Permintaan Ponsel Premium Anjlok, Samsung Setop Produksi Galaxy Note

Samsung dikabarkan tidak memiliki rencana untuk mengembangkan versi baru Galaxy Note untuk 2021.
Image title
2 Desember 2020, 10:26
Samsung Galaxy Note, Samsung, produksi turun
GSM Arena
Samsung meluncurkan dua ponsel Galaxy Note 20 dan Galaxy Note 20 Ultra pada Agustus 2020.

Perusahaan ponsel pintar (smartphone) asal Korea Selatan Samsung berencana menghentikan produksi smartphone kelas premium Galaxy Note. Alasannya, permintaan ponsel premium secara global anjlok karena pandemi.

Sumber Reuters yang mengetahui masalah tersebut menyebutkan Samsung tidak memiliki rencana untuk mengembangkan versi baru Galaxy Note untuk 2021. Samsung hanya akan mengembangkan produk untuk Galaxy S, S21 dan fokus pada produk ponsel lipat.

"Upaya pengembangan perusahaan yang biasanya diarahkan ke Note kini akan disalurkan ke jajaran ponsel lipatnya," kata sumber yang tidak mau disebutkan identitasnya dikutip dari Reuters pada Selasa (2/11).

Smartphone Galaxy S dan S21 itu memang akan memiliki stylus dan versi berikutnya dari ponsel lipat Samsung. Ponsel akan kompatibel dengan stylus, yang akan dijual secara terpisah.

Permintaan Galaxy Note dikabarkan turun tajam selama pandemi corona. Analis di firma riset Counterpoint, Tom Kang mengatakan penjualan seri Galaxy Note dari Samsung diperkirakan turun seperlima menjadi hanya 8 juta unit saja pada tahun ini. "Permintaan smartphone kelas premium tahun ini menurun dan banyak orang yang tidak mencari produk baru," ujarnya.

Samsung pertama kali meluncurkan Note pada 2011 dan ketika itu menjadi terobosan baru di pasar sekaligus upaya merebut dominasi Apple. Ponsel premium terbaru dari Samsung yakni Galaxy Note 20 diluncurkan di Amerika Serikat (AS) pada tahun ini. Harga smartphone itu mencapai US$ 999, sedangkan iPhone 12 mulai dari US$ 799.

Pandemi Covid-19 memang membuat produsen ponsel khawatir finansial konsumen mereka terganggu. Alhasil, produsen ponsel seperti Samsung membatasi jumlah perangkat yang dibuatnya. Mereka hanya fokus pada produk yang benar-benar akan dibeli orang.

Dengan kondisi pandemi, Samsung pun menghadapi tantangan untuk menjual ponsel mahal andalan mereka. Eksekutif Samsung Tae-moon Roh pada Juli lalu mengatakan bahwa perusahaan akan meluncurkan produk yang lebih berani. "Kami akan membuat teknologi seluler yang lebih personal, cerdas, berguna, dan aman," katanya dikutip dari CNET pada Agustus lalu (5/8).

Samsung pun meluncurkan beberapa produk smartphone murah tahun ini seperti Galaxy A seri barunya. Harga perangkat berkisar dari US$ 110 untuk Galaxy A01 hingga US$ 600 untuk Galaxy A71 dengan 5G.

Meski pandemi membuat ponsel kelas atas Samsung anjlok, perusahaan asal Korea Selatan itu menunjukkan kinerja baik di kuartal III. Samsung menyalip Huawei dari sisi jumlah pengiriman smartphone terbanyak secara global pada kuartal III.

Pengiriman smartphone Samsung secara global mencapai 79,8 juta, tumbuh 2% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara pangsa pasar Samsung mencapai 22%

Counterpoint mencatat, pengiriman smartphone global mencapai 366 juta unit pada kuartal III berdasarkan market monitor service. Jumlahnya turun 4% secara tahunan (year on year), tetapi tumbuh 32% per kuartalan. Pemulihan didorong oleh semua pasar utama, seperti AS, India, dan Amerika Latin.

Ponsel Samsung merupakan merek yang paling favorit digunakan di Tanah Air. Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) sebanyak 36,2% responden memilih menggunakan ponsel bermerek Samsung. Ada 21,1% responden memilih menggunakan Oppo, 18,6% Xiaomi, 10,4% Vivo, dan 1,9% Realme. Adapun 3,4% responden memilih menggunakan Iphone dari Apple.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait