Mengenal Teknologi 6G yang Akan Menyatukan Dunia Fisik dan Virtual

Selain Tiongkok negara-negara lain pun mulai mengembangkan 6G seperti Inggris, Finlandia, dan Korea Selatan.
Image title
13 November 2020, 15:16
Satelite 6G yang diluncurkan Tiongkok
SCMP/Youtube
Satelite 6G yang diluncurkan Tiongkok pada pekan lalu.

Tiongkok baru-baru ini berhasil meluncurkan satelit eksperimental untuk internet generasi keenam (6G) yang pertama di dunia. Peluncuran satelit 6G bertujuan untuk mencapai ultra-fast network yang direncanakan dapat digunakan pada 2030 mendatang. Jaringan baru tersebut diperkirakan dapat memiliki kecepatan hingga 100 kali lebih cepat dari 5G.

Satelit tersebut diluncurkan di Taiyuan Satellite Launch Centre, Provinsi Shanxi, Tiongkok Utara. Peluncuran satelit dikirim ke orbit bersama dengan 12 satelit lainnya dalam satu roket pembawa Long March-6 pada Jumat (6/11). Proyek tersebut merupakan kerja sama University of Electronic Science and Technology of China (UESTC) bersama dengan Chengdu Guoxing Aerospace Technology, serta Beijing MinoSpace Technology.

Menurut Xu Yangsheng, salah satu akademisi dari Chinese Academy of Engineering, jaringan 6G akan menggabungkan jaringan komunikasi satelit dengan jaringan komunikasi darat. “Satelit eksperimental ini menandai pertama kalinya teknologi komunikasi terahertz akan diverifikasi ketika diterapkan di luar angkasa,” dikutip dari Daily Mail, beberapa hari lalu.

Wakil Menteri Biro Teknologi Tiongkok Wang Xi menyatakan pihaknya akan bekerja sama dengan para ahli dalam merancang rencana penelitian untuk 6G. Biro Teknologi juga telah menggandeng 37 ahli telekomunikasi dari universitas, institusi, dan perusahaan untuk membentuk panel pengembangan 6G serta melakukan uji kelayakan pada jaringan tersebut.

Di saat bersamaa, beberapa perusahaan telekomunikasi Tiongkok, seperti Huawei, ZTE, Xiaomi, dan China Telecom juga telah memulai penelitian jaringan 6G. Bahkan, Xiaomi berencana menghentikan produksi telepon seluler atau ponsel 4G di Tiongkok akhir 2020.

Xiaomi akan lebih memfokuskan sumber daya mereka pada pembuatan ponsel 5G saja, sembari mengembangkan teknologi 6G. Pendiri dan CEO Xiaomi Lei Jun mengatakan bahwa Xiaomi telah memulai pra-penelitian teknologi 6G. Namun, menurutnya, Xiaomi tidak memiliki rencana untuk meluncurkan teknologi itu sendiri.

"Teknologi 6G akan membutuhkan perangkat yang mendukung stasiun pangkalan, dan satelit di belakang standar nirkabel baru," kata Jun dikutip dari Tech In Asia pada Juni lalu (2/6).

Satelite 6G yang diluncurkan Tiongkok
Satelite 6G yang diluncurkan Tiongkok (SCMP/Youtube)

 

Keunggulan 6G

Selain Tiongkok negara-negara lain pun mulai mengembangkan 6G seperti Inggris, Finlandia, dan Korea Selatan. Inggris mendirikan pusat inovasi khusus untuk mengembangkan 6G di University of Surrey yang menjadi pusat inovasi kedua terkait 6G, selain Finlandia. Pusat inovasi ini berhasil mengembangkan teknologi 5G sejak 2013, dan kini universitas tersebut ingin memperluas cakupannya.

"Sekarang adalah waktunya bagi universitas dan industri di Inggris memulai perjalanan bersama menuju 6G," kata wakil rektor University of Surrey Profesor Max Lu dikutip dari Daily Mail pada Kamis (12/11).

Di pusat inovasi itu, para peniliti memfokuskan pengembangan 6G  dengan tujuan agar jaringan seluler dapat menyatukan dunia fisik dan dunia virtual.

Direktur Pusat Inovasi 6G University of Surrey Profesor Rahim Tafazolli mengatakan, jaringan 5G memungkinkan virtual reality atau augmented reality, namun visual yang ditampilkan yakni video tiga dimensi. "Jadi apa yang kami lakukan di 6G, kami menjadikannya empat dimensi, dan dimensi keempat adalah indera manusia," katanya.

Advertisement

Teknologi 6G nantinya memungkinkan adanya sensor yang mengirimkan sentuhan, indera penciuman dan perasa. Menurut Rahim, kemampuan seperti itu bisa berdampak signifikan, salah satunya untuk teknologi perawatan kesehatan. Dokter memungkinkan untuk merawat pasien meskipun jarak jauh. Selain itu, pertemuan virtual pun akan terasa asli.

Jaringan 6G pertama juga diharapkan akan memberikan peningkatan kecepatan, kapasitas, dan latensi lebih daripada 5G. Selain itu, pusat inovasi itu juga menargetkan teknologi integrasi antara kecerdasan dan penggunaan jenis spektrum baru, seperti pita terahertz.

Jaringan 6G diperkirakan mendukung kecepatan unduh 1 terabyte per sekon (Tbps). Dengan kecepatan itu, pengguna bisa mengunduh 142 jam film dalam sedetik. Jika menggunakan 5G, butuh beberapa detik.

Adu Cepat Pengembangan Jaringan 6G


Tiongkok memulai penelitian jaringan teknologi 6G sejak November 2019. Melansir dari Reuters pada November tahun lalu, teknologi yang berkaitan dengan ultra-fast network ini yang menjadi titik konflik utama antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Jaringan seluler 5G menjadi topik yang telah dipolitisasi dalam perseteruan antara dua negara tersebut.

Adu cepat penemuan jaringan ini juga melibatkan Huawei Technologies, perusahaan perangkat telekomunikasi dan jaringan telekomunikasi asal Tiongkok. Di sisi lain, pemerintah AS khawatir peralatan Huawei digunakan oleh Tiongkok sebagai aksi mata-mata.

Sehingga AS memasukkan Huawei dalam daftar hitam sejak Mei 2019 dan tak lagi dapat membeli suku cadang buatan Amerika. Sanksi ini tetap diberikan meski perusahaan membantah tuduhan tersebut.

Korea Selatan juga merupakan negara yang serius mengembangkan teknologi 6G. Mereka siap menginvestasikan US$ 169 juta atau setara dengan Rp 2,4 triluin selama periode 2021 dan 2026. Rencananya, teknologi 6G asal Korea  Selatan memiliki kecepatan transmisi data hingga satu terabyte per detik. Teknologi tersebut memiliki kecepatan lima kali lebih cepat dibanding layanan 5G.

Penerapan jaringan 6G pada proyek percontohan pada 2026 mendatang meliputi mobil otonom, teknologi imersif untuk layanan kesehatan digital, smart city, dan smart factories.

Pemerintah Korea Selatan menggandeng Samsung Electronics merancang jaringan teknologi 6G. Dalam laporannya, Samsung menyebutkan bahwa persyaratan kinerja 6G adalah kecepatan data tertinggi mencapai 1.000 Gbps dengan latensi kurang dari 100 mikrodetik. Sama seperti Tiongkok, laporan Samsung juga menyebutkan bahwa kandidat teknologi yang memenuhi persyaratan jaringan 6G adalah penggunaan pita frekuensi terahertz untuk meningkatkan jangkauan sinyal.

Samsung menargetkan komersialisasi teknologi 6G pada 2028. Mengutip ZDNet, Juli lalu (14/7), Samsung mengatakan bahwa persatuan teknologi internasional atau International Telecommunication Union (ITU), akan mulai bekerja untuk menetapkan standar teknologi 6G pada 2021.

Samsung menilai target komersialisasi teknologi 6G pada 2028 dapat tercapai, sebab secara historis periode pengembangan jaringan internet makin singkat. Pengembangan teknologi 3G misalnya membutuhkan waktu 15 tahun, namun untuk mencapai 5G hanya memakan waktu delapan tahun.

Finlandia yang telah menerapkan teknologi 5G juga sedang mengembangkan penelitian jaringan 6G. Proyek tersebut dipimpin oleh University of Oulu dan berkolaborasi dengan perusahaan internasional. Melansir dari Business Finland,  program 6G Flagship memiliki anggaran sebesar 251 juta euro atau senilai dengan Rp 3,6 triliun selama periode 2018-2026.  Sebagian dana tersebut dibiayai oleh Academy of Finland dan dioperasikan bersama dengan Nokia, VTT Technical Research Centre of Finland, Aalto University, BusinessOulu, and Oulu University of Applied Sciences.

Menurut Direktur Program 6G Flagship Matti Latva-aho, program pengembangan jaringan 6G ini menawarkan peluang bisnis baru dan terbuka untuk melakukan kolaborasi.

“Proyek 6G Flagship terbuka terhadap semua perusahaan yang tertarik dengan teknologi jaringan nirkabel pada generasi mendatang. Kami menawarkan keahlian kelas dunia kepada perusahaan dan kolaborasi industri yang sukes,” ungkap Latva-aho, dikutip dari Business Finland, Juni 2019 silam.

Latva-aho mengungkapkan, proyek 6G Flagship tidak hanya terbuka untuk perusahaan ICT. Terlebih proyek tersebut telah memiliki kolaborasi berkelanjutan dengan perusahaan di bidang energi, kesehatan, industri 4.0, logistic, media, transportasi, dan pengembangan smart city.

Penyumbang bahan: Agatha Lintang

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait