Pendapatan Bukalapak Melonjak Berkat Bisnis Warung

Bukalapak mempunyai lini bisnis O2O bernama Mitra Bukalapak. Lini bisnis ini menyasar pasar warung dan kios pulsa di Indonesia.
Image title
19 Oktober 2021, 12:28
Bukalapak
Bukalapak
Bukalapak

PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencatatkan peningkatan pendapatan hingga 34,7% pada semester-I tahun ini secara tahunan (year on year/yoy). Salah satu faktor pendorong peningkatan pendapatan berkat moncernya kinerja bisnis online to offline (O2O) Mitra Bukalapak.

Berdasarkan laporan keuangan, Bukalapak meraih pendapatan neto Rp 863,62 miliar dalam enam bulan pertama 2021. Sedangkan, sejak 2018, laju pertumbuhan majemuk tahunan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) pendapatan Bukalapak sebesar 96%.

"Ini terdorong oleh bisnis O2O," kata Direktur Utama Bukalapak Rachmat Kaimuddin dalam Public Expose 2021 PT Bukalapak.com Tbk, pada Selasa (19/10).

Bukalapak mempunyai lini bisnis O2O bernama Mitra Bukalapak. Lini bisnis ini menyasar pasar warung dan kios pulsa di Indonesia.

Mitra Bukalapak telah berkontribusi sebesar 34% terhadap pendapatan Bukalapak secara keseluruhan pada semester-I tahun ini. Mitra Bukalapak juga mencatatkan lonjakan pendapatan pada semester-I 2021 sebesar 350% yoy.

Rachmat mengatakan, untuk lini bisnis O2O-nya itu, Bukalapak gencar menggaet warung dan kios pulsa di seluruh Indonesia. Pada akhir 2020, jumlah mitra warung dan kios pulsa yang bergabung di Mitra Bukalapak sebanyak 7 juta. Kemudian, meningkat menjadi 8,7 juta pada semester-I 2021.

"Apalagi pasar warung ini masih sangat luas. Kami lihat jumlah mitra masih banyak di Pulau Jawa Sumatra. Ini tentunya masih perlu pengembangan," katanya.



Ia mengatakan, Bukalapak juga mempunyai pangsa pasar yang besar untuk digitalisasi warung. Berdasarkan survei Nielsen pada Juni 2021, total pangsa pasar Bukalapak mencapai 42%. Survei tersebut dilakukan pada 3.000 warung dan kios pulsa di 14 kota di Indonesia.

Presiden Bukalapak Teddy Oetomo mengatakan, pasar warung di Indonesia pada beberapa tahun ke depan juga akan terus tumbuh dan potensial. Riset Euromonitor International 2018 menunjukkan, mayoritas masyarakat Indonesia, India, dan Filipina lebih suka berbelanja di warung atau toko kelontong.

Perusahaan sekuritas CLSA juga mencatat, biaya akuisisi konsumen alias customer acquisition costs (CACs) melalui mitra warung sekitar 10-20% yakni US$ 2 per pelanggan atau kurang dari Rp 30.000. Biayanya lebih murah dibandingkan cara umum. "Ini ruang yang besar dan harus digarap bersama, bukan hanya Bukalapak sebenarnya," kata Teddy.

Warung memang menjadi medan perang baru para unicorn dan decacorn sejak 2019, tidak hanya Bukalapak. Saat pandemi corona, segmen ini semakin diminati. Bahkan segmen warung di Indonesia menarik perhatian orang terkaya kedua dunia Jeff Bezos yang berinvestasi di startup digitalisasi warung, Ula.

Ula mengumpulkan pendanaan seri B US$ 87 juta atau sekitar Rp 1,24 triliun, yang dipimpin oleh Prosus Ventures, Tencent, dan B-Capital. Investor lain yang berpartisipasi yakni Bezos Expeditions, perusahaan venture capital milik pendiri Amazon, Jeff Bezos.

Unicorn Tokopedia juga menyasar warung. Head of New Retail Tokopedia Karina Susilo mengatakan, perusahaan sudah menggaet jutaan warung. Namun ia tidak memerinci angka maupun target.

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait