan udara dan merusak pertahanan udara Ukraina.

"Bandara internasional utama memang diserang – tidak jelas apa kerusakannya, tetapi semua ruang udara ditutup,” kata Andrew Simmons, wartawan Al Jazeera, Kamis (24/2).

 

Reporter: Nuhansa Mikrefin
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait