Rupiah Stagnan saat Kasus Harian Covid-19 di Indonesia Melandai

Sentimen positif masih datang dari ekpektasi akan stimulus besar dari pemerintah AS.
Agatha Olivia Victoria
15 Februari 2021, 10:42
rupiah, kasus covid
Arief Kamaludin|KATADATA
Uang rupiah pecahan baru Rp 100.000 di Cash Centre Bank BNI 46, Jakarta, Senin (18/08).

Nilai tukar rupiah dibuka stagnan di level Rp 13.972 per dolar AS oada oasar spot pagi ini, Senin (15/2). Rupiah sempat menguat ke level Rp 13.955 per dolar AS sesaat setelah pembukaan pasar.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia menguat pagi ini. Mengutip Bloomberg, dolar Hong Kong naik 0,01%, dolar Singapura 0,14%, peso Filipina 0,26%, rupee India 0,15%, ringgit Malaysia 0,07%, dan baht Thailand 0,06%. Sementara itu, yen Jepang melemah 0,06%, diikuti dolar Taiwan 0,03%, won Korea Selatan 0,05%, serta yuan Tiongkok 0,36%.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai bahwa menurunnya laju pertumbuhan kasus harian Covid-19 di dunia, mendorong peningkatan minat pasar terhadap aset berisiko pagi ini. "Indeks saham Asia bergerak positif," ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Senin (15/2).

Melansir laman resmi Worldometers, kasus positif corona dunia untuk sementara per hari ini bertambah 5.156 menjadi 109,39 juta. Total kematian mencapai 2,1 juta dan kesembuhan 81,62 juta.

Di dalam negeri, Kementerian Kesehatan mengumumkan 6.765 kasus baru Covid-19 pada Minggu (14/2). Angka tersebut jauh lebih rendah dari hari sebelumnya yang mencapai 8.844 orang.

Meski begitu, rata-rata tingkat kasus positif (positivity rate) pada 14 Februari 2021 masih cukup tinggi hingga 27,9%. Itu lantaran jumlah tes yang cukup rendah, hanya 24.250 orang per hari.

Dengan penambahan kasus baru sebanyak 6.765 orang, total orang yang telah terinfeksi virus corona di Indonesia mencapai 1.217.468. Adapun penambahan kasus tertinggi pada kemarin berasal dari Jakarta dengan 2.496.

Selain perkembangan kasus Covid-19, sentimen positif juga datang dari ekpektasi akan stimulus besar dari pemerintah AS. Namun, pasar akan mewaspadai kenaikan tingkat imbal hasil alias yield obligasi pemerintah AS tenor jangka panjang seperti 10 tahun yang mecetak level tinggi baru tahun ini di 1,21% pada Jumat (12/2) kemarin.

Kenaikan yield tersebut, sambung dia, bisa mendorong penguatan mata uang Negeri Paman Sam. "Potensi kisaran rupiah hari ini ada di antara Rp 13.950-14.030 per dolar AS," ujarnya.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji menuturkan, proyeksi surplusnya neraca perdagangan Indonesia akan memberikan katalis positif bagi rupiah. "Surplus akan mencapai US$ 1,6 miliar hingga US$ 1,8 miliar," ujar Nafan kepada Katadata.co.id.

Badan Pusat Statistik mencatat, neraca dagang Indonesia pada 2020 mengalami surplus US$ 21,7 miliar. Surplus terjadi karena penurunan impor sebanyak 17%, jauh lebih tinggi dari ekspor yang hanya turun 2,16%.

Sementara itu, Nafan menyebutkan bahwa hari libur nasional di AS berpotensi membuat pergerakan dolar AS minim. Saat berita ini ditulis, indeks dolar AS turun 0,14% ke level 90.35. Dolar AS terlihat melemah dibandingkan dengan mayoritas mata uang utama seperti euro 0,07%, pound Inggris 0,34%, dolar Australia 0,12%, dolar Kanada 0,16%, dan franc Swiss 0,08%.

Dia memperkirakan kurs Garuda bergerak di rentang Rp 13.940-13.990 per dolar AS selama satu hari ini. "Secara teknikal, terlihat beberapa pola downward bar yang mengindikasikan adanya potensi apresiasi rupiah terhadap dolar AS," katanya.

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait