Dapat Jatah Gas Murah, Produksi Baja dan Sarung Tangan Malah Turun

Meski mengunakan gas murah, kapasitas produksi pada industri sarung tangan karet yang justru minus 24,17% dan industri baja minus 6,67%.
Muhamad Fajar Riyandanu
26 Oktober 2022, 19:28
baja, gas
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah
Industri baja.

Tak semua sektor industri penerima gas murah melalui skema harga gas bumi tertentu atau HGBT senilai US$ 6 per juta British thermal unit (MMBTU) mampu meningkatkan kapasitas produksi. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat rata-rata kebijakan HGBT meningkatkan kapasitas produksi manufaktur sebesar 7,3%.

Sektor yang mampu meningkatkan produksi di antaranya industri gelas kaca meningkat 32,55% dan industri keramik tumbuh 10,26%. Akan tetapi, kebijakan HGBT gagal untuk meningkatkan kapasitas produksi pada industri sarung tangan karet yang justru minus 24,17% dan industri baja yang minus 6,67%

Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Yustinus Harsono Gunawan, mengatakan perbedaan tingkat produksi disebabkan karena faktor internal pelaku usaha. Yustinus mencontohkan, para industri baja harus mengeluarkan dana investasi yang jauh lebih besar dari sektor usaha lainnya. Selain itu, proses produksi baja lebih rumit dari alur produksi barang di industri manufaktur lainnya.

"Produksi baja perlu waktu yang lebih panjang dan sekali invetasi bisa ratusan triliun. Berbeda dengan misalnya industri keramik dan kaca yang lima sampai tujuh tahun nilai investasinya sudah balik," kata Yustinus saat ditemui usai sesi Forum Diskusi Kebijakan Implementasi HGBT di Hotel Westin, Jakarta, Rabu (26/10).

Advertisement

Peningkatan produksi gelas kaca didorong pertumbuhan permintaan yang tinggi. Industri kaca menjadi salah satu yang paling awal pulih dari krisis pandemi. "Industri kaca pada akhir tahun 2020 sudah hampir pulih," ujar Yustinus.

Sektor industri keramik yang mayoritas berlokasi di Provinsi Jawa Timur juga mengalami hal yang sama. Yustinus menyebut, lonjakan kapasitas produksi pada sektor industri keramik disebabkan oleh meningkatnya permintaan ubin porselen dari menjamurnya bisnis properti.

"Karena pertumbuhan permintaan rumah-rumah banyak sekali, keramik dan ubin itu kan bagian dari gaya hidup ya. Paling tiga sampai empat ganti, beda dengan kaca yang kalau gak pecah gak diganti-ganti," kata Yustinus.

Dari catatan Kemenperin, pemerintah telah menyalurkan gas murah seharga US$ 6 per MMBTU kepada 63 perusahaan baja dengan total salur 76,339 miliar bristh thermal unit per hari (BBTUD). Selanjutnya, pemerintah juga sudah mengalokasikan HGBT kepada 65 perusahaan keramik sebanyak 130,598 BBTUD dan 17 perusahaan industri kaca sejumlah 56,014 BBTUD.

Kemudian, enam perusahaan sarung tangan karet yang telah menerima HGBT sejumlah 1,226 BBTUD, 51 perusahaan petrokimia dengan 94,651 BBTUD, 5 perusahaan pupuk sebanyak 858,26 BBTUD dan 10 perusahaan oleochemical sebanyak 40,108 BBTUD.

 

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait