Riset OpenSignal: Spektrum 3G Perlu Dihapus untuk Maksimalkan 5G

Mayoritas penduduk Indonesia menggunakan jaringan 2G dan 3G. Padahal untuk memaksimalkan 4g dan 5G, jaringan 2G dan 3G perlu dihapus.
Image title
4 Juni 2021, 11:28
5G, hapus 3G, riset
ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY
Teknisi melakukan pengesetan jaringan 5G sebelum berlangsungnya ujicoba jaringan di Jakarta.

Riset dari perusahaan analisis jaringan telekomunikasi, OpenSignal menyebutkan mayoritas masyarakat Indonesia saat ini masih menggunakan jaringan 2G dan 3G di tengah upaya menggelar jaringan internet generasi kelima (5G). Padahal, spektrum jaringan 2G dan 3G perlu dihapus untuk memaksimalkan jaringan 4G atau 5G.

"Indonesia telah mengalami peningkatan yang signifikan seperti dengan meluncurkan 5G. Namun, cara spektrum yang digunakan untuk layanan seluler membatasi negara untuk mewujudkan potensi penuhnya," demikian dikutip dari laporan OpenSignal pada Kamis (3/6).

Apabila pita frekuensi 2G dan 3G milik operator seluler dihapus dan digunakan untuk perluasan 4G atau pengembangan 5G, pengalaman seluler Indonesia akan meningkat. Pemanfaatan spektrum untuk 4G dan 5G pun menjadi lebih efisien.

Setelah mendapatkan jaringan 4G atau 5G, masyarakat akan mendapatkan manfaat berupa akses internet yang lebih cepat dan penggunaan data yang lebih banyak. Bagi operator seluler, pengguna di pita MHz yang sama dibandingkan dengan 2G dan 3G pun menjadi lebih banyak.

Namun,  operator seluler di Indonesia saat ini masih bergantung pada pita frekuensi 900 MHz dan 1800 MHz untuk jaringan 2G dan 2100 MHz untuk jaringan 3G. "Karena masih digunakan untuk mendukung beberapa pengguna," kata OpenSignal.

OpenSignal tidak mencatat berapa perkiraan jumlah masyarakat Indonesia yang masih menggunakan jaringan 2G dan 3G. Hanya saja, berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), ada 12.548 desa yang belum sampai terakses internet 4G pada tahun lalu.

Rinciannya, 9.113 desa berada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Sedangkan 3.435 lainnya di luar wilayah ini, sehingga menjadi tanggung jawab operator seluler untuk menyediakan 4G.

Opensignal menyelidiki alasan beberapa masyarakat Indonesia masih menggunakan jaringan 2G dan 3G dan belum sampai terhubung ke jaringan 4G. Alasan pertama, pengguna tidak memiliki langganan 4G.

Data OpenSignal menunjukkan bahwa 67,5% pengguna internet di Indonesia yang hanya menggunakan jaringan 3G sebenarnya memiliki ponsel berkemampuan 4G. Mereka juga menghabiskan waktu di area yang tercakup 4G.

Namun, pengguna khusus 3G ini kemungkinan tidak meningkatkan aksesnya ke langganan 4G. "Mereka tidak menyadari manfaatnya atau mungkin telah menonaktifkan koneksi 4G di ponsel mereka," kata OpenSignal.

Alasan kedua, pengguna tidak memiliki perangkat berkemampuan 4G. Ada 16,8% pengguna khusus 3G di Indonesia, menghabiskan waktu di area yang tercakup 4G tetapi tidak memiliki ponel berkemampuan 4G.

Alasan ketiga, pengguna tidak tercakup oleh jaringan 4G. Ada 10,9% pengguna khusus 3G yang memiliki perangkat ponsel berkemampuan 4G, tetapi menghabiskan waktu mereka di area yang belum terjangkau jaringan 4G.

Selain itu, 4,9% pengguna khusus 3G juga tidak memiliki jangkauan 4G dan perangkat berkemampuan 4G. "Ini menjadikan jumlah pengguna khusus 3G Indonesia di luar jejak 4G menjadi 15,8%," ujar OpenSignal.

Di sisi lain, Indonesia telah resmi menggelar jaringan internet generasi kelima alias 5G melalui Telkomsel di enam lokasi di Jabodetabek pada pekan lalu (27/5). Keenamnya yakni Kelapa Gading, Pondok Indah, Pantai Indah Kapuk (PIK), BSD, Widya Chandra, dan Alam Sutera.

Kemudian, jaringan 5G digelar bertahap di Solo, Medan, Balikpapan, Denpasar, Batam, Surabaya, Makassar, dan Bandung. “Saya harap teknologi 5G bukan hanya mengakselerasi gaya hidup digital masyarakat Indonesia untuk menjadi smart digital user, tetapi juga mendorong lahirnya smart digital preneur ,” kata Direktur Utama Telkomsel Setyanto Hantoro dalam siaran pers, pekan lalu (24/5).

Telkomsel menjadi operator seluler pertama yang menggelar 5G di Indonesia karena telah menerima Surat Keterangan Laik Operasi (SKLO) teknologi 5G dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Perusahaan mengatakan, SKLO membuktikan bahwa perusahaan memenuhi seluruh persyaratan dan regulasi yang berlaku untuk mengoperasikan layanan 5G secara komersial di Nusantara.

Anak usaha Telkom itu juga menang lelang spektrum frekuensi 2,3 Ghz. Frekuensi ini masuk dalam salah satu tingkatan yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan 5G.

Sebelum memberikan SKLO kepada Telkomsel, Kominfo menguji coba 5G sebanyak 12 kali sejak 2017 hingga 2020. Ini dilakukan bersama lima operator seluler nasional.

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait